Dunia Buku Menyelamatkan Jackie Kennedy dari Duka berkepanjangan

Oleh: Joan Aurelia - 19 Mei 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jackie Onassis memutuskan bekerja sebagai editor buku untuk membunuh kesepian.
tirto.id - Jacqueline Bouvier alias Jackie Kennedy alias Jackie O. harus menjanda untuk kedua kalinya setelah suaminya meninggal pada 1975. Sang suami, Aristotle Onassis, meninggal akibat komplikasi penyakit kelainan otot yang telah dua tahun dideritanya. Penyakit muncul tak berapa lama setelah Onassis berduka karena salah satu anaknya meninggal.

Kepergian Onassis sempat membuat Jackie kehilangan arah. Dua belas tahun sebelumnya, yakni pada 1963, ia mengalami kesedihan yang sama. Suami pertamanya, Presiden AS John F. Kennedy (JFK), ditembak mati persis saat duduk di sebelahnya.

Karena kejadian traumatis itu Jackie tak bisa hidup sendiri.

Sebelumnya juga ada rumor bahwa adik JFK, Robert Kennedy, punya hubungan romantis dengan Jackie. Sampai hari ini, informasi tersebut masih sebatas rumor. Robert sendiri tewas dibunuh pada 1968.


Beberapa bulan setelah Robert meninggal, Jackie menikahi taipan asal Yunani, Aristotle Onassis. Laporan Washington Post bertajuk “”How Could You?” The Day Jackie Kennedy Became Jackie Onassis” (1968) menyatakan pernikahan tersebut sempat membuat Jackie dipandang sebagai perempuan matre.

Citra sebagai perempuan independen, elegan, dan tegar tiba-tiba goyah ketika publik tahu Jackie memilih suami yang berusia 23 tahun lebih tua. Apalagi Onassis dikenal sebagai pengusaha besar di bidang penerbangan, perkapalan, minyak, emas, dan properti.

“Aku rasa dia kesepian. Dia butuh teman bicara,” kata Kathy McKeon, mantan asisten Jackie, yang menyebut Onassis mampu berperan sebagai suami, ayah, sekaligus teman yang baik untuk Jackie dan anak-anaknya.

Bagi Jackie, Onassis mampu memberi rasa aman dan privasi—dua hal yang sangat ia butuhkan sejak jadi sorotan publik.

Onassis adalah teman lama Jackie. Perkenalan mereka terjadi saat Jackie dan adiknya, Lee Radziwill, hendak berlibur dengan kapal pesiar milik Onassis pada 1963, hanya beberapa bulan sebelum JFK tewas. Sang adik memang berniat mengajak Jackie berlibur. Ia ingin agar depresi sang kakak setelah kehilangan anak berkurang.

Kematian Onassis hanya menambah daftar kehilangan Jackie.

“Dia perlu bertemu orang baru, melakukan berbagai hal menarik dan menyenangkan. Aku menyarankan dia bekerja di perusahaan penerbit buku,” kata Letitia Baldrige, mantan sekretaris Jackie di White House, dalam laporan Greg Lawrence di Vanity Fair (2011).

Jackie, yang menyadari dirinya tidak lagi bisa hidup bergantung dengan pria, mengikuti saran Baldrige. Perempuan lulusan pendidikan sastra itu mencintai buku dan kenal banyak penulis. Ia yakin pekerjaan sebagai editor buku adalah pekerjaan ideal.

Kenyataannya tidak semudah itu. “Kamu tidak punya pengalaman yang cukup untuk bisa jadi editor dan tidak pernah mengikuti pelatihan. Itu akan membuat kamu sulit bersaing dengan editor lain. Yang bisa kamu lakukan adalah jadi consulting editor,” kata Thomas Guinzburg, pemilik penerbit Viking yang merekrut Jackie.


Ia resmi bekerja untuk Viking pada akhir musim panas 1975. Jackie bekerja empat hari dalam sepekan dan dibayar $200 dolar per minggu—tidak ada apa-apanya dibanding harta $20 juta yang diwariskan Onassis.

Ia perlu berupaya keras menyesuaikan diri di dunia kerja. Satu-satunya pengalaman jadi karyawan perusahaan hanya didapat saat dirinya bekerja untuk surat kabar Washington Times Herald pada 1952. Tugasnya saat itu ialah mendatangi para pejabat dan menanyakan mereka satu pertanyaan remeh temeh dengan tujuan menghibur pembaca.

Di kantor baru, ia harus mengikuti rapat mingguan bersama para editor dan pimpinan perusahaan. Karena merasa asing dengan segala hal yang dibicarakan, Jackie hanya jadi pendengar yang baik. Untungnya ia tergolong rendah hati, giat belajar, dan tidak mudah menyerah.

Perlahan tapi pasti, Jackie terus bekerja keras agar menjadi editor buku yang baik.

“Jadi editor adalah hal menyenangkan karena bisa membuka wawasan. Setiap buku mengantarkan kita ke pengalaman baru. Ada kalanya buku menggerakkan orang, ada kalanya buku membawa dampak baik pada orang lain,” kata Jackie kepada People.


“Punya pekerjaan membuat Jackie terlihat percaya diri. Selama ini orang mengaguminya karena ia mantan istri Kennedy dan Onassis. Sebetulnya, orang-orang seperti Jackie sangat ingin dirinya bisa dikagumi karena hal yang mereka lakukan,” kata Peter Duchin, teman lama Jackie, masih dari laporan Vanity Fair.

Sayangnya karier Jackie di Viking tak berjalan mulus. Ia memutuskan mundur setelah membaca pernyataan Guinzburg bahwa Jackie terlibat dalam pembuatan sebuah buku yang berhubungan dengan keluarga Kennedy.

Infografik Mozaik Jacqueline Bouvier Kennedy
Infografik Mozaik Jacqueline Bouvier Kennedy


Sejak Guinzburg menyatakan akan menerbitkan buku yang menyinggung pembunuhan dalam klan Kennedy, Jackie mewanti-wantinya agar tak dilibatkan sebagai narasumber. Hubungan Jackie dengan keluarga Kennedy memang memburuk sepeninggal JFK. Ia tidak ingin membuatnya lebih buruk lagi.

Setelah undur diri, Jackie pindah ke perusahaan penerbit yang lebih besar milik kawannya, Doubleday. Di sana ia berperan sebagai associate editor dengan gaji lebih tinggi ketimbang di Viking.


Secara personal, Jackie selalu memberi kesan yang baik di mata rekan-rekan kerja. Tapi profesionalitasnya selalu diragukan. Ia dianggap tidak memiliki performa baik dalam pekerjaan karena tidak mampu meyunting naskah dan tidak bisa menerbitkan buku laris.

“Dia selalu bersemangat ketika mengungkapkan gagasan. Tapi idenya tidak punya nilai jual.”

Jurnalis People Gioia Deliberto menuturkan bahwa Jackie punya minat khusus dalam bidang seni dan desain interior. Ia tertarik menerbitkan sebuah buku yang berhubungan dengan minatnya itu. Satu buku karya Jackie yang berhasil mencuri perhatian adalah tentang ruang rahasia di Istana Versailles, Perancis.

Buku itu populer karena tak seorang pun yang bisa mengakses ruang misterius di bekas istana Louis XVI itu. Berkat koneksinya, Jackie diperbolehkan mengakses sudut-sudut tersembunyi di Versailles.

Sebenarnya hal-hal semacam itulah yang diharapkan Doubleday. Dengan merekrut Jackie, bos Doubleday berharap bisa menerbitkan buku tentang pesohor sekelas ratu Inggris.

Sayangnya Jackie tidak tertarik mendekati keluarga kerajaan. Ia lebih suka mendekati beberapa selebritas yang dianggap bisa menulis buku laris seperti Barbara Streisand dan Michael Jackson.

Benar saja. Buku asuhan Jackie yang juga populer adalah Moonwalk tentang Michael Jackson. Jackie melakukan pendekatan personal kepada Jackson pada pertengahan 1980-an. Jackson setuju menerbitkan buku dengan bantuan seorang penulis bayangan, Robert Hilburn.

“Kehangatan dan keramahan Jackie berhasil menarik perhatianku,” kata Hilburn.


Moonwalk pun jadi satu-satunya buku yang membuat Jackie mendapat pujian dari para kolega dan rekan seprofesi.

Hal semacam itulah yang memicu semangat kerja Jackie. Ia mengisi waktu istirahat makan siangnya dengan bertemu sosok-sosok yang kisahnya bernilai untuk dibukukan atau para penulis yang bisa diajak bekerjasama. Pada malam hari, ia kerap menghadiri pesta atau jamuan untuk memperluas dan merawat relasinya dengan kaum kelas atas.

Rutinitas itu membuatnya terus bertahan ketika divonis mengidap kanker limfoma yang telah menyebar ke beberapa organ vital di tubuhnya. Jackie tetap rutin datang ke kantor dan bekerja hingga 19 Mei seperempat abad lalu.

Baca juga artikel terkait FIRST LADY atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf