Di Tengah Perang Pun Mereka Tetap Gemar Membantu Orang Asing

Oleh: Arman Dhani - 15 April 2017
Dibaca Normal 2 menit
Ternyata, orang-orang paling gemar membantu orang asing adalah warga dari negara yang lebih dari satu dekade mengalami perang dan konflik.
tirto.id - Dalai Lama ke 14, Tenzin Gyatso, pernah berkata bahwa esensi dari praktik spiritual adalah perilaku kita terhadap orang lain.

“Saat kamu memiliki motivasi yang jujur dan murni, maka perilakumu bekerja berdasarkan kebaikan, niat tulus, cinta dan rasa hormat. Praktik berbuat baik membuat kesadaran bahwa kita semua satu dan pentingnya orang lain yang mendapatkan manfaat dari perilakumu,” katanya.

Ucapan ini merupakan jawaban atas pertanyaan jurnalis Catherine Ingram, di Dharamsala, India pada 2 November 1988.

Sikap baik terhadap orang lain adalah wujud paling tinggi dalam relasi manusia. Ada banyak bentuk kebaikan yang dilakukan oleh orang asing terhadap orang asing lainnya yang terinspirasi dari sikap welas asih. Misalnya Caffè Sospeso, sebuah tradisi yang ada di kafe-kafe kelas pekerja di Naple, di mana seseorang membayar dua cangkir kopi, tapi hanya membawa satu saja. Jatah satu kopi yang lain diberikan kepada orang asing yang membutuhkan. Kebiasaan ini mampu membantu pengemis dan orang miskin yang membutuhkan kopi. Tak jarang, pemilik toko pun memberi makanan ringan.

World Economic Forum baru-baru ini meluncurkan laporan dari CAF World Giving Index yang menunjukkan negara-negara mana saja di dunia yang paling gemar membantu orang asing. Tidak sekadar membantu, laporan ini juga menunjukkan sikap ini adalah tradisi yang mendarah daging bagi orang-orang di negara tertentu dan menjadi bagian identitas agama atau kebudayaan mereka.

Pengantar dalam laporan itu menunjukkan tren keinginan membantu orang lain semakin meningkat, meski dunia sedang dalam ketakutan akibat teror. Stéphanie Thomson, editor dari situs World Economic Forum, menyebut bahwa ada data yang menunjukkan bahwa negara yang sedang mengalami pertikaian, tidak stabil, dan kerap dianggap berbahaya, tapi warganya adalah yang paling mungkin membantu orang asing di jalanan.

Dari 10 daftar negara dengan masyarakat paling ramah terhadap orang asing versi CAF World Giving Index, diketahui bahwa ada empat negara yang berada dalam kondisi buruk menurut Fragile States Index. Dua negara paling berbahaya dan rapuh tersebut adalah Irak dan Libya.

Warga kedua negara itu merupakan yang paling baik, mau membantu, dan berniat menolong orang asing jika membutuhkan. Orang-orang di negeri-negeri ini mengaku pernah membantu orang asing setidaknya dalam seminggu terakhir, padahal Irak dan Libya selama ini dilihat sebagai negara yang mengalami berbagai konflik, serangan teroris, dan kondisi politik yang buruk.

Bahkan sebelum perang berkecamuk, Libya dan Irak merupakan negara dengan kebudayaan berbagi antar-masyarakat yang demikian kuat. Menurut laporan CAF, masyarakat di kedua negara itu pernah disurvei sebelum perang, dan hasilnya menunjukkan 72 persen masyarakat Libya menyebut bersedia membantu orang asing jika bisa. Bahkan, saat perang, 79 persen masyarakat bersedia membantu orang lain apapun alasannya. Kebiasaan membantu ini tidak hanya karena tradisi setempat, tapi juga ajaran agama yang mereka anut.

Infografik Negara Paling Ramah Terhadap Orang Asing


Dalam film dokumenter berjudul Alone Through Iran - 1144 Miles of Trust, yang berkisah tentang Kristina Paltén, seorang perempuan Swedia yang menembus Iran dengan berlari sendirian, menemukan bahwa prasangka terhadap orang islam selama ini adalah hal yang salah dan buruk.

Saat menembus kota-kota di Iran, ia menemukan kebaikan, bantuan, dan kehangatan. Tidak jarang Paltén diberi tempat tinggal, makanan, dan juga kawalan di daerah berbahaya. Dari pertemuan dengan banyak orang Islam di Iran, Paltén menemukan wajah damai Islam, keramahan umat muslim, dan betapa berbeda gambaran teroris yang selama ini ia percaya.

Laporan dari CAF World Giving Index juga menunjukkan bahwa ada perasaan saling membantu saat krisis terjadi antar masyarakat yang mengalami masalah bersama. Ada indikasi bahwa semakin tinggi resiko atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat maka semangat untuk saling membantu semakin tinggi, mendorong mereka untuk bersatu dan memperkuat satu sama lain.

Dalam riset yang dilakukan peneliti di Universitas Freiburg pada 2012 menunjukkan bahwa kelompok masyarakat yang menghadapi stres bersama memiliki tendensi untuk saling mempercayai satu sama lain. Mereka juga cenderung akan berbagi hal-hal yang dimiliki, dan meningkatkan interaksi untuk saling mendukung. Data dari CAF juga menunjukkan masyarakat di Yunani, Yaman, dan Palestina merupakan negara-negara yang terpapar krisis tapi sangat baik terhadap orang asing.

D luar kategori negara paling ramah, tahun ini Myanmar menjadi negara paling dermawan versi CAF. Mereka memiliki tradisi untuk memberikan derma terhadap biksu Buddha yang seringkali adalah orang asing.

Di Indonesia, tradisi membayar zakat, sedekah, dan infak membuat Indonesia menjadi negara dengan warga yang juga dermawan, tepatnya berada di peringkat ketujuh. Menurut CAF, ada kemungkinan bagusnya ranking itu karena survei dilakukan berdekatan dengan bulan Ramadan, sebab di tahun sebelumnya, kedermawanan Indonesia ada di peringkat ke-22.

Baca juga artikel terkait PERANG atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Maulida Sri Handayani