Doa Lailatul Qadar dan Sebab Nuzulul Quran Diperingati 17 Ramadan

Oleh: Addi M Idhom - 31 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Nuzulul Quran secara umum di Indonesia diperingati pada setiap 17 Ramadan.
tirto.id - Tanggal 17 Ramadan akan segera tiba. Meski ada perbedaan pendapat, banyak ulama berpandangan bahwa Al-Qur`an turun (Nuzulul Quran) saat Lailatul Qadar datang di malam 17 Ramadan. Lailatul Qadar adalah suatu malam penuh berkah yang datang di setiap bulan Ramadhan. Suatu malam yang oleh Al-Quran disebut "lebih baik dari seribu bulan."

Di Indonesia, secara umum, Nuzulul Quran diperingati setiap 17 Ramadan. Pada bulan puasa tahun ini atau 1439 H, malam 17 Ramadan jatuh pada 1 Juni 2018.

Pendapat mengenai turunnya pewahyuan, yang terjadi di malam Lailatul Qadar, didasarkan pada penjelasan Al-Qur`an di surat Al-Qadr ayat 1, surat Ad-Dukhan ayat 3-4 dan surat Al-Baqarah ayat 185.

Menurut Taufik Adnan Kamal, dalam buku "Rekonstruksi Sejarah Al-Quran" (hlm. 71), mayoritas mufassir menyimpulkan, Nuzulul Quran terjadi pada 17 Ramadhan, karena merujuk penjelasan Al-Qur`an di surat Al-Anfal ayat 41:

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Para mufassir menginterpretasikan bahwa hari "furqaan" atau "hari bertemunya dua pasukan" di ayat itu merujuk pada peristiwa pertempuran perang Badar yang berlangsung pada 17 Ramadan.

Meskipun demikian, sejumlah hadist mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadar tidak selalu datang pada 17 Ramadan.

"Sebagian hadist mengemukakan Laylatul Qadr [biasa] terjadi di malam ganjil bulan Ramadan, sementara hadist lain menjelaskannya terjadi di malam ganjil di pertigaan terakhir bulan tersebut," tulis Taufik.

Pakar tafsir Muhammad Quraish Shihab, di karyanya "Lentera Al-Qura`an: Kisah dan Hikmah Kehidupan" (hlm. 156), menulis bahwa Lailatul Qadar bermakna "malam yang mulia". Turunnya Al-Qur`an di malam tersebut merupakan salah satu tanda kemuliaannya.

"[Kata] Qadr juga berarti "pengaturan" karena ketika itu Allah SWT mengatur Khiththah dan strategi Nabi-nya guna mengajak manusia kepada ajaran yang benar. Qadr juga berarti "ketetapan" karena pada malam itu terjadi ketetapan bagi perjalanan hidup mahkluk (manusia)," demikian uraian Quraish.

Sebagaimana dilansir laman NU online, Abu Ishaq al-Syirazi, di kitabnya At-Tanbih, menuliskan anjuran agar umat Islam membaca doa khusus saat "beruntung" bertemu malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan.

ويطلب ليلة القدر في جميع شهر رمضان وفي العشر الأخير أكثر وفي ليالي الوتر أكثر وأرجاها ليلة الحادي والعشرين والثالث والعشرين ويستحب أن يكون دعاؤه فيها اللهم انك عفو تحب العفو فاعف عني

Artinya: “Dianjurkan mencari Lailatul Qadar di setiap malam Ramadan, terutama malam sepuluh akhir dan malam ganjil. Lailatul Qadar paling sering diharapkan terjadi pada malam 21 dan 23. Saat malam Lailatul Qadar disunahkan membaca doa, ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku).”

Sebuah hadits riwayat Ibnu Majah, juga memuat anjuran doa serupa yang sebaiknya dibaca umat Islam saat bertemu malam Lailatul Qadar.

“Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasul, andaikan aku bertemu lailatul qadar, doa apa yang bagus dibaca? Rasulullah menjawab, ‘Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî,’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku),” (HR Ibnu Majah).

Meski kebanyakan ulama meyakini Lailatul Qadar biasa muncul pada malam di sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama malam ganjil, tidak ada yang tahu pasti kapan datangnya Lailatul Qadar. Karena itu, umat Islam dianjurkan menjaga konsistensi beribadah di bulan Ramadan.


Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Addi M Idhom
Editor: Addi M Idhom