Di Balik Pembelaan Tim 02 soal Ani Yudhoyono Pilih Prabowo

Oleh: Andrian Pratama Taher - 11 Juni 2019
Dibaca Normal 2 menit
Gerindra awalnya bilang pernyataan Prabowo soal pilihan politik Ani Yudhoyono itu spontan, tapi lantas mereka bilang kalau Prabowo hanya mengulang apa yang disampaikan SBY.
tirto.id - Pembelaan tim kampanye soal pernyataan Prabowo Subianto tentang pilihan politik almarhumah Ani Yudhoyono berubah-ubah. Antara satu pernyataan dan pernyataan lain tampak kontradiktif.

Saat takziah ke Cikeas, Senin 3 Juni lalu, Prabowo, Ketua Umum Gerindra, mengatakan bahwa Ani Yudhoyono memilihnya saat Pilpres 2014 dan 2019. "Saya juga diberitahu bahwa Ibu Ani mendukung saya. 2014 dan 2019 memilih saya. Jadi saya bisa dapat merasakan bagaimana Pak SBY sekarang kondisinya," kata Prabowo.

Prabowo lantas dikecam banyak pihak--termasuk oleh suami Ani yang juga Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)--karena membicarakan sesuatu yang dianggap tidak etis, tidak sesuai momen, dan tempat.

SBY bahkan meminta wartawan yang datang untuk tidak memberitakan pernyataan Prabowo.

Sehari kemudian, Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria meminta maaf jika pernyataan Prabowo dianggap kurang tepat. "Tapi itu juga, kan, menunjukkan memang Pak Prabowo ini orang yang apa adanya," katanya.

Sementara Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno sekaligus Wasekjen Gerindra, Andre Rosiade, mengatakan tak ada maksud sama sekali Prabowo mempolitisasi Ani, melainkan hanya "senang-bangga" Ani memilihnya. Dia juga bilang pernyataan itu keluar "spontan" setelah ditanya wartawan.

"Beliau itu kan spontan ditanya oleh teman-teman media, apa kenangan beliau menyampaikan hal-hal yang baik [soal] Bu Ani, soal bagaimana Bu Ani sebagai istri prajurit yang baik, ibu negara yang luar biasa. Begitu lho," jelasnya.

Namun pernyataan ini berbeda dengan apa yang ia cuitkan pada Minggu, 9 Juni lalu via Twitter dengan nama @Andre_Rosiade. Tak ada lagi alasan spontan. Dia bilang Prabowo tahu pilihan politik Ani langsung dari suami Ani, dan apa yang dia katakan kepada wartawan hanya mengulang apa yang disampaikan SBY.


"Pak @prabowo di-bully tentang pilihan Bu Ani di Pilpres 2014 dan 2019, padahal info ini didapatkan langsung oleh pak Prabowo dari Pak @SBYudhoyono. Dan pak SBY sendiri yang minta agar Pak Prabowo testimoni tentang kebaikan Bu Ani di depan wartawan waktu mau pulang," kata Andre.

"Yang disampaikan oleh Pak @prabowo di depan wartawan, persis yang diucapkan Pak @SBYudhoyono ke pak Prabowo. Enggak ada lebihkan dan enggak ada yang dikurangi. Silahkan publik menilai sendiri," lanjutnya.

Dalam program dialog Kompas TV, Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon membenarkan kalau SBY memang memberi tahu pilihan politik Ani kepada Prabowo. "Ibu Ani itu milih kamu di 2014 dan 2019. Inilah bukti kalau kami [Demokrat] ini serius memenangkan kamu," kata SBY seperti yang diulangi Jansen.

Tapi, katanya, tidak sepatutnya pengakuan itu diungkapkan ke publik.

Karena Demokrat?


Andre Rosiade menjawab inkonsistensi ini. Dia membenarkan kalau alasannya memang berubah, tapi itu karena tingkah kader-kader Demokrat sendiri.

Menurutnya kader-kader Demokrat terlalu berlebihan merespons pernyataan Prabowo. Mereka lebih suka "meracau di medsos" ketimbang menyampaikan keberatan langsung atau di forum internal BPN--sejauh ini Demokrat dan Gerindra masih dalam satu koalisi.

"Sekarang saya dan pendukung-pendukung Pak Prabowo banyak yang kurang nyaman dengan sikap yang dilakukan kader-kader Demokrat. Ya bayangkan, gimana rasa kami kalau teman-teman itu mengkritisi Pak Prabowo secara terbuka, mengkritisi BPN secara terbuka?" kata Andre kepada reporter Tirto, Senin (10/6/2019).

Faktanya Demokrat dan Gerindra memang sedang tidak baik-baik saja. Adudebat di sosial media bahkan pernah terjadi di antara kader dua partai yang sama-sama didirikan lulusan Akabri ini.


Kepala Divisi Hukum dan Advokasi Demokrat Ferdinand Hutahaean pernah mengancam akan membuka pembicaraan yang sebenarnya antara SBY dan Prabowo di Cikeas, terutama terkait masa depan koalisi. Dia bilang, kalau ini dibuka, publik akan geger. "Apakah Prabowo sudah siap" katanya, retoris.

Andre lantas merespons itu dengan menantang balik Ferdinand. Dia bilang kalau sebaiknya Ferdinand membongkarnya saja dan tak usah main gertak. "Saya tegaskan percakapan Pak Prabowo sangat konstitusional dan menghormati Pak SBY," katanya via Twitter. Dia juga mempersilakan jika Demokrat mau hengkang dari koalisi.

"Ini sikap pribadi saya tapi saya yakin ini sikap mayoritas pendukung Prabowo-sandi yang sudah lelah melihat keonaran dan kegaduhan," kata Andre.

Terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi di Cikeas, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno mengatakan hubungan Gerindra-Demokrat memang sudah tidak bagus sejak awal. Demokrat mau gabung ke koalisi Prabowo-Sandiaga awalnya karena hanya itu satu-satunya cara agar bisa mengusung capres sendiri pada 2024 sebagaimana yang diatur dalam UU Pemilu.

Nama Agus Harimurti Yudhoyono, anak sulung SBY, yang mungkin akan mereka munculkan dalam Pilpres 2024 nanti.

Akibat terpaksa, Adi melihat Demokrat jadi setengah hati mendukung Prabowo. Mereka juga beberapa kali mengkritik koalisi. Namun karena Gerindra--salah satu motor utama koalisi selain PKS--sendiri punya kepentingan memenangkan Prabowo-Sandiaga, koalisi tetap utuh setidaknya hingga sekarang. Saat Demokrat tetap mengkritik, maka respons Gerindra bisa lebih agresif karena pilpres sudah selesai.

"Bagi Gerindra, ya, sudah enggak ada efek elektoral apa pun," kata Adi kepada reporter Tirto.


Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Politik)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Rio Apinino