Di Balik Melunaknya Donald Trump kepada Huawei

Sebuah toko Huawei di Laos. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Trump mengizinkan Huawei kembali berhubungan dagang dengan perusahaan AS. Ada apa sebenarnya?
tirto.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya akan mengizinkan Huawei kembali membeli produk-produk dari Amerika Serikat. Pernyataan tersebut terucap usai ia bertemu Presiden Cina Xi Jinping dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 (Group of 20) di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019).

“Perusahaan AS dapat (kembali) menjual perangkat-perangkat mereka pada Huawei,” tegas Trump. “Tapi, yang saya maksud perlengkapan yang dijual ialah perlengkapan yang tidak mengganggu masalah keamanan nasional.”

Perang dagang AS-Cina memanas pada akhir Mei 2019. Kala itu Huawei, salah satu pemimpin pasar ponsel pintar berbasis Android, dinyatakan sebagai “musuh” oleh AS. Bagi rezim Trump, pemerintah Cina memiliki kemungkinan memaksa perusahaan seperti Huawei memasang backdoor atau celah pada produk yang dipasarkan di AS dan dapat digunakan memata-matai.

AS curiga Huawei punya hubungan istimewa dengan pemerintah Cina. Pendiri Huawei, Ren Zhengfei, dituduh pernah ikut serta dalam Kongres Partai Komunis pada 1982 dan Huawei dianggap memiliki Komite Partai Komunis di tubuh perusahaan.


Pukulan pertama: raksasa internet sekaligus pemilik Android, Google, memutus kerja sama lisensi Android pada Huawei. Sebagaimana dilansir Reuters, pemutusan hubungan bisnis itu mencakup kerja sama perangkat keras dan layanan teknis antara dua perusahaan.

Pukulan berikutnya: perusahaan pendukung Huawei lain seperti Intel, Qualcomm, ARM, Facebook, bahkan FedEx, memilih tak berhubungan dagang dengan Huawei.

Akibat ulah AS itu, Ren Zhengfei menyebut perusahaannya kemungkinan akan kehilangan pendapatan senilai 30 miliar dolar tahun ini. Dalam wawancaranya dengan Deirdre Bosa dari CNBC, Zhengfei menyebut bahwa “permasalahan ini sesungguhnya bukan masalah dalam konteks pasar domestik karena di Cina kami tidak melihat penurunan bisnis. Namun, dalam konteks pasar internasional, dalam keadaan terburuk, bisnis Huawei bisa turun hingga 40 persen.”

Di lain sisi, Zhengfei menyatakan pemblokiran pada Huawei tak hanya merugikan raksasa Cina ini, tapi juga AS dan seluruh penikmat teknologi dunia. Dalam laporan media Rusia, RT, Android kemungkinan akan kehilangan 700-800 juta pengguna.


AS Butuh Cina

Pada September 2018, selepas melihat neraca perdagangan AS-Cina, Trump menyatakan ia hendak mengajukan tarif perdagangan sebesar 200 miliar dolar pada produk-produk Cina. Kala itu, memanfaatkan Twitter—sebagaimana kebiasannya—Trump menyeru, “(maka) buatlah produkmu di AS daripada di Cina.” Seruan ini ditujukan khususnya pada Apple, yang di cangkang belakang produk-produknya tertulis 'assembled in China'.

Menurut laporan Vox, membuat berbagai perangkat Apple di tanah airnya sendiri tidak melonjakkan harga produk secara signifikan. iPhone, misalnya. Dengan catatan bahan mentah masih dibeli secara global, harga produksi per unit iPhone hanya berada di kisaran 30 hingga 40 dolar. Jika sepenuhnya asli AS, produksi per unit iPhone akan berada di angka $100.

Dengan harga jual ke konsumen di kisaran 1.000 dolar, Apple hanya akan kehilangan margin keuntungan.

Sayangnya, Cina bukan urusan murah semata. Tim Cook, Pemimpin Eksekutif Apple, menyebut bahwa “ada kerancuan (pemikiran soal Cina).”

“Pemikiran umum tentang Cina yang berkembang ialah perusahaan-perusahaan (AS) datang ke sana karena pekerja di sana murah. Padahal, Pemerintah Cina telah menghapus upah murah bertahun-tahun lalu. Yang benar ialah perusahaan ke sana karena pekerja mereka memiliki kemampuan, kemampuan yang benar-benar kami butuhkan. Ditambah, mereka memiliki kuantitas yang banyak,” urai Cook menjelaskan.

Dengan kata lain, jika Apple hendak sepenuhnya membuat produk di AS, mereka harus memulainya dari nol.





Keadaan serupa juga terjadi pada Android. Meskipun lahir di AS, Android sebenarnya dipopulerkan dan dibesarkan bukan oleh AS. Ini dapat terlihat dari penguasaan pangsa pasar Android di berbagai negara atau secara global.

Di India, misalnya, Xiaomi menjadi penyuplai Android terbesar. Pada kuartal 1 tahun 2019 Xiaomi memperoleh pangsa pasar ponsel pintar India sebesar 29 persen. Posisi Xiaomi lalu diperkuat OPPO, Vivo, dan Realme, yang kesemuanya merupakan merek Cina.


Secara global, di kuartal yang sama, gabungan perusahaan-perusahaan Cina menyuplai lebih dari 41 persen pengapalan ponsel pintar Android. Angka itu mengungguli negara mana pun di dunia dan mengungguli Samsung, si raja Android, yang menyumbang 22 persen pengapalan.

Yang unik, seperti dilaporkan Counterpoint, tidak ada satu pun merek asli AS yang muncul di 10 besar penyumbang Android.

Bertarung dengan Huawei, atau Cina, tentu sangat berisiko bagi AS. Apalagi, dari 30 miliar dolar pendapatan Huawei, 11 miliar di antaranya lari ke perusahaan-perusahaan AS. Belakangan, Trump tampaknya sadar akan hal ini.

Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG AS-CINA atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight