Misbar

Film Bebas di Antara Adaptasi dan Sindiran Sosial

Infografik Misbar Bebas
Poster Film Bebas. Instagram/Miles Film
Oleh: Irma Garnesia - 6 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kisah Coming of Age adaptasi Korea, rasa Indonesia
tirto.id - Apakah Anda sukses menjadi apa yang pernah Anda cita-citakan?

Tunggu, kita tidak sedang membahas cita-cita generik seperti dokter, pengusaha, atau arsitek, melainkan kehidupan yang diimpikan bertahun-tahun kemudian. Kita bicara cita-cita yang lebih sederhana dan mendasar saja. Misalnya menjadi perempuan yang bisa berdiri di atas kaki sendiri, terlibat dalam penciptaan masyarakat yang progresif, menjalani kehidupan yang tenang sebagai LGBT, atau punya kehidupan finansial yang stabil dan pasangan yang mendukung.

Tak semua orang berhasil menjalani kehidupan yang dulu mereka impikan saat remaja. Setidaknya itulah yang berusaha disampaikan film Bebas. Dalam film Mira Lesmana dan Riri Riza ini kita dipertemukan dengan Vina Panduwinata (Marsha Timothy), ibu satu anak dan istri seorang pengusaha. Ia hidup dalam rumah mewah dengan asisten rumah tangga yang menyiapkan segala keperluan keluarga.

Hanya saja, sorot mata Vina saat menyeruput teh di hadapan suaminya terlihat mengganggu. Ia bukannya tak bahagia. Ia hanya seringkali kikuk dan tidak tahu harus berbuat apa ketika sang suami tidak menghabiskan selembar roti yang disiapkan. Atau ketika anak perempuannya yang ABG mulai membangkang: ogah sarapan dan ingin cepat-cepat kabur ke sekolah. Vina juga tak mampu mencegah ketika suaminya terlalu sibuk untuk ikut menjenguk ibu mertua di rumah sakit dan hanya mampu mengingatkan agar sang anak tidak lupa menelepon neneknya.


Setelah suami dan anaknya pergi, Vina bermenung dan memutuskan untuk menjenguk ibunya di rumah sakit. Saat itu pula ia tidak sengaja menemukan kawan lamanya yang ternyata dirawat di kamar sebelah.

Kita bertemu tokoh kedua, Krisdayanti (Susan Bachtiar) yang terlihat ringkih karena penyakit yang dideritanya. Ia divonis hanya memiliki sisa hidup dua bulan lagi. Saat itu, terucaplah keinginan Kris agar Vina mengumpulkan anggota geng mereka ketika SMA. Dari sana, Vina pun menjalani misi untuk melacak kawan-kawan lamanya dan mengumpulkan mereka semua demi Kris.

Dalam misi itu, Vina mengunjungi masa lalunya dan bertemu dengan Jessica (Indy Barends), Jojo (Baim Wong), dan Gina (Widi Mulia). Ternyata, tak semua temannya hidup sesuai cita-cita remaja mereka. Jessica keteteran mencapai target bulanan sebagai agen asuransi, Jojo menjalani hidup yang sudah diatur bapaknya: mengelola perusahaan keluarga dan kembali mencari pendamping setelah pernikahan pertamanya gagal. Gina yang harus kerja serabutan dan tinggal di gang sempit karena jatuh miskin.

Dalam penemuan itu pula Vina mendapat ilham dan ingin melakukan hal-hal yang tak sempat ia lakukan 23 tahun lalu.

Adaptasi ala Indonesia

Film Bebas adalah adaptasi drama komedi Korea Selatan berjudul Sunny (2011). Sebelumnya, film ini juga di-remake ke dalam versi Jepang (Sunny: Strong Mind Strong Love , 2018) dan Vietnam (Go Go Sisters, 2018). Remake versi Hollywood sendiri telah dikerjakan sejak 2016.

CJ Entertainment sebagai distributor Sunny telah menawarkan Mira Lesmana mengadaptasi Sunny setelah menonton Ada Apa dengan Cinta? (2001) dan sekuelnya. Awalnya Mira tidak begitu tertarik karena AADC menurutnya sudah mirip Sunny. Ia juga mengaku tidak ingin membuat film sejenis lagi. Namun Mira berubah pikiran setelah menonton Sunny. Mira juga menuturkan bahwa CJ Entertainment membebaskannya melakukan penyesuaian agar Sunny jadi lebih Indonesia.

Bagi saya, tidak perlu membandingkan film Bebas dengan pendahulunya, sebab Bebas memang diadaptasi dengan cita rasa Indonesia. Mulai dari segi latar, humor ala Sunda, obrolan ala anak gaul SMA di Jakarta, hobi tawuran pelajar, bullying, minta lagu di radio, hingga lagu-lagu 1990-an yang membuat Bebas sekadar meminjam konsep cerita Sunny. Selebihnya, ia adalah kisah coming of age dengan komentar sosial tentang Indonesia hari ini.

Bebas mengambil latar tahun 1995-1996, beberapa tahun sebelum reformasi, persis ketika era Orde Baru memasuki injury time dan diktator Soeharto menjadi musuh semua orang. Koran-koran digambarkan mulai berani menampilkan kritik. Aksi-aksi protes yang digerakkan buruh dan mahasiswa semakin meluas. Dengan konteks ini pula Bebas melukiskan kehidupan keluarga yang sedikit banyak terpengaruh oleh pergolakan di akar rumput itu. Kakak Vina adalah seorang mahasiswa yang membenci pemerintah korup dan melarang adiknya menggunakan “produk kapitalis”, di saat ayah mereka bekerja untuk pemerintah.


Penggambaran latar ini tidak sekadar tempelan. Bebas menyisipkan kritik pada mahasiswa yang dulunya turun ke jalan, akan tetapi akhirnya korup dan oportunis setelah punya jabatan—dalam hal ini adalah kakak Vina yang lupa asal dan daratan.

Bebas juga mengangkat isu gender, pelecehan seksual, dan posisi perempuan dalam keluarga. Ada tokoh Jojo dewasa tak leluasa mengekspresikan identitas seksualnya, ada guru yang menyalahkan anak Vina ketika sang putri menceritakan pelecehan seksual yang dialaminya, hingga Vina yang akhirnya menolak menjalani peran domestik sebagai istri dan ibu.



Sindiran-sindiran seputar isu perempuan ini mengingatkan saya akan tema-tema yang biasa digarap Gina S. Noer. Dan rupanya memang Gina yang menulis naskah Bebas. Gina mampu menyampaikan sindiran dengan santai, namun tetap sasaran. Baru-baru ini ia juga sukses menyutradarai Dua Garis Biru (2019), sebuah film yang sempat menuai kontroversi—dituduh mempromosikan seks ekstra-marital oleh kelompok-kelompok sayap kanan—namun sukses membicarakan isu seksualitas remaja yang tak pernah dibahas secara gamblang di sekolah.

Gina juga menyampaikan sindiran yang sama dari Dua Garis Biru, yaitu ketika pihak sekolah mengeluarkan seluruh anggota Geng Bebas dari sekolah akibat kejadian yang menimpa Suci. Dalam Dua Garis Biru, pihak sekolah menerapkan standar ganda: mengeluarkan Dara dan mempertahankan Bima, pria yang menghamili Dara.

Padahal, dalam konflik geng Bebas, baik Suci maupun Vina adalah korban dari siswa alkoholik yang kerap melecehkan mereka. Siswa itu justru tidak mendapat sanksi apa-apa dari pihak sekolah.

Isu sosial beserta treatment bijak itulah yang membuat Bebas relevan ditonton, tak hanya untuk hari ini tapi juga pada masa-masa mendatang.

Baca juga artikel terkait RESENSI FILM atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight