Menuju konten utama
Byte

Dibungkam di Dunia Nyata, Jurnalisme Tumbuh Megah di Minecraft

Ketika jurnalisme diblokade di satu negara, ia akan beroleh wadah di lain negara. Saat ia dilarang di dunia nyata, bahkan, dunia maya bisa menampungnya.

Dibungkam di Dunia Nyata, Jurnalisme Tumbuh Megah di Minecraft
ilustrasi The Uncensored Library. foto/Dok. Uncensored Library
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di sudut internet, di balik antarmuka suatu gim video populer, ada sebuah perpustakaan. Kubahnya besar dan megah, berdiameter hampir 300 meter. Desainnya bergaya neoklasik, terinspirasi dari gedung-gedung museum dan galeri masyhur dunia. Di dalamnya, terdapat karya-karya jurnalistik yang, di negara asalnya, bisa membuat jurnalis dipenjara, diasingkan, bahkan dihilangkan nyawanya.

Perpustakaan tersebut diberi nama The Uncensored Library. Ia berada di dalam gim video Minecraft.

The Uncensored Library, secara teknis, adalah sebuah peladen (server) Minecraft yang bisa dimasuki oleh siapa pun yang memiliki akun gim video tersebut. Proyek perpustakaan ini dikelola oleh Reporters Without Borders (Reporters sans frontières atau RSF), organisasi nirlaba yang saban tahun menerbitkan Indeks Kebebasan Pers Dunia untuk 180 negara.

Organisasi tersebut sudah lama mencari cara untuk menjangkau masyarakat di negara-negara yang pemerintahnya paling represif terhadap pers. Hingga akhirnya, mereka menemukan satu denominator. Di semua negara itu, anak-anak mudanya aktif bermain Minecraft, gim yang membuat pemainnya bisa menjelajahi dunia tiga dimensi yang tersusun dari blok-blok piksel, mengumpulkan material, dan membangun apa pun yang mereka bayangkan.

Untuk membangun The Uncensored Library, RSF menggandeng tiga mitra: agensi kreatif DDB Germany, studio desain BlockWorks, dan perusahaan produksi MediaMonks. Proyek tersebut digarap selama tiga bulan oleh 24 builder dari 16 negara, dengan total waktu lebih dari 250 jam. Hasilnya adalah perpustakaan virtual yang tersusun atas lebih dari 12,5 juta blok.

Menjelajahi Perpustakaan di Minecraft

James Delaney, Managing Director BlockWorks, memilih gaya neoklasik untuk "bangunan" The Uncensored Library lantaran gaya bangunan tersebut merepresentasikan kebebasan pengetahuan dan kekuatan kebenaran atas otoritas-otoritas pemerintah yang menindas. Hal itu dia jabarkan dalam wawancaranya dengan Reporter ohne Grenzen.

Ruang-ruang di dalamnya didekorasi dengan simbol-simbol yang merujuk pada negara masing-masing, mulai dari gurita raksasa yang merepresentasikan cengkeraman Rusia atas internet, hingga barisan altar peringatan untuk para jurnalis yang terbunuh di Meksiko.

Mekanisme penyimpanan artikelnya memanfaatkan fitur bawaan Minecraft: buku dan pena. Dalam gim video tersebut, pemain memang bisa menulis dan berbagi teks berbentuk buku virtual yang dibaca dari dalam antarmuka gim. RSF mengonversi artikel-artikel jurnalistik ke dalam format buku itu. Pemain yang masuk ke peladen bisa membuka dan membaca setiap buku, tapi tidak bisa mengubah isinya.

 ilustrasi The Uncensored Library

ilustrasi The Uncensored Library. foto/Dok. Uncensored Library

Saat mengunjungi The Uncensored Library, pemain akan menemukan ruang kubah utama yang luar biasa besar--jika diwujudkan secara fisik, akan jadi kubah terbesar kedua di dunia.. Di langit-langitnya tergantung bendera 180 negara, masing-masing dengan keterangan singkat tentang situasi kebebasan pers di negara tersebut berdasarkan Indeks RSF.

Dari sana, lorong-lorong membawa pemain ke kamar-kamar yang didedikasikan untuk negara-negara tertentu. Setiap kamar punya jukebox yang memutar rekaman artikel yang dibacakan dengan suara dalam bahasa aslinya.

Pada saat pembukaan, 12 Maret 2020, tepat di Hari Dunia Melawan Sensor Siber, perpustakaan tersebut memuat karya jurnalis dari lima negara. Seluruh teks tersedia dalam bahasa Inggris dan bahasa asli para penulisnya.

Dari Arab Saudi, tersimpan kolom-kolom Jamal Khashoggi, kolumnis Washington Post yang dibunuh di Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018, setelah terang-terangan mengkritik kebijakan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Hatice Cengiz, tunangan Khashoggi, turut mendukung proyek perpustakaan tersebut. “Kita harus membela kebebasan pers setiap hari,” ucapnya, dikutip dari rilisan resmi The Uncensored Library.

Dari Meksiko, ada tulisan-tulisan Javier Valdez, jurnalis yang mendirikan koran Riodoce, sebelum ditembak mati oleh orang bersenjata pada 2017.

Dari Vietnam, ada karya Nguyen Van Dai, aktivis demokrasi dan blogger yang sempat dipenjara atas tulisan-tulisannya.

Adapun dua negara lainnya adalah Rusia dan Mesir, dengan sajian artikel-artikel media independen yang telah diblokir oleh rezim masing-masing.

Cara mengaksesnya tidak rumit. Siapa pun yang memiliki Minecraft Java Edition cukup membuka gim, masuk ke menu Multiplayer, dan memasukkan alamat peladen: visit.uncensoredlibrary.com. Kita bahkan bisa mengunduh perpustakaan ini dalam bentuk peta luring sehingga bisa mengaksesnya tanpa koneksi internet.

Christian Mihr, Managing Director RSF Jerman, menjelaskan alasan proyek tersebut secara khusus menarget generasi muda. “Di banyak negara, anak-anak tumbuh tanpa bisa membentuk opininya sendiri. Dengan menggunakan Minecraft, gim paling populer di dunia, sebagai medium, kita memberi mereka akses ke informasi independen,” katanya.

Respons terhadap The Uncensored Library bisa dibilang sangat baik. Proyek ini meraih Webby Award, penghargaan bergengsi untuk karya-karya internet, tak lama setelah diluncurkan. RSF, DDB Germany, dan MediaMonks, juga pernah menerima Peabody Award kategori Immersive & Interactive.

Tak Semuanya Menyambut dengan Tempik Sorak

Kritik paling mendasar menyangkut aksesibilitas. Untuk masuk ke perpustakaan tersebut, seseorang perlu memiliki akun Minecraft Java Edition yang berbayar. Harganya sekitar 29,99 dolar AS, atau sekitar Rp545 ribu. Angka itu bukan hal kecil di negara-negara yang justru paling membutuhkan akses informasi bebas.

Ada pula kekhawatiran bahwa publikasi besar-besaran justru akan menarik perhatian pemerintah-pemerintah otoriter untuk memblokir Minecraft. Di Cina, misalnya, aksesnya sudah dibatasi. Jika negara-negara lain mengikuti jejak tersebut, satu-satunya celah yang ada pun akan tertutup.

RSF menanggapi kritik itu dengan argumen bahwa peta The Uncensored Library sudah diunduh ribuan kali dan tersebar di banyak peladen lain. Maka itu, sulit bagi pemerintah mana pun untuk benar-benar menghapusnya dari internet.

The Uncensored Library pun terus menerus berkembang. Dari lima kamar negara saat peluncuran, jumlahnya bertambah seiring waktu. Belarusia, Brasil, dan Eritrea, menyusul bergabung. Pada Maret 2023, kamar Iran dibuka dengan teks-teks jurnalis Elahe Mohammadi, satu-satunya wartawan yang meliput pemakaman Jina Mahsa Amini, perempuan Kurdi yang tewas di tangan polisi moral Iran pada September 2022. Ia dipenjara hanya karena liputan tersebut.

 ilustrasi The Uncensored Library

ilustrasi The Uncensored Library. foto/Dok. Uncensored Library

Lalu, pada 12 Maret 2026, datanglah penambahan tidak terduga: kamar AS. Sejak Januari 2025, pemerintahan Donald Trump secara konsisten membatasi akses jurnalis ke informasi publik, menghapus halaman-halaman web pemerintah, mencabut akses media kritis dari konferensi pers, serta menggunakan gugatan hukum sebagai alat tekanan terhadap media. Tidak ada sensor resmi yang tertulis dalam undang-undang, tapi iklim yang ada cukup meresahkan sehingga RSF merasa AS layak mendapat kamarnya sendiri.

Di kamar AS tersebut, pengunjung bisa menemukan kartun politik karya Ann Telnaes, pemenang Pulitzer Prize yang karyanya ditolak oleh Washington Post. Kartun itu menggambarkan Jeff Bezos, pemilik Washington Post, berlutut di hadapan Donald Trump. Penolakan tersebut memantik perdebatan luas soal independensi editorial.

“Poin dari The Uncensored Library selalu adalah untuk menyoroti kisah-kisah yang dibungkam oleh negara-negara represif. Tapi seringkali, membungkam cerita tidak harus mengambil bentuk sensor langsung,” kata Clayton Weimers, Direktur Eksekutif RSF Amerika Utara.

Sejak dibuka pada 2020 hingga 2026, The Uncensored Library telah dikunjungi lebih dari satu juta kali. Buku-buku di dalamnya pun telah dibaca 10 juta kali. Ini, sedikit banyak, menunjukkan bahwa ada minat untuk mencari tahu kondisi sesungguhnya dari negara-negara yang pemerintahnya menghalalkan segala cara menutupi borok yang timbul akibat ulah mereka sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sampai sekarang, kamar Indonesia memang belum ada di The Uncensored Library. Akan tetapi, melihat bagaimana suara-suara di media sosial mulai dibungkam, mungkin hanya tinggal tunggu waktu sampai kita punya kamar tersendiri di sana.

Apalagi, Indonesia, menurut Indeks RSF terbaru, sudah tergolong sebagai negara yang kebebasan persnya berada di "situasi sulit".

"Nilai" Indonesia terus menurun dalam indeks RSF. Setelah sempat meraih ponten 68 pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, kini skor kebebasan pers Indonesia berada di angka 43,02, yang menempatkan kita di posisi 129 dari 180 negara. Catatan itu bahkan lebih buruk dari tahun lalu, ketika kita menempati posisi 127 dengan skor 44,13.

Nilai tersebut memang masih lebih bagus ketimbang negara-negara yang sudah punya kamar di The Uncensored Library. Namun, jika tren pembungkaman terhadap suara-suara kritis terus dibiarkan, itu bisa menjadi lereng licin (slippery slope) yang bisa membawa kita ke "dasar klasemen".

Baca juga artikel terkait KEBEBASAN PERS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin