Dua Hostes dalam Hidup Sukarno: Bunuh Diri & Jadi Sosialita

Oleh: Petrik Matanasi - 8 Februari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi adalah orang yang digunakan para pengusaha Jepang untuk melancarkan proyek pampasan perang di era Sukarno.
tirto.id - Di kediaman yang elit di bilangan Menteng, Jakarta, Sakiko Kanase mengiris nadinya. Kejadian itu persis enam tahun lebih dulu dari Gerakan 30 September 1965. Sakiko yang sudah memeluk Islam dan namanya berubah menjadi Saliku Maesaroh itu mati muda pada 30 September 1959. Alasan Sakiko mengakhiri hidupnya, menurut Lambert Giebels, dalam wawancara dengan Tempo yang dimuat di buku Paradoks Revolusi Indonesia (2010: 111), adalah “malu lantaran hostesu kedua, Dewi, menjadi istri favorit Sukarno.”

Sakiko, menurut majalah Vanity Fair volume 55 (1992: 133), pernah bekerja di klub malam bernama Benibasha di Tokyo. Dewi, yang dicemburui Sakiko itu, juga pernah kerja di klub tersebut, sebelum akhirnya bekerja di klub malam Copacabana.

Dewi bukan orang Indonesia. Ia sama-sama orang Jepang seperti Sakiko. Nama Jepangnya Naoko Nemoto. Dewi adalah nama pemberian Sukarno. Sebelum John Lennon mengawini Yoko Ono, Presiden Sukarno bertahun-tahun lebih dulu menikahi perempuan Jepang.

Menurut catatan Masashi Nishihara dalam Sukarno, Ratna Sari Dewi & Pampasan Perang 1951-1966 (1994), Naoko Nemoto lahir tahun 1940 di Tokyo. Dia adalah anak perempuan ketiga dari seorang pekerja bangunan yang tidak begitu baik kondisi keuangannya (hlm. 168).

“Naoko harus bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda sampai dia lulus sekolah lanjutan pertama (SMP) pada 1955, tetapi setahun lebih sedikit sesudahnya, dia mengundurkan diri dan bekerja sebagai hostes klub malam,” catat Masashi. Copacabana, tempatnya terakhir bekerja sebagai hostes, adalah klub yang kerap dikunjungi orang asing.

Pemulus Proyek Pampasan Perang

“Pada tanggal 16 Juni, Kubo Masao memperkenalkan kepadanya (Sukarno) seorang gadis kabaret berusia 19 tahun bernama Naoko Nemoto,” tulis Masashi (hlm. 152).

Dua kali Nemoto berjumpa Sukarno di Hotel Imperial sebelum Sukarno pulang ke Indonesia. Setelahnya, Sukarno dan Nemoto berbalas surat mesra melalui Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo. Dalam sebuah surat bertanggal 18 Agustus 1959, Sukarno mengundang Nemoto ke Indonesia. Pada 14 September 1959, Nemoto pun terbang ke Indonesia.

“Setelah tiba di Jakarta pada 15 September, dia menyadari […] bahwa Kubo memanfaatkan dirinya untuk melancarkan bisnisnya di Indonesia,” papar Masashi.

Namun, Kubo menyangkalnya. Kala itu adalah masa-masa masuknya proyek-proyek Jepang ke Indonesia—yang dikenal sebagai Pampasan Perang. Belakangan, hubungan Kubo dan Nemoto renggang. Setelahnya, Nemoto dekat dengan kelompok bisnis Toyoshima dan Kinoshita.

Tentu saja Naoko Nemoto dianggap sebagai bagian dari pampasan perang itu. Kehadiran Nemoto adalah masalah besar bagi Sakiko, yang lebih dulu diperkenalkan kepada Sukarno oleh Toyoshima Ataru. Ketika Sukarno dan Nemoto berkunjung ke Bali sekitar 30 September 1959, Sakiko bunuh diri.

Nemoto dan Sukarno sudah dekat sejak 1959 dan kemudian memutuskan untuk menikah. Namun, tanggal pernikahan mereka simpang siur. Baik Masashi dan penulis lain mencatat bahwa ada sumber yang menyebut mereka menikah pada 3 Maret 1962, ada juga yang menyebut Mei 1964.

Namun, banyak yang percaya mereka menikah pada 3 Maret 1962, termasuk buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1981: 688). Pernikahannya dengan Sukarno bukan hal mudah bagi Nemoto.

“Tak lama setelah perkawinan, sang ibu yang janda jatuh sakit, dan meninggal. Pada hari itu juga, satu-satunya saudara lelaki Dewi harakiri,” tulis buku Apa dan Siapa.


Di tahun 1962, usia Sukarno sudah lewat 60. Sementara Dewi baru sekitar 22. Usia mereka kira-kira terpaut 39 tahun. Selisih usia itu lebih menampakan mereka sebagai bapak dan anak. Tapi demikianlah, birahi tetap sesuatu yang tanpa batas.

Nemoto lalu mendapat nama Indonesia sebagai Ratna Sari Dewi dan diberi tempat tinggal nan elok di selatan Jakarta bernama Wisma Yaso. Perkawinan antara Sukarno dengan Dewi melahirkan seorang anak bernama Kartika Ratna Sari Dewi Sukarno. Anak itu lahir setahun setelah Supersemar keluar.

Ratna Sari Dewi tentu saja jadi orang berpengaruh meski dia bukan first lady seperti Fatmawati. “Dewi muncul sebagai 'first lady' presiden dan sebagai tokoh berpengaruh menurut caranya sendiri,” tulis Masashi (hlm. 155).

Jika bagi PKI—seperti diungkap D.N. Aidit dalam film Pengkhianatan G30S/PKI (1983)—Jawa adalah kunci, maka bagi kalangan bisnis Jepang yang ingin masuk ke Indonesia: Dewi adalah kunci. Tembusannya langsung ke Sukarno.


Masashi mengutip kalimat seorang pebisnis Jepang di Indonesia: “Sedikitlah bisnis antara Indonesia dan Jepang yang bisa ditransaksikan tanpa mendapat persetujuannya terlebih dahulu.” Jika mau proyek, maka pengusaha Jepang harus sowan (menghadap) ke Dewi. Atas hal ini, Dewi tentu saja menyangkalnya.

“Terdapat sejumlah orang Jepang dan Indonesia yang berpandangan salah, yakni beranggapan bahwa bisnis mereka akan berhasil dengan baik kalau mereka mengadakan pendekatan dengan saya,” kata Dewi seperti dikutip Masashi. Lepas dari benar tidaknya hal itu, Dewi mengaku merasa dimanfaatkan lagi.

Infografik ratna sari dewi sukarno

Hidup sebagai Sosialita

Latar belakang Naoko Nemoto, juga Sakiko, sebagai pekerja perempuan di klub malam menjadi bahan bagus untuk menjelek-jelekan Sukarno. Dalam pandangan sinis orang kolot, Sukarno layak dicap sebagai laki-laki yang tidak bisa memilih perempuan baik-baik.

“Naoko Nemoto sebelum jadi istri Presiden Soekarno adalah wanita bar di Tokyo, Jepang. Oleh Bung Karno dientaskan dari kehinaan dan pertemuan Bung Karno dengan wanita Jepang itu adalah akibat ulah dari para pengawalnya. Bung Karno diperkenalkan dengan Naoko Nemoto dan Bung Karno merasa kasihan ingin mengentas wanita itu dari lumpur kehinaan dan mengangkatnya menjadi istri,” kata Probosutedjo dalam Mengungkap Isi Hati dan Mawas Diri (1994: 47).

Setelah lengser, Sukarno diasingkan ke Wisma Yaso. Belakangan, wisma itu diambil alih Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dan dijadikan Museum Satria Mandala.

"Hanya Hartini Soekarno, yang masih mendampingi kala Soekarno menghitung-hitung hari kesepian di Wisma Yaso. Selama tiga tahun Soekarno merasakan kesendirian," tulis Peter Kasenda dalam Bung Karno Panglima Revolusi (2014: 272).

Di tahun-tahun terakhir Sukarno itu, kondisi fisiknya melemah dan tidak menarik lagi sebagai laki-laki. Sementara Dewi yang muda tentu masih sangat memesona.

Setelah Sukarno meninggal dunia pada 1970, Dewi hidup sebagai sosialita kelas atas. Ia kerap nongol di pesta-pesta kalangan jetset dunia. Tapi Dewi bukan sembarang sosialita. Dia pernah berkelahi dengan Maria Octavia Osmena dari Filipina pada 2 Januari 1992 di Aspen, Amerika. Akibat perkelahian itu Maria mendapat 37 jahitan.

Pada 1993, Dewi yang seharusnya makin keriput—53 tahun saat itu—bikin geger publik Indonesia. Foto Dewi tanpa busana dan memamerkan tato di punggungnya tersebar di berbagai media. Tentu saja kaum penegak moral Indonesia jadi sibuk berkomentar.

Ia menerbitkan buku berjudul "Madame de Syuga" yang mengeksplorasi tubuhnya. Buku yang diterbitkan saat Dewi berusia 50an tahun ini menampilkan tubuhnya dalam berbagai pose, dari semi telanjang hingga sepenuhnya bugil. Saat itu, buku tersebut tentu saja tidak diperkenankan beredar di Indonesia.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan