Foto Kepala Lima Sophia Latjuba dan Obsesi Kita Akan Awet Muda

Oleh: Sekar Kinasih - 19 Maret 2021
Dibaca Normal 5 menit
Banyak orang kini takut menua seiring maraknya kultus kemudaan dan "kaya di usia muda".
tirto.id - Foto yang diunggah di akun Instagram Sophia Latjuba baru-baru ini memantik diskusi di linimasa media sosial tentang pentingnya menjaga tubuh agar sehat bugar seiring pertambahan usia, atau dengan kata lain, teknik awet muda.

Banyak pihak berpendapat bahwa awet muda sangat erat hubungannya dengan gaya hidup berkualitas seperti menjaga pola makan, mengelola stres, menyeimbangkan kerja dan waktu luang. Di sisi lain, gaya hidup demikian tidak serta-merta bisa dilalui semua orang, karena diperlukan kemapanan finansial untuk menjalaninya. Di balik berbagai pandangan yang muncul, publik tampaknya semakin sadar bahwa pertambahan usia adalah berkah yang bisa dinikmati melalui kebiasaan olahraga, gizi baik, dan aktivitas yang sehat.

Poin-poin tersebut pernah diangkat tahun 2019 silam oleh situs media hiburan Refinery29 dalam seri bertajuk “Life Begins At”. Di dalamnya, mereka mengulas profil dan aktivitas perempuan di atas usia paruh baya dari berbagai latar belakang sosial dan sektor industri. Apa alasan di balik publikasi ini? “Karena hidup dalam budaya yang terobsesi dengan kemudaan itu melelahkan buat semua orang. Bertambah tua adalah privilese, alih-alih sesuatu yang menakutkan,” tulis Sarah Raphael , jurnalis pemberdayaan perempuan yang terlibat dalam proyek tersebut.

Topik awet muda tak lekang oleh waktu. Karya-karya sastra Gotik akhir abad ke-19 menggambarkannya secara dramatis. Dalam The Picture of Dorian Gray, Oscar Wilde berkisah tentang hasrat seorang pemuda agar terlihat tampan selamanya. Ia rela menukar jiwanya dengan lukisan potret diri. Alih-alih fisiknya menua, justru lukisannya yang berubah dan merekam jejak perilakunya di dunia nyata. Tak lama setelah Dorian Gray terbit, Bram Stoker merilis novel Dracula dan mempopulerkan kisah tentang makhluk yang bisa awet muda dan perkasa dengan mengonsumsi darah—kelak mengilhami berbagai roman tentang vampir termasuk franchise idola millennial, Twilight. Selain itu, tubuh dan pikiran muda yang bebas bergerak dan berekspresi menjadi pelarian kaum lansia melalui teknologi realitas virtual dalam film San Junipero (2016) dari serial fiksi ilmiah Black Mirror. Narasi populer tentang kemudaan sangat memuliakan paras belia dan tubuh bugar, yang diasosiasikan dengan kesempatan lebih luas untuk menikmati hidup dan mengeksplorasi potensi diri.

Obsesi awet muda dalam industri anti-aging

Hari ini, obsesi awet muda tercermin dari besarnya sirkulasi uang dalam pemasaran produk dan berbagai perawatan untuk mencegah penuaan atau anti-aging. Sebutlah prosedur bedah plastik untuk pengencangan kulit (facelift), tindakan non-operasi seperti suntik botoks dan filler, krim wajah, sampai perangkat elektronik yang bisa dioperasikan secara mandiri di rumah untuk mengurangi keriput wajah, memudarkan selulit, mikrodermabrasi atau mengelupas sel-sel kulit mati. Menurut laporan firma konsultan pemasaran Prescient & Strategic Intelligence, pendapatan dalam industri anti-aging di tingkat global diperkirakan akan meningkat dari sekitar USD 191 miliar pada 2019, menjadi USD 421 miliar pada 2030.

Melansir dokumen tersebut, tren ini terutama didorong oleh semakin gencarnya kampanye tentang kecanggihan teknologi anti-aging di kalangan kalangan dokter bedah plastik, mahasiswa dan khalayak umum melalui sejumlah seminar dan konferensi. Faktor lain berkaitan dengan meningkatnya populasi lansia. PBB memproyeksikan jumlah lansia di atas 65 tahun akan berlipat ganda dari 703 juta menjadi 1,5 miliar jiwa pada tahun 2050. “Angkatan usia dewasa fokus pada langkah-langkah pencegahan untuk meminimalisir tanda-tanda penuaan, sementara populasi lansia mencoba mempertahankan tampilan muda dengan produk-produk ini,” demikian isi laporan tentang ragam segmen pasar industri anti-aging.

Masih dikutip dari laporan di atas, masyarakat di kawasan Amerika Utara selama ini menyumbang pendapatan terbesar dalam pemasaran produk anti-aging, seiring besarnya jumlah prosedur kecantikan dan pertumbuhan lansia di sana. Obsesi awet muda terutama sangat kentara di Amerika Serikat. Menurut dokumen (PDF) yang dirilis American Society of Plastic Surgeons (ASPS), sepanjang tahun 2018, sebanyak USD 16,7 miliar atau lebih dari 200 triliun rupiah dihabiskan di Amerika Serikat untuk operasi bedah plastik dan prosedur ringan lain, mulai dari yang paling populer seperti pembesaran payudara, diikuti sedot lemak dan operasi kelopak mata. Kelompok usia paling banyak melakukan prosedur adalah di atas 40 tahun. Jumlahnya mencapai 12,2 juta dari total 16 jutaan tindakan. Tindakan ini dominan di kalangan perempuan—sebanyak 92 persen atau nyaris 15 juta prosedur, dibandingkan laki-laki pada kisaran 1,3 juta tindakan.

Terlepas dari itu, dalam dua dekade terakhir, tampak peningkatan persentase di kelompok bapak-bapak. Dr. Alan Matarasso dari ASPS mengungkapkan, semakin banyak laki-laki yang membutuhkan bantuan profesional agar lebih percaya diri dalam karier dan berkompetisi di tempat kerja. Salah satunya adalah Dennis, eksekutif fesyen di New York yang memasuki usia 60. “Rasanya nyaman ketika tidak merasa seperti berusia 60 tahun di dalam ruangan yang berisi orang-orang berumur 25-30 tahun,” ungkap Dennis setelah melakukan penindakan di bagian mata, pipi dan dagu. “Saya mendapatkan kepercayaan diri tak terduga dari perubahan-perubahan kecil yang saya lakukan,” imbuhnya.

Muda dan Kaya

Selama satu dasawarsa terakhir, obsesi terhadap kemudaan juga kerap dikaitkan dengan karier yang sukses. Contoh paling sederhana terlihat dari bagaimana industri media mengglorifikasi pencapaian karier mentereng pada kalangan usia 30 atau 40 tahun ke bawah. Majalah Fortune, misalnya, sejak 2012 sudah merilis daftar “40 under 40”. Isinya kebanyakan adalah pionir bisnis dan teknologi, seperti Mark Zuckenberg, Larry Page dan Sergey Brin. Sampai hari ini, mereka menerbitkan daftar tokoh-tokoh muda berpengaruh dari lima sektor industri: finansial, teknologi, kesehatan, politik, hiburan. Mayoritas menorehkan prestasi dini sebagai pendiri start-up dan CEO yang mengelola bisnis bernilai miliaran dolar.

Fortune tidak mengecualikan tokoh-tokoh yang disokong privilese bisnis keluarga, seperti si kembar Isha dan Akash Ambani, dewan komisaris Reliance Jio, perusahaan penyedia layanan internet nirkabel di India. Di samping sukses mengawasi bisnisnya, mereka juga digambarkan menjalani “kehidupan yang bikin iri: menghadiri konser pribadi dengan penampilan Beyoncé, berpesta bersama Priyanka Chopra dan Nick Jonas, tinggal di bangunan pencakar langit setinggi 27 lantai di Mumbai”. Singkatnya, status muda dan kaya belum terdengar mentereng jika tidak dibumbui publisitas tentang gaya hidup jetset.

Selain itu, masih ada “Forbes 30 under 30” yang rutin dipublikasikan setiap tahun selama satu dekade terakhir. Baru saja, Forbes edisi Amerika Utara menampilkan 600 wirausahawan, aktivis, ilmuwan sampai pekerja di industri hiburan berusia di bawah 30 tahun. Kontribusi mereka di antaranya sukses membangun bisnis di kala krisis kesehatan, berada di garis terdepan dalam berbagai riset penyakit, sampai memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menemukan pengobatan. Tokoh-tokoh perintis pilihan Forbes yang rata-rata usianya 26 tahun ini juga dielu-elukan karena menggalang lebih dari USD 1 miliar untuk pendanaan modal ventura, seolah menjadi “bukti positif bahwa ambisi dan inovasi tak bisa dikerangkeng”.

Perayaan terhadap kesuksesan kaum remaja juga pernah disorot majalah Time 2018 silam yang mengulas 25 profil remaja paling berpengaruh, di antaranya aktif mengkampanyekan literatur tentang tokoh perempuan kulit hitam, menciptakan algoritma perangkat lunak untuk mendeteksi kanker, memainkan peran inspiratif dalam industri perfilman, sampai aktivis perubahan iklim Gretta Thunberg dan penyanyi Billie Eilish.

