Di Balik Minimnya Laporan COVID-19 dari Afrika

Pekerja Cina di antara pekerja kulit hitam. AP Photo/Rebecca Blackwell
Oleh: Ahmad Zaenudin - 19 Maret 2020
Dibaca Normal 4 menit
Banyak negara di Afrika belum terjangkit virus Corona. Atau belum terdeteksi?
Sejak Dokter Li Wenliang mengabarkan adanya penyakit baru mirip SARS yang menyebabkan penderitanya mengalami gejala pneumonia tiga bulan lalu, COVID-19, menginfeksi hampir setiap tempat di dunia. Lebih dari 120.000 orang terinfeksi, sekitar 4.300 meninggal.

Peter Baker, dalam laporannya untuk The New York Times (11/3/2020), menyebut Pemerintah Cina, khususnya di Provinsi Hubei, telah memberlakukan penutupan wilayah lengkap dengan pengaktifan aplikasi pemantauan warga bernama Alipay Health Code. Kebijakan ini diambil untuk mengidentifikasi orang-orang yang diduga terinfeksi SARS-CoV-2. Pemerintah Iran, Jepang, dan Israel melakukan kebijakan pembatasan wilayah, menghalau orang-orang dari wilayah terjangkit Corona masuk ke negara masing-masing.

India menghentikan pemberian visa hingga 15 April. Irak dan Lebanon untuk sementara waktu meniadakan salat Jumat. Lalu, di Yunani dan Ukraina, sekolah, universitas, hingga taman kanak-kanak ditutup. Di Polandia bioskop hingga museum tidak boleh dikunjungi. Sementara itu, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte mengeluarkan kebijakan national lockdown dan melarang warganya untuk mengerjakan kegiatan yang tidak penting.

Donald Trump, selebtwit yang kini bertitel Presiden Amerika Serikat, memutuskan untuk menolak orang-orang yang berasal dari Eropa akibat virus Corona. Sebelumnya, Trump menyatakan virus itu sebagai “wabah asing” dan hoaks.

Dr. Anthony S. Fauci, salah seorang ilmuwan top Amerika Serikat, mengatakan bahwa kemungkinan “keadaan akan menjadi jauh lebih buruk”.

Dunia seketika sunyi akibat Corona. Namun, merujuk data real-time penyebaran Corona dari John Hopkins University, ada cukup banyak negara-negara yang belum terinfeksi Corona, khususnya dari benua Afrika. Negara-negara itu di antaranya adalah Namibia, Botswana, dan Mozambique.

Tapi benarkah negara-negara Afrika itu belum terjangkit COVID-19?

Negara Miskin

Satu alasan kuat mengapa COVID-19 dapat menyebar cepat adalah konektivitas dengan Cina.

Melalui “made in China”, atau dalam bahasa Apple “assembled in China”, negara-negara dunia sangat terkoneksi dengan Tirai Bambu. Berdasarkan nilai, Cina merupakan eksportir terbesar di dunia yang mengirimkan berbagai produk senilai $2,656 triliun pada 2018 ke seluruh penjuru dunia.

Rantai pasokan dunia pun terganggu akibat COVID-19. Melalui rilis media, Apple menyatakan “rantai pasokan (bahan baku produk-produk Apple) akan terganggu karena mitra manufaktur Apple yang berlokasi di luar provinsi Hubei, pusat penyebaran virus Corona, terpaksa tutup sementara”. Apple memperkirakan akan terjadi gangguan kapasitas produksi yang pada akhirnya menyebabkan pendapatan perusahaan di tahun 2020 menyusut.

Karena posisi Cina sangat kuat dalam percaturan ekonomi dunia, lalu-lintas perjalanan udara Cina-dunia internasional terbilang tinggi. Pada 2018 misalnya, tatkala hubungan antara Cina dan negara-negara Eropa tengah manis-manisnya, Komisi Perjalanan Eropa (ETC) mencatat ada 17,72 juta kursi pesawat pulang-pergi antara Cina dan negara-negara Eropa yang terisi. Angka tersebut lebih banyak 1,73 juta kursi dibandingkan setahun sebelumnya.

Konektivitas yang relatif tinggi pun terlihat antara Cina dan Amerika Serikat. Tiap pekan sejak 2011, terdapat 249 penerbangan langsung antara Tirai Bambu dan Paman Sam. Angka itu meningkat dari hanya 54 penerbangan langsung sebelum 2011.

Dari segi ekonomi, Afrika juga punya nasib yang berbeda.


Data yang dikumpulkan The Observatory of Economic Complexity dari The MIT Media Lab memperlihatkan bahwa negara-negara yang hingga saat ini belum melaporkan adanya kasus Corona mayoritas berada di peringkat bawah dalam hal ekonomi.

Economic Complexity Index (ECI) dan Product Complexity Index (PCI) yang digagas MIT Media Lab itu mengukur rasio ekspor dengan impor di tiap negara, memperhitungkan ukuran volume ekspor/impor dengan volume perdagangan dunia. Hasilnya, dari 21 negara di Afrika yang tercatat belum terjangkit Corona, semuanya memiliki koefisien minus, dengan Zambia sebagai yang “terbaik”, memperoleh koefisien sebesar -0,514087 dan berada di posisi ke-78 dari 129 negara.

