tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengklaim telah melakukan impairment atau penurunan nilai aset hingga Rp135 triliun dalam 16-18 bulan terakhir. Langkah ini diambil untuk mengoreksi pembukuan tidak benar pada sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memicu kerugian sistemik.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan pembenahan ini juga menjadi bagian dari restrukturisasi dan transformasi BUMN yang kini tengah dijalankan Danantara.
“Rp135 triliun yang kita impaired akibat pembakaran yang tidak benar yang dilakukan selama ini,” bebernya dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum, di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
Sementara itu, nilai impairment itu didapatkan setelah Danantara melakukan evaluasi terhadap 1.074 perusahaan pelat merah. Dari evaluasi tersebut, Danantara juga menemukan bahwa banyak perusahaan BUMN yang menjalankan bisnis serupa, memiliki struktur berlapis, hingga masalah keuangan.
Bahkan, sebagian besar dividen BUMN dinilai hanya berasal dari segelintir perusahaan. “[Sebanyak] 97 persen dari dividen kami datang hanya dari sekitar 8 perusahaan,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, setelah dilakukan evaluasi, ditemukan pula bahwa 52 persen dari total BUMN justru membukukan kerugian. Setidaknya, kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan-perusahaan tersebut mencapai Rp20 triliun setiap tahunnya.
Di sisi lain, inefisiensi akibat transaksi berlapis di antara perusahaan diperkirakan mencapai 2 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per tahun. Dus, jika digabungkan dengan kerugian perusahaan, potensi penghematan yang dapat dicapai perusahaan-perusahaan BUMN dapat mencapai 3,5 miliar dolar AS per tahun.
“Jadi, pada dasarnya jika saya menutup perusahaan-perusahaan ini, segera kita akan menghemat hingga 3,5 miliar dolar AS per tahun,” lanjut Dony.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Danantara telah menyusun peta jalan transformasi BUMN selama lima tahun. Pada tahap awal, perusahaan melakukan restrukturisasi melalui konsolidasi, merger, divestasi, dan likuidasi.
Dalam prosesnya, Danantara telah menutup atau merampingkan 364 perusahaan dalam 18 bulan terakhir. Hingga akhir tahun ini, Danantara menargetkan restrukturisasi terhadap sekitar 750 perusahaan melalui berbagai skema tersebut.
“Kami berhasil meningkatkan laba kami, pendapatan bersih kami lebih dari 200 persen dalam 6 bulan setelah kami mengubah model bisnis,” terang Dony.
Melalui transformasi ini, Danantara juga menargetkan laba bersih BUMN mencapai Rp360 triliun pada tahun ini. Selain itu, Dony menyebut Danantara menargetkan setoran dividen setidaknya Rp200 triliun untuk mendukung investasi.
“Tahun ini kami akan mengumumkan laba rencana kami, Rp360 triliun,” tutur Dony.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