Publikasi tentang pencapaian sebelum usia 30 atau 40 tahun dipandang penting untuk menyemangati kaum muda agar produktif dan memiliki semangat untuk bekerja keras. Namun demikian, penulis Carolyn Gregoire berpendapat bahwa sorotan tersebut bisa jadi “melanggengkan pandangan tidak sehat terhadap kemudaan dan penuaan”. Akibatnya bisa berdampak buruk terhadap cara kelompok usia di bawah 30 tahun memandang kemajuan dan pencapaian dalam hidup. Seakan-akan, kreativitas dan kemapanan hanya bisa dicapai pada batas-batas usia tertentu. Padahal, Gregoire tekankan, usia 20 sampai 30-an sepatutnya menjadi momen untuk eksplorasi, belajar dan eksperimen, karena otak masih dalam tahap perkembangan.

Menurut Gregoire, prestasi pada usia muda tidak banyak berpengaruh pada kepuasan jangka panjang. Mengutip temuan riset selama 75 tahun dari Harvard Grant Study, Gregoire menjelaskan bahwa kepuasan di kemudian hari kecil hubungannya dengan pencapaian karier seseorang. “Dalam konteks kehidupan yang utuh, kasih sayang dan relasi dengan orang lain adalah penentu kebahagiaan yang jauh lebih besar,” tulisnya.

Selain itu, Gregoire juga berkaca pada hasil riset National Bureau of Economic Research berjudul “Age and Scientific Genius” (2014, PDF). Riset tersebut mencoba menarik hubungan antara usia dan pencapaian para penemu dan ilmuwan pemenang Nobel. Hasilnya, kebanyakan tokoh melakukan gebrakan ilmiahnya pada kisaran usia 36 sampai 41 tahun. Hal ini menandakan bahwa di kalangan orang-orang cerdas, proses belajar masih berlangsung sampai memasuki akhir usia 30-an, yang tak lama kemudian diikuti dengan prestasi cemerlang.

Melawan “Anti-Aging” dengan “Positive Ageing”

Di balik derasnya pemberitaan tentang obsesi terhadap kaum muda yang sukses dan industri yang memuja teknologi anti-aging, narasi aktivitas di masa tua yang memberdayakan dan inspiratif pun mulai muncul. Salah satunya dari Suzi Grant (70), penulis buku dan penyiar, blogger dan ahli gizi asal Inggris. Melalui akun Instagram dan situs “Alternative Ageing” yang dikelola secara mandiri, sejak 2014 Grant membagikan tips-tips bersolek, tutorial video, artikel-artikel kesehatan dan resep masakan bergizi, dengan target utama kalangan usia 50 tahun ke atas. Grant menyebut berbagai langkah untuk mempromosikan gaya hidup tersebut sebagai “positive ageing—penuaan positif”, alih-alih anti-penuaan atau anti-aging.

“Ini misi saya. Setiap hari, di media sosial, orang-orang bilang bahwa saya menginspirasi mereka untuk mencoba hal baru, memakai baju dengan gaya berbeda, untuk mulai memakai sesuatu dengan warna lebih beragam atau kelabu. Saya rasa ini adalah pekerjaan paling penting di dunia sekarang,” ungkap Grant dalam wawancara pada 2019. Grant sulit menerima kenyataan ketika memasuki usia ke-50, namun dalam prosesnya ia belajar dan menyambut perayaan ulang tahun ke-70 dengan gembira. “Ingatlah betapa hidup sangat berharga dan beruntungnya kalian jika fit, sehat, dan melakukan hal-hal yang membantu sikap mental positif seperti meditasi atau jalan-jalan di pantai,” ujar Grant.

Infografik Obsesi Awet Muda
Infografik Obsesi Awet Muda. tirto.id/Quita


Pada 2017, merk lingerie Playful Promises mencoba menantang kultur obsesi muda di industri pakaian melalui kampanye Ageless Fashion” dengan melibatkan model paruh baya dan nenek buyut berusia 68 tahun. Gerakan ini diinisasi oleh sang direktur, Emma Parker, agar produk-produknya lebih inklusif, sehingga perempuan dengan karakter tubuh beragam dari berbagai kategori usia merasa nyaman untuk mengekspresikan diri dengan pakaian yang sensual ini.

Mewakili sektor media, majalah pemberdayaan perempuan yang terbit sejak 2013, Riposte, rutin meliput profil perempuan berusia di atas 50 tahun. “Penting bagi kami untuk merepresentasikan perempuan dari berbagai usia supaya mereka merasa dilihat dan didengar, di samping juga menjadi teladan bagi perempuan lebih muda; untuk menunjukkan bahwa kehidupan perempuan tidak berakhir pada usia 50—kalaupun ada perubahan, itu jadi lebih baik,” papar editor Riposte, Danielle Pender.

Baca juga artikel terkait PENUAAN atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Windu Jusuf
DarkLight