Pada 2017, Zambia mengekspor produk senilai $9,7 miliar dan mengimpor produk senilai $8,5 miliar. Sasaran ekspor utama Zambia ialah Swiss dengan total $3,68 miliar. Di sisi lain, produk-produk luar yang masuk ke Zambia umumnya berasal dari Afrika Selatan dengan nilai $2,61.

Bandingkan, misalnya, dengan Indonesia. Pada 2017, The MIT Media Lab menyebut bahwa Indonesia mengekspor produk dengan total senilai $188 miliar dan mengimpor berbagai macam barang senilai $153 miliar. Negara utama ekspor dan impor Indonesia ialah Cina, dengan nilai ekspor sebesar $25,8 miliar dan impor senilai $34,3 miliar.

Ketika virus Corona menghentak, 40 penerbangan per minggu milik Garuda Indonesia dan 44 penerbangan per minggu milik Lion Group (Lion Air dan Batik Air) dari dan menuju Cina terpaksa dihentikan. Padahal, rute Indonesia-Cina menyumbang 35 hingga 40 persen dari total penerbangan internasional Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), total penumpang penerbangan internasional Indonesia pada Januari 2020 di empat bandara utama ada di angka 1.460.487. Jika, katakanlah, penumpang-penumpang itu diangkut pesawat berjenis Boeing 737, pesawat terpopuler di dunia yang memiliki daya angkut hingga 124 penumpang, maka terdapat 11.778 penerbangan internasional Indonesia di bulan Januari. Artinya, karena penangguhan yang dilakukan pemerintah, setidaknya 4.122 hingga 4.711 penerbangan internasional terdampak virus Corona di Indonesia.

Yang unik, karena data dari MIT Media Lab itu hanya mengikutsertakan negara-negara yang nilai perdagangannya lebih besar atau sama dengan $1 miliar dan produk yang nilainya diperdagangkan lebih besar atau sama dengan $10 juta, Kongo (Kongo-Brazzaville), Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah, Chad, dan Mauritania diabaikan.



Karena nilai perdagangan di 21 negara Afrika itu terbilang kecil, konektivitas mereka ke dunia internasional terbilang kecil sehingga potensi Corona untuk masuk lebih kecil. Hal ini dapat menjelaskan pula mengapa ebola yang pernah mewabah di Afrika tidak menyebar ke seluruh dunia sehebat Corona.

Jika melihat peta persebaran ebola, ebola hanya menjangkiti enam negara Afrika, yakni Sierra Leone, Liberia, Senegal, Nigeria, Mali, dan Republik Demokrasi Kongo (Congo-Kinshasa) yang menyebabkan 3.400 jiwa meninggal dunia.

Selain Afrika, ebola hanya sempat menyebar ke Italia (1 kasus), Amerika Serikat (4 kasus), Spanyol (1 kasus), dan Inggris (1 kasus).

Namun, patutkah 'ketiadaan' COVID-19 di 21 negara Afrika dipercaya sepenuhnya?

Simon Marks dan Abdi Latif Dahir, dalam laporannya untuk The New York Times (6/2/2020), menyatakan bahwa sistem kesehatan publik di Afrika luar biasa rapuh. Hanya ada sedikit fasilitas kesehatan yang mampu mendeteksi virus Corona. Para dokter telah kewalahan menghadapi malaria, campak, dan tentu saja, ebola.


John Nkengasong, direktur Africa Centers for Disease Control and Prevention yang berkantor pusat di Addis Ababa, menyebut jika Corona menghampiri Afrika, konsekuensinya “bisa sangat besar”.

Di sisi lain, Youyou Zhou, dalam tulisannya di Quartz (28/7/2019), menyatakan bahwa Afrika hari ini berbeda dengan Afrika satu dekade lalu, khususnya dalam melihat hubungan mereka dengan Cina.

Saat ini, kehadiran Cina di Afrika sangat masif. Banyak perusahaan Cina yang memenangkan proyek infrastruktur di Afrika. Bandar Udara di Kenya, Mali, Mauritius, Mozambique, Nigeria, Republik Kongo, Togo, hingga Sierra Leone dibangun oleh Cina. Dalam laporan untuk Bloomberg (1/10/2019), Sheridan Prasso menunjukkan bahwa di sebagian negara Afrika istilah “negeri made in China” memang pantas disematkan.

Merujuk laporan Prasso, terkait pembangunan infrastruktur, khususnya untuk membangun dunia digital (yang mencakup telekomunikasi, penyiaran, hingga sistem pengawasan warga) misalnya, Zambia menggelontorkan uang sekitar $1 miliar. Uang ini jelas tidak berasal dari kas negara Zambia, melainkan pinjaman dari Export-Import Bank of China.

Karena kuatnya hubungan Cina-Afrika hari ini, konektivitas pun meningkat. Merujuk laporan Zhou, pada 2010 hanya ada satu penerbangan langsung Cina-Afrika. Kini, ada delapan penerbangan Cina-Afrika. Saban tahun, 850.000 penumpang terbang dari Cina ke Afrika dan sebaliknya. Tercatat, ada 81.000 warga Afrika yang bersekolah di Cina dan dua juta warga Cina kini merantau di Afrika.

Dengan konektivitas yang cukup tinggi antara Cina-Afrika kini, terasa aneh jika banyak negara di Afrika belum terjangkit Corona.

Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight