Menuju konten utama
Piala Dunia 2018

England DNA: Akankah Inggris Menjadi Lelucon di Piala Dunia 2018?

Timnas Inggris mencoba optimis menghadapi Piala Dunia 2018 berkat "England DNA". Apa-apan lagi ini?

England DNA: Akankah Inggris Menjadi Lelucon di Piala Dunia 2018?
Pemain timnas Inggris Eric Dier (kiri), Kyle Walker (tengah) dan Harry Kane (kanan) dalam pertandingan persahabatan melawan Nigeria di Wembley Stadium, London (2/6/18). AP Photo/Matt Dunham

tirto.id - Sao Paulo, Brasil, 19 Juni 2014. Edinson Cavani mengirimkan umpan silang ke depan gawang Inggris yang dijaga Joe Hart. Phil Jagielka, bek Inggris, mencoba menghalau, tapi umpan tersebut terlalu tinggi dan malah mengarah tepat ke kepala Luis Suarez. Mantan pemain Liverpool itu kemudian menanduknya, membuat Joe Hart kaget, dan membawa Uruguay unggul 1-0 untuk sementara.

Pada babak kedua, tepatnya pada menit ke-85, setelah sempat menyamakan kedudukan melalui Wayne Rooney, Inggris harus kembali tertunduk. Menerima umpan tandukan kepala dari Edinson Cavani yang menang duel udara atas Steven Gerrard, Suarez lolos dari jebakan offside. Ia kemudian membidik sudut kanan gawang Joe Hart dengan kaki kanannya. Joe Hart terkecoh, Uruguay kembali unggul. Kali ini, skor tidak berubah hingga pertandingan bubar.

Timnas Inggris memang tidak pernah mengecewakan pendukungnya. Dalam gelaran Piala Dunia 2014 itu, mereka bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengecewakan. Pertandingan melawan Uruguay tersebut merupakan pertandingan kedua mereka di Piala Dunia 2014 dan saat itulah vonis kegagalan Inggris diketuk: mereka harus angkat koper dari Piala Dunia 2014.

Pada akhirnya, bergabung bersama Italia, Kosta Rika, dan Uruguay di Grup D, Inggris hanya mengantongi satu angka dan harus rela mendekam di posisi juru kunci. Satu-satunya angka Inggris di Piala Dunia 2014 diperoleh setelah menahan imbang Kosta Rika 0-0 dalam pertandingan yang sudah tidak lagi menentukan.

Kegagalan itu kemudian menimbulkan berbagai macam reaksi – dan sebagian besar adalah reaksi yang tidak mengenakkan. Jason Burt, penulis di The Telegraph, menyebut bahwa “kekalahan itu traumatis; itu memalukan”.

Dilansir dari BBC, Nick Phillips, salah satu penggemar Inggris yang datang ke Brasil, juga mengatakan, “Saya selalu berpikir bahwa kami (Inggris) akan menang (Piala Dunia), saya berpikir bahwa kami akan menjadi lebih baik daripada apa yang bisa kami lakukan dan selalu berakhir dengan kekecewaan.”

Sementara itu, Jacob Steinberg, salah satu penulis di The Guardian, memilih menanggapi kegagalan Inggris tersebut secara jenaka: “ Inggris seharusnya membangun cerita heroik saat menahan imbang Kosta Rika 0-0. Sebuah penampilan yang bagus.”

Setelah memenangi Piala Dunia 1966, Inggris memang selalu gagal mengulangi prestasi tersebut sampai sekarang. Prestasi terbaik mereka sendiri terjadi pada Piala Dunia tahun 1990 lalu, saat mereka berhasil menjadi juara keempat di Italia. Selebihnya mereka hanya menjadi pelengkap – kalau tidak boleh disebut sebagai lelucon.

Dan kejadian di Brasil itu, seperti apa yang dikatan Jason Burt, memang sangat memalukan. Bahkan, tidak hanya setelah memenangi Piala Dunia 1966, kegagalan Inggris pada Piala Dunia 2014 merupakan yang terburuk sejak kegagalan di Piala Dunia 1958.

Optimis Menjelang Piala Dunia 2018

Inggris lolos ke Piala Dunia 2018 nyaris tanpa hambatan. Pada babak kualifikasi, bergabung bersama Slovakia, Skotlandia, Slovenia, Lithuania, dan Malta di Grup H, Inggris berhasil menjadi juara grup dengan menghasilkan 26 angka. Dalam 10 pertandingan, mereka tak pernah kalah, hanya bermain imbang 2 kali, dan meraih 8 kali kemenangan.

Penampilan Inggris pada babak kualifiasi tersebut membuat tim yang dilatih Gareth Southgate tersebut diharapkan mampu berbuat banyak di Rusia, tempat digelarnya Piala Dunia 2018, nanti. Terlebih Southgate banyak melibatkan pemain muda, seperti Marcus Rashford, Jesse Lingard, hingga Trent Alexander-Arnold.

Pemain-pemain muda ini memang belum banyak memiliki jam terbang bersama timnas, membuat skuat timnas Inggris dalam gelaran Piala Dunia 2018 tersebut memiliki rata-rata jumlah penampilan paling sedikit dalam enam turnamen besar terakhir yang diikuti Inggris. Namun, skuat Inggris ini diyakin mampu menerjemahkan filosofi baru sepakbola Inggris, “England DNA”, yang dirancang pada 2014 lalu. Selain itu, mereka juga benar-benar pemain-pemain yang sangat berbakat.

Menurut penjelasan FA, prinsip dasar “England DNA” sendiri seperti ini: Inggris akan melakukan build-up serangan dengan mengandalkan penguasaan bola, tetapi juga menyadari pentingnya transisi dan penempatan posisi. Selain itu, tim juga dianjurkan bisa beradaptasi terhadap tim lawan dan mampu bermain fleksibel.

Di level junior, filosofi permainan Inggris tersebut bisa dibilang sukses. Pada 2017 lalu, timnas Inggris U-19 berhasil meraih Piala Eropa. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, timnas Inggris U-20 juga berhasil menjadi juara dunia.

Degan bantuan “England DNA”, Matt Crocker -- salah satu pelatih pendamping Southgate di Rusia nanti -- yakin bahwa Inggris bisa tampil menjanjikan di Piala Dunia 2018. Ia mengatakan, “Saya benar-benar berpikir bahwa skuat ini (skuat Inggris di Piala Dunia 2018) lebih terhubung daripada sebelumnya.”

Jonathan Wilson, penulis taktik sepakbola asal Inggris, juga percaya bahwa timnas Inggris di Piala Dunia 2018 ini benar-benar bisa diharapkan – setidaknya untuk membuat kejutan. Dalam tulisannya di Sport Illustrated yang berjudul “World Cup Power Rankings: How the 2018 Field of 32 Nations Stacks Up”, ia menempatkan Inggris di posisi sembilan. Ia memprediksi “Harry Kane dan generasi berbakat yang dimiliki Inggris bisa menawarkan beberapa harapan”.

infografik sehabis inggris juara piala dunia

Inggris selalu menjadi “Inggris”

Dalam wawancara dengan Football Paradise, menyoal pemikiran orang Inggris tentang sepakbola, Jonathan Wilson pernah mengatakan, “Sepakbola Inggris adalah permainan kelas pekerja. Etos yang berlaku di sana merupakan etos pabrik. Orang-orang yang bekerja di tambang, orang-orang yang bekerja di galangan kapal, dan orang-orang yang bekerja di pabrik tekstil.”

“Tidak ada tempat untuk mengulur waktu, tidak ada tempat untuk tempat untuk berpikir, tidak ada tempat untuk ide-ide cemerlang. Anda hanya melakukan perkerjaan Anda, terus-menerus, lagi dan lagi – dan jika Anda bekerja sekeras mungkin, orang-orang akan menghormati Anda. Itulah etos yang mengatur sepakbola Inggris.”

Reputasi Jonathan Wilson menyoal sejarah dan perkembangan sepakbola cukup meyakinkan. Namun, saat ia mengatakan seperti itu, bahwa singkatnya sepakbola Inggris tidak pernah belajar, pendapatnya masih bisa dipersoalkan. Namun, ada bukti lain yang tak kalah kuat dari George Mikes, jurnalis Inggris yang lahir di Hongaria. Malahan ia mengamatinya dari kehidupan sosial orang-orang Inggris.

Dalam buku berjudul How to be An Alien yang pertama kali terbit pada 1946 lalu, dalam bab berjudul “How Not to be Clever”, Mikes secara jenaka menjelaskan bahwa orang-orang Inggris benci dengan kepintaran. Menurutnya, saat orang-orang Inggris mengatakan “clever” kepada seseorang, bukan berarti orang itu benar-benar pintar. Malahan ada kemungkinan orang-orang Inggris menganggap seseorang tersebut bukan orang dari Britania Raya (Inggris, Wales, atau Skotlandia).

Kecenderungan sepakbola Inggris untuk berbuat seperti itu masih dapat dilihat sampai sekarang. Daripada mengakui kehebatan lawan untuk memperbaiki cara bermain, mereka justru sering mencari alasan di balik kegagalan yang mereka alami.

Saat gagal dalam gelaran Piala Dunia 1998, David Beckham menjadi musuh publik karena menerima kartu merah saat menghadapi Argentina. Satu dekade setelahnya, tepatnya dalam gelaran Piala Dunia 2006, Cristiano Ronaldo mengalami nasib yang tak jauh berbeda dari Beckham hanya karena kedipan mata, tak lama setelah Rooney diusir dari lapangan.

Sepakbola Inggris yang sekarang mungkin sudah mulai berubah. “England DNA” bisa menjadi satu petunjuk bahwa mereka mulai bersedia untuk belajar. Selain itu, mereka juga memiliki pemain-pemain muda yang bisa agak sedikit bisa dipercaya. Jadi, saat mereka optimis di Piala Dunia 2018 nanti, itu tergolong masuk akal.

Namun Piala Dunia adalah permainan “dewa-dewa sepakbola”. Generasi emas Hongaria tahun 1954, generasi emas Belanda tahun 1974, dan para penari hebat lapangan hijau dari Brasil tahun 1982 pun hanya mampu meninggalkan cerita-cerita manis tanpa sedikit pun menyentuh tropi. Generasi berbakat Jerman bahkan membutuhkan tiga edisi Piala Dunia untuk meraih gelar Piala Dunia 2014. Itu artinya, tim yang berhasil menang haruslah benar-benar hebat.

Inggris yang sekarang belum benar-benar hebat. Selain itu, dan ini yang paling penting, timnas Inggris akan selalu menjadi timnas Inggris: mereka senang menjadi lelucon, karib mereka adalah kegagalan.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan lainnya dari Eddward S Kennedy

tirto.id - Olahraga
Penulis: Eddward S Kennedy
Editor: Zen RS