9 April 1946

Dari Pesawat Bekas hingga Pesawat Radio: Kiprah Awal Angkatan Udara

Ilustrasi pesawat F-5 Tiger milik TNI AU. tirto.id/Gery
Oleh: Petrik Matanasi - 9 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Langit nan suci.
Sayap besi perisai
ibu pertiwi.
Sesuai Maklumat Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945, dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kesatuan ini bertanggung jawab atas keamanan, baik di darat, laut, maupun udara. Khusus untuk udara, dibentuk pula TKR Jawatan Penerbangan

“Tanggal 12 Desember 1945, Kepala Staf Umum mengeluarkan keputusan mengenai pembentukan Bagian Penerbangan pada Markas Tertinggi TKR (MT TKR). Sejak tanggal 10 Desember 1945, semua kekuatan Bagian Penerbangan termasuk para prajurit, pegawai pangkalan, dan perlengkapan di pangkalan udara yang semula dikuasai Panglima Divisi, oleh MT TKR diserahkan kepada Kepala Bagian Penerbangan,” tulis Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 (2008: 25).

Pemimpin jawatan itu adalah Komodor Suryadi Suryadarma. Di jajaran wakil ada Sukarnen Martokusumo dan Agustinus Adisucipto. Waktu berdiri, jawatan penerbangan TKR ini tak cukup punya pesawat layak terbang. Pesawat-pesawat mereka adalah rampasan Jepang, kebanyakan dalam kondisi rusak. Menurut Mardanus Safwan dalam buku Iswahyudi (1982: 21), pada awal 1946 di pangkalan udara Maguwo Yogyakarta, ada 27 pesawat bersayap yang diperbaiki dari 75 pesawat rampasan. Untuk beli pesawat baru beserta onderdil dan peluru, Republik Indonesia yang masih baru itu tentu tak mampu.

Pembangunan dunia penerbangan militer Indonesia itu, diwarnai juga dengan kecelakaan pesawat. Seperti terjadi pada 14 Januari 1946 di pangkalan Maguwo. Namun, pesawat Cureng yang dikemudikan Iswahyudi dan ditumpangi Wiriadinata itu bisa mendarat dengan selamat dalam kecelakaan itu. Hubertus Sujono, ketika diperintahkan Adisucipto melakukan penerbangan pengintaian di Laut Selatan, pada 16 Maret 1946, juga mengalami masalah di udara, namun selamat.

Awal Januari 1946, Adisucipto menjadi instruktur latihan penerbangan. Dua kadet pertama adalah Iswahjudi dan Iman Suwongso Wiryosaputro. Jumlah kadet itu bertambah. Adisucipto belakangan memimpin Sekolah Penerbangan.

“Adapun siswa-siswa Sekolah Penerbangan ini terdiri dari penerbang- penerbangyang telah memiliki Klein Brevet, ataupun calon-calon penerbang baik dari Militaire Luchvaart (ML), Marine Luchvaart Dienst (MLD) maupun Vrijwillige Vliegers Corps (VVC), di samping diterima pula pemuda-pemuda Indonesia yang samasekali belum pernah mendapat didikan terbang,” tulis Trihadi dalam Sedjarah Perkembangan Angkatan Udara (1971: 5).

Bekas siswa penerbangan di VVC antara lain: seperti Iman Suwongso Wirjosaputro, Abdulrachman Saleh, juga Iswahjudi. Dalam hitungan minggu keduanya sudah bisa menerbangkan pesawat. Memang, kedua kadet itu pernah punya pengalaman belajar menerbangkan pesawat sebelumnya.


Lahir dari Rahim Revolusi

Jawatan Penerbangan itu pun diperluas lagi. Pada 9 April 1946, tepat hari ini 72 tahun lalu, berdasar Penetapan Pemerintah No. 6/SD/1946, telah disahkan organisasi militer Tentara Republik Indonesia Angkatan Oedara dengan Suryadi Suryadarma sebagai Kepala Stafnya. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Lahir Angkatan Udara.

Masa itu, ketika Revolusi Indonesia berkobar dari 1945-1949, adalah masa-masa berat bagi Angkatan Udara. Dalam kondisi kurang pesawat, gempuran militer Belanda terbilang kuat. Termasuk setelah Agresi Militer Belanda pertama pada 1947.

Berkali-kali serangan dilancarkan militer Belanda, termasuk terhadap aset-aset Angkatan Udara. Toh, dalam kondisi lemah, Angkatan Udara tak tinggal diam. Rencana pembalasan dirancang, yakni dengan menyerang aset militer Belanda di sekitar Semarang. Serangan yang dilakukan ketika fajar itu sukses, tapi dengan cepat armada udara Belanda pun balas dendam. Pesawat angkut Dakota VT-CLA pun jadi sasaran. Ia ditembak jatuh pada sore 27 April 1946.

Dalam Dakota, ada petinggi Angkatan Udara, yakni Adisucipto, Adisumarno, dan Abdulrahman Saleh. Seluruh penumpang pesawat itu gugur, dan tiga orang berinisial A itu dijadikan pahlawan dan namanya diabadikan sebagai nama pangkalan udara.


Akhir tahun 1948, nasib Angkatan Udara lebih apes lagi. Saat militer Belanda menembaki kota Yogyakarta sebelum pasukan payung dan armada darat memasuki kota, Angkatan Udara tak bisa berbuat banyak karena keterbatasan mereka. Tak ada pesawat yang bisa dikerahkan untuk menembak balik pesawat musuh. Hanya gerilya yang bisa mereka lakukan.

Sialnya lagi, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Suryadi Suryadarma, yang rencananya hendak bepergian keluar negeri, kena tangkap militer Belanda. Bersama Sukarno, Hatta dan lainnya, Suryadi jadi tawanan perang.




Tiada Pesawat Terbang, Pesawat Radio pun Jadi

Untung saja, kaum Republiken di Bukittinggi panjang akal demi memanjangkan nyawa Republik Indonesia. Mereka mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Opsir Udara Hubertus Suyono yang kala itu berkunjung ke sana, mau tak mau harus jadi KSAU darurat bagi PDRI. Di masa PDRI, angkatan yang dipimpin Suyono juga tak punya pesawat. Mereka hanya punya pesawat radio untuk komunikasi jarak jauh antar kepulauan.

Apa yang dikomunikasikan lebih dari kepentingan militer, yakni koordinasi pemerintahan PDRI di Sumatera Barat dengan pemerintah pengasingan di luar negeri yang dipimpin AA Maramis di New Delhi, India. Meski pernah jadi Kepala Staf Angkatan Udara di PDRI, nama Hubertus Suyono agak dilupakan. Namanya tak dicatat sebagai jajaran Kasau di situs TNI Angkatan Udara.

Meski faktanya Angkatan Udara bukan angkatan udara yang merontokkan banyak pesawat militer Belanda sebagai musuhnya, Angkatan ini sangat berjasa besar kepada Republik Indonesia. Faktanya, melalui Hubertus Suyono dan bawahannya di masa PDRI, Angkatan Udara berjasa sangat besar dalam memperpanjang nyawa Republik Indonesia.

“KSAU Suryadarma tidak aktif dalam Perang Kemerdekaan kedua […] Ia ditawan oleh Belanda setelah tahun 1949 dibebaskan kembali dan diangkat kembali oleh pemerintah sebagai KSAU,” tulis Sayidiman Suryohadiprojo dalam Kepemimpinan ABRI Dalam Sejarah dan Perjuangannya (1996:306-307).

Suyono akhirnya benar-benar terlupakan, bahkan diberhentikan dari Angkatan Udara. Suryadarma, meski pernah dinas di Militaire Luchvaart (ML) alias dinas penerbangan KNIL, namun dia dianggap bukan penerbang. Dia hanya waarnemer (peninjau). Justru Hubertus Suyono yang dianggap penerbang.

Dianggap bukan penerbang dan tak ikut perang kemerdekaan kedua, membuat Suryadarma tak disukai perwira-perwira Angkatan Udara lainnya pada 1950-an. Wiweko Supeno, dianggap sebagai penggerak dari kelompok anti Suryadarma. Belakangan Wiweko terdampar di Garuda Indonesia.

Setelah Tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia, barulah Angkatan Udara pelan-pelan bisa dibangun dengan baik. Pesawat-pesawat layak terbang pelan-pelan ditambah. Puncaknya pada awal 1960-an, ketika posisi KSAU sudah dipegang Omar Dani, yang membawa pesawat-pesawat buatan Soviet untuk memperkuat Angkatan Udara. Namun, sebelum Omar Dani jadi orang nomor satu di Angkatan Udara dengan nama jabatan Menteri Panglima Angkatan Udara (Menpangau) pada 1962, Angkatan Udara mengalami pergolakan terkait kepemimpinan Republik Indonesia.

Baca juga artikel terkait ANGKATAN UDARA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight