Emak-Emak Seluruh Dunia: Bersatulah Lawan Ekstremis!

Oleh: M Faisal - 14 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Posisi perempuan penting dalam upaya memerangi paham-paham ekstremis. Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan terhubung dengan lebih banyak orang.
tirto.id - Hannane, dalam film dokumenter besutan Rose Rogers berjudul Casablanca Calling (2014) digambarkan tengah menyusuri sebuah pasar di Casablanca. Ketika sedang melihat-lihat kalung di toko perhiasan, sang pemilik toko menghampirinya dan berkata, “Anak perempuan seperti bom waktu yang siap untuk meledak dan merusak reputasi keluarga. Solusinya untuk menghilangkan bom ini adalah menikahkan anak perempuan Anda secepat mungkin.”

Mendengar kalimat itu, Hannane langsung mengalihkan perhatiannya. Ia lalu menjawab dengan tegas bahwa Islam tidak menganjurkan pernikahan anak dan perempuan pada hakikatnya dapat memainkan peran penting di luar rumah.

Perempuan di Maroko menjadi salah satu agen utama dalam menangkal penyebaran radikalisme. Munculnya perempuan sebagai salah satu agen penangkal radikalisme tak bisa dilepaskan dari situasi dalam negeri Maroko sendiri.

Pada Mei 2003, Maroko diguncang serangkaian bom bunuh diri yang dilakukan oleh Moroccan Islamic Combatant Group. Sebanyak 45 korban tewas di kota Casablanca. Guardian mencatat bahwa sejak 2012 sekitar 1.600 warga Maroko diyakini telah bergabung dengan ISIS dan kelompok ekstremis lainnya. Dari jumlah tersebut muncul orang-orang yang kelak menjadi aktor pemboman di berbagai tempat di Eropa, mulai dari Paris (2015) hingga Barcelona (2017).

Guna mengatasi persoalan terorisme, pemerintah Maroko menempuh sejumlah langkah seperti membuat undang-undang anti-terorisme serta meluncurkan Bureau Central d'Investigation Judiciaire (BCJI). Namun, karena dua langkah tersebut dipandang belum cukup, pemerintah menggunakan jalur edukasi via sekolah bernama L’Institut Mohammed VI Pour La Formation Des Imams, Morchidines, et Morchidates.

L’Institut Mohammed VI berlokasi di ibukota Maroko, Rabat. Sekolah ini didirikan 2006 serta menjadi tempat pengajaran Islam moderat. Yang membuat L’Institut Mohammed VI berbeda adalah mereka menonjolkan peran perempuan dalam kegiatan-kegiatannya.


“Saya akan terus terang: para ilmuwan perempuan di sini lebih penting daripada pria,” jelas Direktur Program L’Institut Mohammed VI, Abdelslam El-Azaar kepada The Atlantic.

Menurut El-Azaar, posisi perempuan penting. Dibandingkan dengan laki-laki, mereka terhubung dengan lebih banyak orang.

“Perempuan adalah pendidik utama anak-anak mereka. Jadi, wajar bagi mereka untuk memberikan nasehat,” katanya. “Kami memberi mereka pendidikan sehingga mereka mampu menyampaikannya secara ilmiah.”

Berangkat dari alasan tersebut, para perempuan di L’Institut Mohammed VI menjadi garda terdepan dalam menjalankan program morchidat (pemimpin agama perempuan). Program morchidat merupakan program yang mengirim lulusan L’Institut Mohammed VI ke kantong-kantong wilayah rekrutmen ekstremis.

Selain bertujuan untuk memerangi penyebaran paham ekstremis dan mendorong Islam yang lebih toleran, program ini didesain untuk memperbaiki posisi perempuan di masyarakat Maroko. Program morchidat dapat dilakukan di jalanan, masjid, rumah sakit, hingga dalam ruang-ruang yang lebih privat.

Dalam “Moroccan Foreign Fighters Evolution of the Phenomenon, Promotive Factors, and the Limits of Hardline Policies” (2015), Mohammed Masbah menjelaskan bahwa orang-orang yang bergabung ke ISIS dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya berusia di bawah 25 tahun. Tiga perempatnya hidup di bawah garis kemiskinan di daerah kumuh kota-kota besar macam seperti Casablanca, Tangier, hingga Salé.

Menurut Masdah, tingginya pengangguran, kemiskinan, serta tekanan untuk memperoleh pekerjaan di luar bisnis narkoba memicu para pemuda bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremis. Keanggotaan mereka di kelompok-kelompok ini dipandang sebagai pilihan untuk lari dari kenyataan sosial.

Meletakkan perempuan di garda terdepan program morchidat dipandang tak biasa, mengingat dakwah di Maroko dianggap pekerjaan laki-laki. Akan tetapi, El-Azaar menegaskan bahwa lulusan perempuan dianggap lebih berpengaruh.


Salah seorang morchidat bernama Zineb Hidra menjelaskan bahwa pekerjaan ini awalnya sulit. Ketidakpercayaan serta perlawanan dari masyarakat jadi penghalang utama yang sehari-hari harus ia hadapi. Hidra yang kini bekerja di Departemen Urusan Islam mengatakan dirinya butuh kesabaran untuk memperoleh kepercayaan dari masyarakat.

Kesabaran Hidra membuahkan hasil. Ia membimbing enam pemuda yang pernah terpapar ideologi ekstremis. Selama enam bulan berturut-turut, Hidra menemani mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Berdasarkan pengakuannya, enam pemuda tersebut sekarang telah memiliki pekerjaan.

Sementara Fatha El-Phammouti, lulusan L’Institut Mohammed VI 2017, mengatakan pengalaman menjadi morchidat turut mengubah caranya memandang dirinya sendiri.

“Dulu, saya pikir pria lebih unggul dari perempuan,” katanya. “Sekarang […] kita punya banyak otonomi yang dapat memberi dampak besar kepada masyarakat, bahkan lebih dari sekedar laki-laki karena kita dapat berbicara kepada kaum muda dan menjelaskan bagaimana Islam yang benar.”

Dina Temple-Raston dalam “The Female Quran Experts Fighting Radical Islam in Marocco” yang dipublikasikan The Atlantic menjelaskan, persaingan masuk L’Institut Mohammed VI begitu ketat. Dari keseluruhan pelamar, baik dari jalur dalam negeri maupun luar negeri, hanya 10 persen yang diterima. Seluruh biaya sekolah ditanggung pemerintah Maroko.

infografik morchidat maroko


Tiap tahun, L’Institut Mohammed VI menerima 250 mahasiswa. Setengah di antaranya adalah perempuan. Dalam kegiatan belajar-mengajar, perempuan dan laki-laki tidak dipisah. Mereka ditempatkan di aula besar yang sama. Untuk mahasiswa asli Maroko, catat Wall Street Magazine, menjalani proses belajar 12 bulan dan 30 jam dalam seminggu. Sedangkan mahasiswa luar negeri ditempatkan dalam program berdurasi dua atau tiga tahun, tergantung kemampuan bahasa Arab mereka. Selain mempelajari Islam, mahasiswa juga menggeluti sosiologi, hukum, psikologi, hingga bahasa.

Morchidat adalah eksperimen langka di dunia Muslim,” terang produser film Maroko Merieme Addou kepada Reuters. “Ini pertama kalinya di negara Muslim peran agama telah diberikan kepada seorang perempuan [...] Banyak yang berpikir bahwa Islam menindas perempuan dan membatasi kebebasan mereka, tapi hal itu muncul karena tradisi yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Laki-laki dan perempuan setara dalam agama Islam. Tidak ada perbedaan.”

Peran Wina

Di Wina, Austria, peran perempuan menghalau ekstremisme diselenggarakan di bawah naungan SAVE (Sisters Against Violent Extremism). SAVE didirikan pada 2008 dan menjadi bagian dari Women Without Borders, LSM berbasis penelitian internasional yang mendorong perempuan sebagai agen perubahan. Dalam laman resminya, SAVE mengklaim dirinya sebagai platform kontra-terorisme perempuan pertama di dunia.”

Pembentukan SAVE ditujukan untuk memobilisasi dan mempromosikan peran perempuan dalam diplomasi alternatif untuk keamanan, meningkatkan kesadaran akan potensi perempuan dalam upaya perdamaian, serta menegaskan sikap bahwa masyarakat sipil dapat menjadi garis pertahanan pertama melawan ideologi ekstremis.


Untuk mewujudkan visi-misi di atas, pada 2013, SAVE meluncurkan Mothers School. Sekolah non-formal tersebut didirikan untuk memberdayakan perempuan dalam melindungi keluarga dari ancaman kekerasan ekstremis. Kurikulum Mothers School menawarkan pelatihan kepada perempuan terkait keterampilan, komunikasi, dan cara-cara mengasuh anak sehingga nantinya mereka tanggap jika menyaksikan gelagat ekstremis dalam lingkungan terdekat mereka. Mothers School telah mencetak lebih dari 1.500 lulusan dan sudah dilaksanakan di Pakistan, India, hingga Indonesia.

Edit Schlaffer dan Ulrich Kropiunigg dalam “Mothers Against Terror” yang dipublikasikan Journal of European Security and Defense Issues pada 2015 menjelaskan bahwa perempuan (ibu) memiliki potensi yang besar dalam melawan ekstremisme. Namun, mereka memerlukan dukungan khusus agar potensi itu jadi nyata.

Menurut Schlaffer dan Kropiunigg, posisi para ibu lebih penting daripada otoritas lokal. Sebab, ibu dapat memahami dan mengatasi gejala-gejala psikologis yang rawan diartikulasikan menjadi praktik-praktik kekerasan berbau agama, misalnya kemarahan, ketidakpercayaan diri, rasa ingin diperhatikan, hingga tidak adanya tujuan dalam hidup. Dengan kata lain, mereka bisa memasuki ruang-ruang yang berada di luar jangkauan pemerintah.

“Kita sebagai ibu sangat dekat dengan anak-anak. Kita harus membimbing mereka,” jelas Schlaffer seperti dilansir TIME. “Ibu akan membuat dunia ini aman bagi kita semua.”

Baca juga artikel terkait TEROR ISIS atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Politik)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Windu Jusuf