Misbar

Twivortiare: Ribut Abadi dalam Pernikahan Berjilid-jilid Kaum Sugih

Infografik Misbar Twivortiare
Film Twivortiare. Instagram/twivortiarefilm/MD Pictures
Oleh: Irma Garnesia - 8 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Pernikahan itu fana. Ribut abadi.
tirto.id - “Ngomong sama ribut itu beda. Kita itu udah saling nyakitin hampir setiap hari.”

“Mau kamu apa?”

“Aku mau cerai!”

Dialog semacam itu bukanlah versi dewasa dari lirik OST Bukan Bintang Biasa (2007) berjudul “Putus Nyambung” tapi dari Twivortiare, film terbaru Benni Setiawan yang diadaptasi dari novel laris karangan Ika Natassa. Novel Twivortiare sendiri merupakan buku kedua dari seri Divortiare (2008) dan lanjutannya Twivortiare 2 (2014).

Kisahnya sederhana saja: dokter bernama Beno (Reza Rahardian) sudah menikah dengan Alexandra (Raihaanun) selama dua tahun dan gagal menjadi pasangan yang baik karena terus bertengkar.


Alex merupakan seorang bankir yang hobi menghabiskan waktu di Twitter, mencuit seputar kehidupan pribadi, termasuk hal-hal privat yang dilakukan dengan suaminya. Bahkan, sehabis minta cerai dari Beno, Alex malah ngetwit. Sementara Beno adalah kebalikannya. Ia tidak ekspresif dan kaku, juga tidak suka menghabiskan waktu di jagad maya. Sebagai dokter, ia lebih sering menyibukkan diri di rumah sakit dan membaca buku di akhir pekan.

Meski akhirnya pisah, Wina (Anggika Bolster), sahabat Alex, menyebut perceraian mereka tidak serius. Ibu Alex (Lidya Kandau) juga menyindir sang anak. “Kalian ini nikah main-main, cerai main-main.”

Masalahnya Cuma Komunikasi

Karakter-karakter dalam semesta fiksi Ika (berikut filmnya) mulai dari A Very Yuppy Wedding, Critical Eleven, Antologi Rasa, hingga The Architecture of Love adalah sekelompok masyarakat perkotaan yang tajir tapi gamang.

Di Antologi Rasa, misalnya, cerita berpusat pada empat orang sahabat. Ada Haris, Keara, Ruly, dan juga Denise. Mereka bekerja sebagai bankir yang sehari-hari meeting bersama bos atau klien, makan siang di restoran elite, menghabiskan malam dengan clubbing, hingga sesekali pelesir ke luar negeri untuk melepas penat.

Alexandra dan Beno dalam Twivortiare juga bebas melakukan apapun yang mereka mau. Mau nikah, cerai, lalu menikah lagi, tidak jadi soal. Bahkan jika pasangan itu ribut, Alex bisa kabur dari rumah dan menginap di apartemen mewahnya (alih-alih ke rumah ortu atau teman). Mereka adalah orang-orang yang punya banyak pilihan.

Tapi itu semua status dan konsumsi itu membuat mereka sekadar … kesulitan berkomunikasi. Kurang lebih itulah intisari dari film berdurasi 103 menit ini sekaligus jadi satu-satunya konflik yang dipanjang-panjangkan.



Alex dan Beno adalah tipikal pasangan yang saling bertanya “Hai, mau makan apa malam ini?” sampai mati. Bedanya, isi pertanyaan Alex dan Beno adalah seputar cerai atau rujuk. Saya yakin jika The Architecture of Love diangkat ke layar lebar, persoalannya akan berputar-putar di isu ‘kurang komunikasi’ sebagaimana yang telah ditunjukkan novel setebal 304 halaman itu.

Maka, ketika Alex dan Beno kembali menikah, film ini tak menarik lagi karena masih menyuguhkan konflik yang sama: yakni perkara Keributan Abadi Alex dan Beno.

Sebetulnya ada banyak hal yang bisa digarap tentang dunia kerja kaum elite. Misalnya dokter yang dulu masuk kuliah dengan suap dan akhirnya jadi dokter brengsek setelah lulus. Bisa juga bankir maling, CEO dekaden, atau manajer plinplan. Kisah cinta mereka akan sangat menarik dibahas tanpa pretensi moral. Situasi “kurang komunikasi” yang dialami orang-orang ini tentu juga berbeda.


Sayang, problem komunikasi bukan jadi satu-satunya sumber kekacauan dalam kisah percintaan di Twivortiare, tapi juga eksekusi sepanjang film.

Paling kentara adalah alur yang terburu-buru, sehingga cerita terasa padat. Mulai dari obrolan dengan sahabat yang selalu membahas Beno, tidak sengaja bertemu mantan mertua, batal jual rumah, hingga pertemuan dengan Beno di rumah orang tua Alex. Selebihnya adalah siklus pertengkaran di pernikahan Jilid I dan II.

Twivortiare berusaha dengan cepat mengeksekusi kehidupan Alex tanpa Beno. Penggambaran karakter Denny (Denny Sumargo) misalnya, sebagai pacar Alex setelah Beno, juga sekadar tempelan yang tak diberi ruang untuk berkembang. Ia hanya hadir untuk mendorong penonton berpikir bahwa Alex dan Beno ditakdirkan bersama, misalnya dalam adegan bertemu mantan mertua Beno, ketika Denny tidak dianggap oleh ibu Alex, dan adegan di mobil ketika Alex keceplosan menyapa Denny dengan panggilan “Ben”.

Untung saja tak terdengar rencana sekuel dari fim ini (atau sudah?). Jika ada, ceritanya mungkin tak jauh-jauh dari romansa Doel dan Sarah yang dipanjang-panjangkan entah sampai kapan. Dus, jadilah Si Doel dan Si Doel the Movie 2 versi orang sugih.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight