Dapil Jawa Tengah 7: Kala Pembesar Partai Berebut Suara si Miskin

Oleh: Husein Abdulsalam - 19 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Setelah Taufik Kurniawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dan Romahurmuziy tidak maju lagi, persaingan di Dapil Jawa Tengah 7 kian ketat.
tirto.id - Lebih dari seperempat penduduk Kabupaten Kebumen pada 2010 masuk kategori miskin. BPS mencatat penduduk miskin di Kabupaten itu sebesar 22,70 persen total penduduk. Angka itu membuat Kebumen menempati urutan kedua kabupaten/kota dengan persentase penduduk miskin terbanyak di Jawa Tengah (Jateng) delapan tahun lalu.

Tetangga Kebumen, Purbalingga dan Banjarnegara, juga tergolong kabupaten dengan persentase penduduk miskin paling tinggi di Jateng. Ketiganya, dalam Pemilihan Umum (Pemilu) anggota DPR, masuk Daerah Pemlihan (Dapil) Jateng VII.

Pada 2010, Purbalingga menjadi kabupaten dengan persentase penduduk miskin paling tinggi se-Jateng. Saat itu, catat BPS, penduduk miskin di Purbalingga sebanyak 24,58 persen total penduduk. Sedangkan penduduk miskin yang sebesar 19,17 persen total penduduk membuat Banjarnegara menempati urutan ke-8 kabupaten dengan persentase penduduk miskin terbanyak di Jateng pada tahun yang sama.

Sementara itu, pada 2017, masih menurut BPS, Kebumen menempati urutan kedua persentase penduduk miskin di kabupaten/kota se-Jateng. Angkanya sebesar 19,60 persen. Tetangganya, Purbalingga, bertengger di urutan ke-4. Persentase penduduk miskin di Purbalingga pada 2017 sebesar 18,80 persen. Sedangkan Banjarnegara berada di posisi ke-7 dengan persentase penduduk miskin sebanyak 17,21.

Tujuh tahun berlalu, tiga kabupaten di Dapil Jateng VII itu tidak beranjak jauh peringkatnya dalam persentase penduduk miskin per kabupaten di Jateng, meski persentase penduduk miskin di tiga kabupaten itu menyusut.


Si Miskin yang Melahirkan Pembesar

Selain karena kemiskinannya, yang membuat Dapil Jateng VII menarik ialah soal persaingan politik para wakilnya di DPR. Banyak orang "besar" dilahirkan di wilayah itu atau menjadi terkenal karena mewakili Dapil Jateng VII.

Di periode 2014-2019, ada 7 anggota DPR dari Dapil Jateng VII. Tiga di antaranya merupakan pimpinan DPR: Bambang Soesatyo, Utut Adianto, dan Taufik Kurniawan.

Bambang Soesatyo (Bamsoet), politikus Golkar yang menjadi ketua DPR sejak Januari 2018 mendulang 57.235 suara pada Pemilu 2014. Sekitar 22 ribu suara direbut Bamsoet di Kebumen, sementara 14 ribu suara lainnya dari Banjarnegara dan 20 ribu sisanya didapat dari Purbalingga.

Politikus PDIP Utut Adianto yang sekarang menjabat ketua fraksi PDIP mendulang 67.001 suara. Sedangkan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan (Takur), yang pada akhir Oktober 2018 ditetapkan sebagai tersangka kasus gratifikasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kebumen oleh KPK, mendulang 59.495 suara.

Dari masing-masing kabupaten, Utut mendapat sekitar 21-23 ribu suara. Sedangkan Takur mendapat suara paling banyak dari Banjarnegara, jumlahnya 31,9 ribu.

Selain tiga orang tersebut, Amelia Anggraini (Nasdem), Taufiq R. Abdullah (PKB), Darori Wonodipuro (Gerindra), dan Romahurmuziy (PPP) juga merupakan anggota DPR dari Dapil Jateng VII.

Amelia adalah istri Sugeng Suparwoto. Sugeng sempat menjabat Ketua Nasdem Jateng. Lalu, pada 2013, dia diangkat sebagai Wakil Ketua DPP Nasdem. Taufiq pernah menjabat Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 1999-2010. Dia juga suami anggota DPR Ida Fauziyah (cawagub pada Pilkada Jateng 2018). Sementara Romahurmuziy sekarang menjadi Ketua Umum PPP.

Di Pemilu 2014, Darori dan Romahurmuziy memperoleh suara di atas Bamsoet. Darori mendapatkan 65.630 suara. Sebagian besar (46 ribu) suara Darori didapat dari Kebumen. Sedangkan Romahurmuziy mendulang 64.716 suara. Sebagian besar suara Romahurmuziy berasal dari Banjarnegara dan Kebumen.

Sementara itu, Amelia Anggraini mendapat 48.039 suara dan Taufiq menggaet 44.690 suara. Di antara 7 anggota DPR dari Dapil Jateng VII, kedua orang ini yang suaranya paling kecil.

Di Pemilu 2019, ada 92 caleg bertarung memperebutkan 7 kursi DPR dari Dapil Jateng VII. Romahurmuziy tidak maju sebagai calon legislatif (caleg) karena, menurut pengakuannya, ingin fokus mengurus partai. Sedangkan PAN membatalkan pencalonan Takur setelah ia dijadikan tersangka oleh KPK.

Berkaca pada perolehan suara sepuluh tahun lalu, hasil Pemilu 2009 membuat Bamsoet, Utut, Takur, Romahurmuziy, Ganjar Pranowo (PDIP), Sugihono Karyosuwondo (PKS), dan Sudewa (Demokrat) melenggang ke DPR. Perolehan suara terbanyak direbut Takur, yakni yakni sekitar 72,6 ribu.

Bagaimana peruntungan caleg lain di Dapil Jateng VII pada Pemilu 2019 nanti?

Setelah Rommy dan Takur pergi

Pada Pemilu 2014, di dapil ini pengguna hak suara mencapai sekitar 1,78 juta orang. Sedangkan jumlah suara sah yang diperoleh partai politik sebesar 1,57 juta.

Dari segi jam terbang caleg, suara Utut naik dari 36 ribu di Pemilu 2009 menjadi 67 ribu di Pemilu 2014. Sementara Bamsoet turun sedikit, dari sekitar 60 ribu di Pemilu 2009 menjadi 57,2 ribu pada 2014.

Dari segi institusi partai, bercermin pada Pemilu 2009 dan 2014, PDIP adalah raja di Dapil Jateng VII. Dari sekian banyak suara itu, PDIP mendulang 300.978 suara pada Pemilu 2014, turun sedikit dari suaranya yang sebesar 304.822 pada Pemilu 2009.

Sementara Gerindra mendapat tambahan 297.057 suara antara Pemilu 2009 dan 2014. Pada Pemilu 2014, Gerindra mendapat 297.057, padahal partai berlambang garuda ini hanya mendulang 58.829 suara pada Pemilu 2009.

Dengan perolehan suara sebesar itu di Pemilu 2014, PDIP dan Gerindra masing-masing meloloskan 1 perwakilannya ke DPR setelah melewati saringan sistem Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) tahap pertama. Caleg itu ialah Utut (PDIP) dan Darori (Gerindra).

Bamsoet, Utut, dan Darori berkemungkinan besar lolos ke DPR melalui Pemilu 2019.

Sebaliknya, yang benar-benar terjungkal justru Demokrat. Pada Pemilu 2009, Demokrat mendapat 213.444 suara di Dapil Jateng VII. Namun, pada Pemilu 2014, Demokrat memperoleh 97.465 suara. Salah satu perbedaan mencolok di kedua pemilu itu ialah Demokrat tidak mengusung Sudewa pada 2014.

Pada 2013, Sudewa diganti Ida Riyanti melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW). Di Pemilu 2014, Sudewa bergabung dengan Gerindra dan mendapat 55.099, turun sekitar 9 ribu suara dari yang ia dapatkan pada 2009. Suara yang diperoleh Sudewa dan Bakti Nendra Prawiro (caleg lain dari Gerindra) di 2014 sebenarnya melebih suara Amelia dan Taufiq, namun karena sistem BPP, keduanya urung masuk ke DPR.

Setelah ditinggal Sudewa, Demokrat mengalami penurunan sebanyak 115.979 suara. Andaikan Sudewa tetap di Demokrat dan mendapat setidaknya 50 ribu suara seperti yang dia peroleh pada 2009 dan 2014, kemungkinan Demokrat lolos saringan sistem BPP tahap kedua di Pemilu 2014 tentu besar.

Di Pemilu 2019, yang diajukan Demokrat adalah caleg yang belum pernah diusung partai itu di Dapil Jateng VII. Kecil kemungkinan Demokrat meloloskan 1 calegnya dari dapil ini.


Infografik Rebutan Warisan Suara


Selain Demokrat, yang juga petahana pada 2009-2014 tapi gagal meloloskan seorang calegnya di Pemilu 2014 dari Dapil Jateng VII adalah PKS. Politikus PKS Sugihono mendapat suara sekitar 26 ribu di Pemilu 2009 dan lolos ke DPR. Namun, PKS hanya meraup 102.966 suara di Pemilu 2014—selisih 8 ribu dari PAN, partai dengan suara terkecil yang dapat jatah 1 kursi DPR dari Dapil Jateg VII.

Saat ini, Rofik Hananto dan Khusnul Khotimah, caleg PKS yang gagal pada 2014, diajukan lagi untuk bertarung di Dapil Jateng VII bersama 3 caleg baru. Rofik meraup 24.233 suara dan Khusnul mendapat 2.378 suara pada Pemilu 2014.


Sementara itu, petahana dari Nasdem, Amelia Anggraini, tampaknya perlu was-was. Pada Pemilu 2014, Nasdem memperoleh 143.183. Suara ini disumbang banyak oleh Amelia (48.039), Novi Wahyuningsih (43.288), dan yang terkategori mencoblos Nasdem sebagai partai (34.423). Di Pemilu 2019, Novi tidak lagi maju sebagai caleg Nasdem di Dapil Jateng VII. Sedangkan Nasdem hanya mampu membuat Djasri, yang sebelumnya caleg dari PBB, masuk masuk ke partai itu. Djasri memperoleh 8.441 suara pada Pemilu 2014.

Begitu pun PKB. Dari 7 caleg yang diajukan partai berlambang bola dunia ini, hanya Taufiq yang merupakan wajah lama. Sisanya adalah orang baru. Tren suara PKB di Dapil Jateng VII positif. PKB memperoleh 164.535 suara di Pemilu 2014, padahal ia mendapat hanya 83.026 suara di Pemilu 2009. Di Pemilu 2014, sebagian besar suara PKB bersumber dari pemilih yang mencoblos PKB sebagai partai (58.469 suara).

Setelah tidak ada Takur di Dapil Jateng VII, PAN mencalonkan caleg yang belum pernah maju di Dapil Jateng VII lewat PAN. Sementara itu, di PPP, ada Yusuf Cahyono yang memperoleh 14 ribu suara pada Pemilu 2014. Angka tersebut jauh lebih sedikit dari yang pernah digaet Romahurmuziy pada Pemilu 2014, yakni sebesar 64,7 ribu dan PPP sebagai partai (41.225 suara).

Baca juga artikel terkait PEMILU 2019 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan