Menuju konten utama

Dampak Gempa Palu dan Donggala: Kondisi Desa Petobo Hancur Total

Sejumlah kawasan permukiman di Palu hancur total setelah gempa kuat terjadi secara beruntun pada 28 September 2018.

Dampak Gempa Palu dan Donggala: Kondisi Desa Petobo Hancur Total
(Ilustrasi) Perumnas Balaroa, Palu, rata ditelan lumpur setelah gempa Palu pada 28 September 2018. tirto.id/Arbi Sumandoyo.

tirto.id - Gempa kuat yang terjadi secara beruntun pada 28 September lalu menimbulkan kerusakan parah di sejumlah kawasan di Palu dan sekitarnya. Salah satunya adalah Desa Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Asbia Azahra, warga Makassar, Sulawesi Selatan mengatakan Desa Petobo hancur total setelah gempa terjadi. Informasi itu ia terima langsung dari temannya, Yudha yang tinggal di Desa Petobo pada pukul 13.56 WITA, hari ini.

"Wilayah Pitobo parah hancurnya," kata Asbia melalui telepon kepada Tirto, Minggu (30/9/2018).

Azahra mengatakan belum ada bantuan tim evakuasi dari relawan maupun Basarnas di desa tersebut. Bahkan, hari ini Yudha masih merasakan gempa kecil di Petobo. Ia tak sempat menanyakan info lebih detil kondisi di sana, pasalnya telepon langsung terputus.

Tirto memperoleh video berdurasi 01.04 menit dari grup whatsapp informasi gempa Palu. Dalan video tersebut seorang warga mengambil gambar kondisi Desa Petobo yang hancur total.

Video itu menunjukkan kawasan permukiman di Desa Petobo dipenuhi reruntuhan bangunan. Rumah-rumah di desa itu rata dengan tanah dan menyisakan satu dua tembok yang berdiri miring. Jalan yang menjadi jalur menuju desa itu juga terputus karena tanah seperti amblas menurun dari kondisi semula.

"Pray for Palu, Petobo. Hancur lebur, jalan sebenarnya ke sana sudah hilang semua. Desti sudah tidak tahu," kata seseorang dalam video tersebut.

"Ada jembatan, tanggul jebol. Kalau kita balik hilang Petobonya, habis semuanya enggak ada sisa. Yang biasa kita jalan di sini enggak ada. Jalan dan rumah turun semua."

Petobo merupakan perbatasan Palu Selatan dengan Kabupaten Sigi, berdasarkan laporan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Penanaman Modal Kota Palu, wilayah Petobo dihuni 8.556 jiwa dengan luas 10,40 km².

Berdasar laporan wartawan Tirto, Arbi Sumandoyo, salah satu kawasan permukiman yang terdampak parah ialah Perumahan Nasional Balaroa.

Perumahan itu kini rata dengan tanah setelah gempa terjadi pada 28 September 2018. Sebanyak 90 orang dilaporkan hilang akibat kejadian ini.

Perumnas itu berada di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu. Usai gempa terjadi, air dan lumpur menelan rumah-rumah di perumnas ini. Tanah di perumahan itu mendadak bergerak ke bawah, kata warga di sana, Jum (40).

"Setelah goncangan tanah, [rumah] langsung amblas ke bawah. Orang teriak-teriak," ujar warga Jalan Seruni 1, Balaroa ini.

Suryamud, saksi mata sekaligus korban yang tinggal tepat di samping perumahan nasional Balaroa, mengatakan saat kejadian tanah di sana ambruk seketika. Ia berhasil selamat dari reruntuhan rumah setelah menahan tembok dan keluar menuju atap rumah.

Sementara jumlah sementara pengungsi akibat bencana ini sesuai data BNPB per Minggu siang (30/9/2018) ialah 16.732 jiwa. Mereka tersebar di 24 titik di Palu dan Donggala.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan lainnya

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Reja Hidayat & Reja Hidayat
Editor: Addi M Idhom