Menuju konten utama
Gearbox

Dari Tangsi ABRI ke Garasi Kolektor: Keabadian Suzuki TS 125 ER

Suzuki TS 125 ER terkenal paling tangguh pada zamannya. Bahkan, ia pernah jadi motor dinas prajurit TNI dan polri, saking andalnya melahap medan sulit.

Dari Tangsi ABRI ke Garasi Kolektor: Keabadian Suzuki TS 125 ER
Suzuki TS125 ER. (Instagram/@suzukits125id)

tirto.id - Raden Haji Oma Irama punya karier begitu panjang di dunia hiburan tanah air. Meski fondasinya, yaitu musik dangdut, tak pernah berubah, sosok 79 tahun tersebut pernah mencicipi segala macam bentuk platform hiburan.

Jika generasi terkini mungkin paling sering melihatnya di siniar bertajuk "Bisikan Rhoma", generasi terdahulu rasanya lebih familiar menyaksikan aksi-aksi Bang Haji di layar lebar. Ya, selain dikenal sebagai Raja Dangdut, pria asal Tasikmalaya itu pernah jadi bintang film populer era '70-an dan '80-an.

Saat masih kerap beraksi di layar perak, Rhoma Irama acap memainkan karakter maskulin, baik dari segi tampilan maupun sikap. Namun, itu semua selalu didampingi oleh sisi agamis.

Dalam film Camellia (1980), sisi maskulin Rhoma Irama salah satunya ditampilkan dalam wujud dirinya mengendarai sepeda motor trail Suzuki TS 100 berkelir kuning.

Saat film Camellia dirilis, anak muda Indonesia memang sedang gandrung-gandrungnya terhadap motor trail. Bisa dibilang, motor trail merupakan simbol maskulinitas tiada dua kala itu.

Di dunia sinema, selain dalam film Camellia, motor trail TS 100 tampil dalam film Pengabdi Setan yang juga dirilis pada 1980. Di film Pengabdi Setan versi orisinal itu, kekasih dari karakter utama perempuan, Rita (diperankan Siska Karabety), meninggal karena motor trail yang dikendarainya menghantam truk yang melaju dari arah berlawanan.

Selain di layar lebar, popularitas motor trail era 1980-an juga terejawantahkan lewat maraknya ajang-ajang motocross dan grasstrack. Peserta balapnya pun bervariasi. Bahkan, anak usia sekolah pun terlibat di dalamnya.

Namun, perlahan tapi pasti, popularitas balap grasstrack dan motocross di Indonesia memudar. Memasuki dekade 1990-an, meski ajangnya masih digelar di banyak tempat, animo masyarakat sudah berubah. Mereka yang tumbuh besar dengan motor trail, grasstrack, dan motocross, sudah bertambah umur dan punya prioritas berbeda.

Kendati begitu, bukan berarti tidak ada sepeda motor trail legendaris yang lahir pada dekade ini. Setelah berakhirnya era TS 100, yang melahirkan momen-momen ikonik di khazanah budaya pop Indonesia, pada 1993, Suzuki meluncurkan penerusnya: Suzuki TS 125 ER.

Silsilah Suzuki TS 125 ER

Sebenarnya, Suzuki TS versi 125cc tidak lahir pada dekade 1990-an. Sejak dekade 1970-an, versi 125cc dari Suzuki TS sudah eksis. Akan tetapi, TS 125 ER bisa dibilang merupakan edisi yang paling berkesan. Sebab, edisi itu berhasil bertahan selama 12 tahun di Indonesia, tepatnya sampai 2005, ketika regulasi emisi anyar memaksa produksi dan penjualan motor 2-tak dihentikan sepenuhnya.

Suzuki TS125

Suzuki TS125. (FOTO/suzuki.co.id)

Sebelum TS 125 ER hadir, sudah ada TS 125A pada 1976, dengan leher knalpot yang turun dulu ke bawah sebelum naik ke atas, mirip Suzuki TS 100. Lalu, muncul TS 125B setahun kemudian; knalpotnya meliuk ke atas dengan model "knalpot udang". Setelah itu, ada TS 125C pada 1978, yang perubahannya tidak terlalu signifikan dari pendahulunya.

TS 125 ER merupakan puncak dari evolusi panjang itu. Ia hadir dengan sokbreker depan lebih tinggi dan suspensi belakang model mono shock, meninggalkan sistem double shock yang dipakai versi-versi sebelumnya. Area swing arm pun sudah menggunakan bahan aluminium, yang lebih ringan sekaligus kokoh. Penampilannya terasa lebih modern, mengikuti aliran desain seri Suzuki RM, yang kala itu jadi acuan motor trail kompetitif.

Tak cuma tampilannya yang gahar, jantung TS 125 ER juga tak kalah sangar. Motor tersebut dibekali mesin 123 cc 2-tak satu silinder berpendingin udara yang dilengkapi dengan reed valve system, atau dalam bahasa Indonesia disebut katup buluh. Itu merupakan perbedaan penting dibanding versi-versi lamanya yang masih mengandalkan rotary valve. Reed valve membuat pasokan campuran udara dan bahan bakar ke ruang bakar menjadi lebih responsif, terutama di putaran bawah hingga menengah. Hasilnya, tarikan motor terasa lebih spontan dan tidak "mbulet".

Dalam kondisi sehat, mesin tersebut mampu menghasilkan tenaga hingga 13 hp pada 7.000 rpm, dengan torsi maksimum sekitar 9,8 Nm pada 6.500 rpm. Angka itu mungkin terdengar kecil di telinga generasi yang sudah terbiasa dengan motor 150 cc injeksi. Namun, untuk motor trail 2-tak berbobot hanya 105 kg, tenaga sebesar itu sudah lebih dari cukup untuk berlari lincah di berbagai medan.

Kelincahan manuver TS 125 ER tak bisa dipisahkan dari transmisi 6-percepatannya, yang membuat tenaga tersalur lebih merata ke roda belakang di setiap kondisi berkendara. Jarak terendah motor ke tanah mencapai 235 mm, cukup tinggi untuk melahap rintangan, tanpa khawatir bagian bawah motor tersangkut. Kombinasi bobot ringan, ground clearance tinggi, dan mesin responsif, membuat TS 125 ER menjadi salah satu motor trail paling dihormati di zamannya.

Tak heran jika TS 125 ER kemudian dilirik oleh institusi-institusi yang membutuhkan kendaraan tangguh untuk segala medan. ABRI dan Polri pada masa itu rata-rata dibekali dengan motor tersebut. Bahkan, cara mengendarai motor trail pun sampai menjadi kurikulum dasar dalam materi pelatihan aparat negara. Artinya, motor berkapasitas mesin 123 cc itu bukan hanya produk komersial biasa, melainkan standar ketangguhan yang diakui negara.

Di luar korps aparat, TS 125 ER juga merebut hati kalangan sipil yang bekerja di medan-medan berat, mulai dari pegawai perkebunan, petugas kehutanan, hingga pejabat pemerintahan daerah yang wilayah kerjanya belum sepenuhnya terjangkau jalan aspal mulus. Perawatan yang relatif mudah dan suku cadang melimpah di pasaran menjadikan motor tersebut pilihan praktis.

Mati Sekali, Terkenang Abadi

Namun, tidak ada yang abadi, termasuk era keemasan motor 2-tak. Tekanan regulasi emisi makin kuat memasuki awal 2000-an. Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003 mulai memperketat ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor, yang secara praktis menutup pintu bagi motor 2-tak untuk terus diproduksi dan dijual massal. Pada 2005, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) resmi menghentikan produksi TS 125 ER.

Menariknya, SIS sempat berencana melanjutkan warisan TS dengan wajah baru. Idenya adalah menggabungkan DNA trail TS dengan mesin Suzuki Satria F150, disertai sejumlah perubahan pada sektor kaki-kaki dan pengereman. Sayangnya, rencana itu tidak pernah terwujud.

Meski begitu, bukan berarti Suzuki TS 125 ER mati begitu saja. Kini, motor yang dulu harganya terjangkau itu justru menjadi incaran dengan harga tak lagi murah.

Unit bekas dengan kondisi hidup dan siap jalan umumnya dibanderol antara Rp30 juta hingga Rp60 juta, tergantung kondisi. Untuk unit dengan kondisi prima, surat lengkap, dan tampilan orisinal terjaga, harganya bisa lebih tinggi lagi. Angka itu jauh dari gambaran motor bekas tua yang seharusnya murah karena dimakan usia.

Ada beberapa faktor yang membuat harga TS 125 ER meroket. Pertama, jumlah unitnya makin langka. Tidak ada produksi baru, sementara sebagian unit sudah rusak, hilang, atau dikanibalisasi untuk keperluan lain. Kedua, komunitas trabasan atau offroad ringan, yang berkembang pesat belakangan ini, menjadikan TS 125 ER sebagai kandidat ideal: bobotnya ringan, ground clearance tinggi, dan mesin 2-tak yang responsif dan mudah dirawat di kondisi lapangan. Ketiga, ada unsur nostalgia kuat. Bagi orang yang tumbuh besar di era 90-an, memiliki TS 125 ER adalah cara untuk menebus masa muda yang sudah berlalu.

Banyak unit TS 125 ER kini direstorasi untuk ajang kontes motor klasik, sementara sebagian lainnya dirombak menjadi kendaraan trabas dengan sentuhan modern. Itu memang dua kutub berbeda. Namun, keduanya sama-sama membuktikan bahwa TS 125 ER adalah motor yang terlalu berkarakter untuk sekadar berakhir di tumpukan besi tua.

Baca juga artikel terkait MOTOR CROSS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin