Dari Mislan ke Vigit Waluyo: Tiga Generasi Sepakbola di Timur Jawa

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 26 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Rekam jejak Vigit dalam kasus pendanaan Deltras dan dugaan pengaturan skor di Liga 2 seolah mencoreng sejarah bagus yang sempat ditorehkan ayahnya, Haji Mislan.
tirto.id - Tahun 1994, sepak bola nasional digegerkan dengan keberhasilan Gelora Dewata meraih trofi Piala Liga Indonesia, setelah mengalahkan Mitra Surabaya 1-0 pada partai final. Keberhasilan ini membawa Gelora Dewata tampil dalam Piala Winners Asia 1994.

Padahal saat itu Gelora Dewata terbilang baru. Mengawali kiprah di divisi kedua Indonesia pada 1989, mereka tampil konsisten, dan butuh semusim saja untuk promosi ke divisi teratas. Sontak sorotan mengarah pada Haji Muhammad Mislan alias Haji Mislan, pemilik klub asal Bali tersebut. Ia dinilai jadi sosok penting di balik keberhasilan Gelora Dewata tampil di kompetisi Asia hanya lima tahun setelah memulai kiprahnya.

Salah satu langkah Mislan yang patut diapresiasi pada musim 1994 adalah perekrutan Vata Matanu. Pria asal Angola yang pernah jadi penggawa Benfica itu datang sebagai pemain sekaligus asisten pelatih.

Tak cuma membawa Gelora Dewata juara Piala Liga Indonesia 1994, semusim kemudian Vata Matanu membuktikan bahwa naluri golnya belum habis, terlepas dari usia yang sudah kepala tiga. Buktinya, ia masih bisa jadi top skor Wilayah Timur Liga Indonesia dengan torehan 21 gol.

"Kepedulian bapak [Haji Mislan] dengan sepak bola, terutama kesejahteraan pemain sungguh luar biasa. Beliau akan marah besar bila gaji para pemain terlambat. Makanya, ketika bisnis bapak terimbas krismon, beliau harus menjual asetnya untuk menghidupi klub dan pemain," sebut Erick Ibrahim, pelatih kiper Persebaya yang juga kerabat dekat Mislan.

Mislan memang gila bola. Nyaris seluruh keturunannya 'diprospek' untuk berkecimpung di bidang ini, walau bukan sebagai pemain. Anak sulungnya, Kartini turut ia tarik sebagai pengurus Gelora Dewata. Begitu pula anak keempat Mislan, Iriawati yang sempat menjadi dokter tim Arema Malang.

Ada pula sosok putra kelimanya, Vigit Waluyo yang punya karier lebih menonjol. Pada Vigit-lah kemudian Mislan mewariskan kepemilikan Gelora Dewata, tepatnya di tahun 1997.

Peralihan klub tersebut dari tangan Mislan ke Vigit tak sepenuhnya mulus. Di masa-masa awal memegang Gelora Dewata, Vigit begitu kesulitan mendapat pendanaan. Kesulitan-kesulitan itu akhirnya membawa Gelora Dewata pindah markas ke Sidoarjo.

"Karena berjuang sendirian, akhirnya Gelora Dewata pindah ke Sidoarjo. Di antara ketujuh anaknya, tinggal Vigit Waluyo yang berkecimpung di sepak bola," imbuh Erick.

Seiring kepindahan ini, klub tersebut berganti nama dari Gelora Dewata jadi Gelora Delta Sidoarjo, hingga kemudian menjadi Deltras Sidoarjo.

Di Sidoarjo, Vigit mencontoh apa yang dilakukan ayahnya. Ia mewariskan darah sepak bola kepada putrinya, Ayu Sartika Virianti. Ayu diberi mandat sebagai manajer Deltras, hingga pada 2013 hijrah ke manajemen klub Perseba Bangkalan FC. Ayu juga menikah dengan eks pemain Deltras, Danilo Fernando yang kemudian jadi asisten pelatih PSS Sleman sampai sekarang.

Dari Mislan ke Vigit, berlanjut ke Ayu Sartika dan Danillo. Inilah tiga generasi dalam satu keluarga yang berkiprah di sepakbola timur Jawa.

Hanya Vigit yang Bermasalah

Haji Mislan memang jadi sorotan saat membawa Deltras tampil di Piala Winners 1994. Namun, dari tiga generasi keluarganya yang berkecimpung di sepak bola nasional, Vigit Waluyo adalah yang paling piawai menangani situasi terdesak, khususnya soal pendanaan.

Semua berawal pada 2010, saat Deltras yang sedang tampil di Liga Super Indonesia mengalami kesulitan finansial. Dengan kelihaiannya, Vigit bisa menerima dana segar senilai Rp3 miliar dari PDAM Sidoarjo. Konon saat itu ia mengeluh kepada Bupati Sidoarjo, hingga akhirnya uang di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu jadi solusi.

Vigit berdalih status uang tersebut merupakan pinjaman saja. Ia berjanji jika dana yang turun pada Juli 2010 itu akan segera ia lunasi selambat-lambatnya bulan November di tahun yang sama, saat Deltras sudah mendapat kucuran uang dari APBD.

Masalah muncul saat pada awal 2011 Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melarang Pemerintah Daerah dan badan-badan usahanya mendanai keperluan klub sepak bola. Deltras batal mendapat kucuran dana sebagai pelunas, dan Vigit tak bisa membayar utang tersebut tepat waktu.

Dalam persidangan pada 30 Januari 2011, Jaksa Penuntut Umum Wahyu Dwi Prasetyo menuntut Vigit dengan hukuman 1,5 tahun penjara dan denda Rp50 juta subdisder tiga bulan penjara.

Sebenarnya, Vigit bukan jadi satu-satunya yang bersalah atas pinjaman itu. Belakangan diketahui jika pihak PDAM memberikan pinjaman kepada Deltras tanpa persetujuan DPRD. Akibatnya, mantan Direktur Utama PDAM Delta Tirta Sidoarjo, Djayadi dibui di LP Klas I Surabaya pada 2017 lalu atas penyalahgunaan wewenang.

Namun tidak seperti Djayadi, menangkap Vigit bukan perkara mudah. Ia sempat empat kali mendapat pemanggilan, namun tak hadir. Vigit juga sempat pula dinyatakan bebas setelah serangkaian banding, hingga pada pertengahan 2018 lalu lewat surat bernomor B-5850/O.5.30/Fuh.1/06/2018 Kepolisian memasukkannya ke Daftar Pencarian Orang (DPO).

Lagi-lagi semua itu tak langsung menjadikan sepak terjang si putra Haji Mislan berhenti. Polisi kesulitan melacak Jejak Vigit. Pencarian sampai November 2018 tak membuahkan hasil.

Untungnya, pada 28 Desember 2018 Vigit menyerahkan diri ke Polda Jatim. Ia lantas dibui hari itu juga.

Hukum yang menjerat Vigit tak berhenti di situ. Belakangan ia juga dinyatakan bersalah dan jadi tersangka kasus dugaan pengaturan skor di Liga 2 2018. Setelah melalui pemeriksaan yang dilakukan Satgas Antimafia Bola Polri, Vigit akhirnya mengakui jika ia membantu 'memuluskan langkah' tiga klub Liga 2 2018 untuk promosi ke Liga 1 musim 2019.

"Klub yang dengan saya hanya PSMP Mojokerto Putra, kemudian Sleman [PSS] dengan Kalteng Putra juga. Mereka meminta saya membantu memenangkan pertandingan," kata Vigit.

Dua dari tiga klub tersebut pada akhirnya benar-benar mampu promosi. PSS Sleman jadi kampiun Liga 2 2018, sementara Semen Padang tampil sebagai runner-up.

Saat ini polisi masih terus mendalami keterangan-keterangan Vigit untuk mengejar tersangka lain dalam kasus serupa. Apalagi Vigit sempat menyebut sejumlah nama penting di PSSI dalam praktik dugaan pengaturan skor sepak bola Indonesia.

"Saya jelaskan sedikit bahwa kebetulan jawaban itu ada di kubu PSSI sendiri. Artinya, di dalam ini mereka yang lebih paham tentang awal penjadwalan sampai eksekusi [pengaturan skor]," ujar Vigit.

Baca juga artikel terkait PENGATURAN SKOR atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Herdanang Ahmad Fauzan