Menuju konten utama

Dua Mahasiswa Palu Ikut Gerakan Komplotan Penjarah dari Toli-toli

Polisi mengatakan dua pelaku penggerak penjarahan itu berstatus sebagai mahasiswa.

Dua Mahasiswa Palu Ikut Gerakan Komplotan Penjarah dari Toli-toli
Personel TNI dan Polri berjaga di depan sebuah pusat perbelaanjan di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/18.

tirto.id - Kepolisian berhasil menangkap 101 pelaku penjarahan di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Dari jumlah itu, beberapa pelaku di antaranya berasal dari luar Palu dan memang sengaja datang untuk menjarah.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi Tirto, Selasa (9/10/2018). Menurut Dedi, kelompok dari luar Palu itu beraksi karena diajak oleh dua orang pelaku yang bermukim di Palu.

"Dua orang ini yang menghubungi temannya di Toli-toli untuk kemudian datang ke Palu melakukan penjarahan karena melihat ada kesempatan," tegas Dedi.

Dedi mengatakan, kedua orang itu berstatus sebagai mahasiswa di Palu dengan nama Dafrianto Ma'di dan Agusman D. Ishak. Ia menjelaskan, kedua orang ini bersama empat rekannya berhasil diciduk saat hendak melakukan pembobolan mesin ATM. Sementara satunya yang melarikan diri sudah berhasil ditangkap.

Mereka beraktivitas dengan menggunakan satu mobil Toyota Avanza atas arahan Kepala Desa di Teluk Jaya, Toli-toli, Hasanuddin Rauf. Niatnya adalah memasuki daerah pergudangan dan menjarah barang-barang di luar kebutuhan logistik. Namun, para pelaku itu berhasil dicokok saat baru berhasil menjarah pakaian dan mencoba membobol ATM.

Salah seorang lainnya, menurut Dedi, adalah residivis yang memang pernah melakukan kejahatan. Ia terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena melawan.

"Mereka ini memang baru sekali melakukan kejahatan bersama-sama ini. Ada yang petani ada yang mahasiswa. Macam-macam," ucap Dedi. "Sekarang mereka masih dalam tahap pemberkasan."

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Alexander Haryanto