Menuju konten utama

Danantara Klaim Obligasi Diserbu Investor AS dan Eropa

Danantara merinci sekitar 75 persen permintaan berasal dari investor Amerika Serikat (AS) dan Eropa sementara sisanya berasal dari Asia.

Danantara Klaim Obligasi Diserbu Investor AS dan Eropa
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir saat ditemui di Kemenk Pangan, Senin (11/5/2026). tirto.id/Nanda Aria Putra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Pandu Sjahrir, menilai minat investor terhadap obligasi yang diterbitkan PT Danantara Investment Management (DIM) cukup tinggi. Pada 11 Juni 2026, penerbitan obligasi global perdana mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,7 triliun (kurs Rp17.800).

Total permintaan yang masuk itu mencapai 4,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp81,88 triliun, lebih dari tiga kali lipat dari nilai penerbitan.

"Kami baru saja menerbitkan obligasi, obligasi senilai 1,5 miliar dolar AS. (Ini) sangat menarik di pertengahan tahun, tetapi yang dapat saya sampaikan tentang obligasi ini adalah harganya sangat sesuai dengan peringkat utang Indonesia," kata dia dalam Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026, di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Dari total nilai tersebut, sekitar 75 persen permintaan berasal dari investor Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Pandu mengatakan, tingginya permintaan tersebut menunjukkan daya tarik instrumen obligasi Danantara di mata investor internasional.

Jika dirinci, investor dari Amerika Serikat menyumbang sekitar 52 persen dari total permintaan yang masuk.

“75 persen datang dari AS dan Eropa,” tutur Pandu dalam paparannya.

Selain tingginya permintaan, Pandu menyebut obligasi tersebut memperoleh perhatian dari lembaga pemeringkat internasional, yakni Moody's, Fitch, dan S&P. Namun, ia tidak merinci peringkat yang diberikan masing-masing lembaga dalam paparannya.

Sementara itu, berdasarkan paparan Danantara, obligasi global tersebut diterbitkan dalam dua seri, masing-masing senilai 750 juta dolar AS. Seri pertama memiliki tenor lima tahun dengan kupon 5,35 persen dan jatuh tempo pada 2031. Sementara itu, seri kedua memiliki tenor 10 tahun dengan kupon 5,95 persen dan jatuh tempo pada 2036.

Penetapan harga tersebut dinilai kompetitif karena selisih imbal hasilnya relatif tipis dibandingkan dengan surat utang pemerintah. Dari catatan Pandu, imbal hasil obligasi Danantara memiliki selisih atau spread sebesar 34 basis poin di atas surat utang pemerintah Indonesia untuk tenor lima tahun dan 32 basis poin untuk tenor 10 tahun.

"Selisihnya sekitar 30 basis poin di atas imbal hasil surat utang pemerintah. Untuk tenor obligasi 5 tahun dan 10 tahun, harganya sangat bagus, sangat sesuai dengan suku bunga pemerintah," ungkap Pandu.

Dari sisi investor, sekitar 75 persen permintaan obligasi berasal dari Eropa dan Timur Tengah. Sementara itu, investor Asia menyumbang sekitar 25 persen dari total permintaan. Sedangkan investor dari Amerika Serikat memiliki kontribusi sekitar 50 persen dari seluruh permintaan yang masuk.

"Ada yang mengatakan bahwa orang-orang internasional tidak menganggapnya menarik. Padahal, nilai obligasi yang (masuk) hampir empat kali lipat lebih besar dari nilai sebenarnya," tegasnya.

Baca juga artikel terkait DANANTARA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher