Ekonomi Tumbuh, Diabetes Pun Mengintai

Oleh: Alexander Haryanto - 11 Januari 2017
Dibaca Normal 4 menit
Hati-hati jika Anda semakin makmur. Punya banyak uang memungkinkan pola makan tak terkontrol yang ujungnya bisa memicu diabetes. Biaya penanggulangannya pun tak kecil. Uang penderita diabetes dan uang negara terkuras untuk biaya pengobatan.
tirto.id - Jam kerja yang panjang serta gaya hidup yang tidak sehat di beberapa kota di India seperti New Delhi, Mumbai, Chennai, Kolkata, dan masih banyak kota India lainnya telah menyebabkan masalah kesehatan yang mengkhawatirkan, salah satunya diabetes.

Para dokter di berbagai di kota itu juga telah mendengar cerita yang sama dari berbagai pasien diabetes yang mengeluh bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk berolahraga, pergi berbelanja dan memasak makanan yang sehat. Akibatnya, mereka selalu mengonsumsi makanan cepat saji seperti burger dan pizza.

Penyebab lainnya adalah melesatnya pertumbuhan ekonomi di India. Sejak kebijakan reformasi pasar bebas yang dilakukan Perdana Menteri P.V Narasimha Rao pada 1991, perekonomian di negara itu mengalami perkembangan pesat dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 8 persen selama beberapa tahun terakhir. PDB negara itu juga berkembang empat kali lipat selama lebih dari dua dekade. Namun, hal ini menimbulkan persoalan baru: gaya hidup yang tidak sehat serta pola makan yang tak terkontrol yang memicu diabetes.

Menurut laporan Deutsche Welle, pada 2011 penderita diabetes di India telah mencapai lebih dari 50 juta orang dan angka ini diperkirakan akan meningkat sebanyak 150 persen dalam 20 tahun ke depan. Para ahli juga khawatir diabetes akan menjadi bencana bagi pembangunan ekonomi di negara berkembang itu.

Menurut perkiraan Bank Dunia, India setidaknya telah kehilangan lebih dari $23 miliar per tahun untuk penyakit diabetes dan jantung koroner. Jika penyakit ini tak ada, pertumbuhan ekonomi di negara itu bisa meningkat hingga 4 persen per tahun.

Dr. K.K Aggarwal, presiden dari Heart Care Foundation of Indian Medical Association yang telah banyak menerima penghargaan untuk penelitian diabetes merasa khawatir. "Jika [diabetes] terus menyebar, kita [India] akan memiliki orang-orang yang paling buta di dunia,” katanya seperti dikutip DW.

Hermann von Lilienfeld, wakil direktur German Diabetic Union, juga mengatakan bahwa penyakit yang bisa merusak pengelihatan dan amputasi anggota tubuh ini seringkali disertai hilangnya martabat orang-orang di India. Kerap pasien merasa bahwa mereka kehilangan semua harapan dan kemerdekaannya.

Sadar risiko ini, Pemerintah India pun mengumumkan akan meningkatkan anggaran kesehatan dari 1 persen menjadi 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2012. Para ahli juga mengatakan bahwa diabetes terkadang bisa lebih buruk dari perubahan iklim.

Selain India, negara yang memiliki persoalan yang sama adalah Cina. Negara itu telah menjadi tuan rumah bagi seperempat penderita diabetes di dunia. Menurut laporan Macau Daily Times, pada 2014 hampir 12 persen dari 100 juta orang di negara itu mengidap diabetes. Sementara menurut The Lancet Diabetes & Endocrinology, lebih dari 600 juta orang di Cina menderita pra-diabetes: kondisi yang menunjukkan kadar gula darah yang dapat memicu diabetes tipe 2 jika tak segera diobati.

Penulis studi dari Lancet mengatakan, salah satu penyebab orang-orang di Cina rentan mengalami diabetes tipe 2 adalah faktor biologis genetik. Sistem kesehatan di negara itu tengah berjuang untuk menyediakan akses terjangkau untuk ratusan juta penduduk pedesaan yang tidak diasuransikan.

Penyakit ini bisa menghabiskan lebih dari setengah pengeluaran kesehatan di Cina jika semua pasien rutin menerima perawatan yang didanai negara.

Para pejabat kesehatan di negara itu mengatakan bahwa orang Cina memang gampang terserang diabetes karena rata-rata Body Mass Index (BMI) pasien diabetes yang baru didiagnosis di Cina mencapai 23,7 kg. BMI adalah kalkulasi yang digunakan untuk menentukan jumlah lemak tubuh. Mereka juga berspekulasi bahwa orang Asia Timur memang memiliki kecenderungan untuk menumpuk lemak di perut.

Persoalan lainnya adalah melesatnya pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan gaya hidup yang tidak sehat. Setelah badan gemuk, mereka sulit untuk mengembalikan kembali berat badannya. Menurut sebuah studi yang dikutip Lancet, hanya 11,9 persen orang dewasa di Cina dari jumlah populasinya yang melaksanakan diet dan hidup sehat secara rutin. Sisanya terlalu sibuk bekerja di kantor. Pria yang menggunakan mobil juga rata-rata lebih berat sekitar 1,8 kilogram daripada laki-laki yang tidak menggunakan mobil.

Untuk menangani hal ini, sejak 2009 hingga tahun 2013 Cina juga telah menginvestasikan lebih dari $350 miliar untuk mereformasi perawatan kesehatan, termasuk pula asuransi kesehatan dan inisiatif kesehatan masyarakat.

Tidak hanya Cina, studi terbaru dari Bank Dunia yang dirilis pada 4 Januari 2017 lalu juga menyampaikan sekitar 10 persen orang Amerika Latin hidup dengan diabetes. Mereka yang mengidap penyakit ini sering kali mentok di biaya pengobatan sehingga berakhir dengan kebutaan, amputasi, stroke, serangan jantung, sampai kematian.

Seperti apakah diabetes ini?

Menurut International Diabetes Federation (IDF). diabetes terbagi menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah diabetes tipe 1, pada tipe ini kondisi pankreas tidak dapat memproduksi insulin karena adanya infeksi virus. Sehingga, penderita harus bergantung pada pemberian insulin dari luar dengan cara disuntik untuk bertahan hidup. Diabetes ini juga disebut Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM).

Sementara diabetes tipe 2, kondisi pankreas masih dapat memproduksi insulin tetapi tidak dapat bekerja dengan baik sehingga kadar gula darah di atas normal. Diabetes jenis ini juga disebut diabetes lifestyle karena selain ada faktor keturunan, penyebab utamanya adalah gaya hidup yang tidak sehat.

Menurut World Health Organization (WHO), tipe diabetes yang cenderung meningkat dan terjadi di seluruh dunia adalah diabetes tipe 2. Dalam varian yang paling umum, diabetes tipe 2 banyak disebabkan oleh kelebihan berat badan, obesitas dan gaya hidup. Salah satunya di Amerika Latin, hal itu bisa dilihat dari Body Mass Index (BMI) rata-rata orang dewasa yang mencapai 25 kg, sementara banyak negara lainnya terutama di Karibia, rata-rata BMI bahkan mampu mencapai 28 hingga 29 kg.

Selain pada biaya pengobatan yang berdampak besar pada layanan kesehatan nasional, diabetes juga berdampak besar pada produktivitas nasional karena berkurangnya kemampuan dalam menyelesaikan tugas sehari-hari.

WHO juga menunjukkan di Karibia, satu dari delapan orang hidup dengan diabetes dan penyakit ini setidaknya telah menewaskan empat dari lima penderita. Sementara untuk biaya tahunan mengobati satu kasus diabetes melebihi pengeluaran per kapita kesehatan per tahunnya.

Di Saint Lucia, lebih dari setengah populasi masyarakatnya mengalami kelebihan berat badan, rata-rata dari mereka harus mengeluarkan 36 persen dari pengeluaran rumah tangga tahunan untuk biaya kesehatan.

Infografik Dunia Terancam Diabetes


Persoalan Diabetes di Indonesia

Data WHO tahun 2000 menempatkan Indonesia pada urutan ke-4 penyandang diabetes terbesar di dunia. Jumlahnya sebanyak 8,4 juta, sedangkan India 31,7 juta, Cina 20,8 juta dan Amerika Serikat 17,7 juta.

Menurut data Statista dari International Diabetes Federation 2015, angka penderita diabetes di Indonesia bertambah. Jumlahnya menjadi 10 juta, meski di atasnya kini ada Brasil, Rusia, dan Meksiko, selain ketiga negara tadi. Tapi hati-hati, Riset Kesehatan Dasar yang diselenggarakan Departemen Kesehatan pada 2013 menunjukkan ada banyak penderita diabetes yang tidak terdiagnosis. Dari 12 juta orang yang disimpulkan mengidap diabetes hanya 3,7 juta yang terdiagnosis. Sisanya atau hampir 8,5 juta adalah orang-orang yang mengalami gejala diabetes tapi belum terdiagnosis.

Terkait penyembuhan, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2015 harus menggelontorkan dana Rp3,27 triliun untuk membiayai 3,32 juta kasus penyakit yang memiliki keterkaitan dengan diabetes, terutama penyakit-penyakit yang berkaitan dengan komplikasi diabetes seperti gangguan penglihatan, gagal ginjal, penyakit jantung, dan stroke. Dari biaya itu, setidaknya 813 ribu pasien berobat untuk penyakit diabetes.

Ini menjadi tantangan yang serius bagi pemerintah terutama dalam mencegah jumlah penderita diabetes di Indonesia. Sejak 2014, pemerintah juga telah fokus mengkampanyekan program pola hidup sehat dengan tema “Healthy Living and Diabetes.”

"Jika kita ingin membuat kemajuan dalam menghentikan peningkatan diabetes, kita perlu memikirkan kembali kehidupan harian kita; untuk makan secara sehat, aktif secara fisik, dan menghindari bertambahnya berat secara berlebihan," tegas Direktur Jenderal WHO, Margaret Chan seperti dikutip who.int.

Pada 2010, Majelis Umum PBB bahkan membuat resolusi untuk mencegah diabetes. Resolusi tersebut bukan hanya fokus pada pengobatan diabetes dan gejalanya, tetapi juga memprioritaskan perubahan gaya hidup seperti peningkatan aktivitas fisik, makan sehat, tidak merokok, dan menjaga berat badan, terutama pada mereka yang berisiko tinggi mengalami diabetes.

Baca juga artikel terkait DIABETES atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Maulida Sri Handayani