Menuju konten utama

Cuci Darah BPJS PBI Ditangguhkan, Apa Risiko Kesehatan Pasien?

Cuci darah BPJS PBI sempat dihentikan sehingga membuat risiko kesehatan pasien gagal ginjal meningkat. Simak risiko pasien yang melewatkan cuci darah.

Cuci Darah BPJS PBI Ditangguhkan, Apa Risiko Kesehatan Pasien?
Sejumlah pasien menjalani tahapan cuci darah (hemodialisis) di unit dialisis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang di Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). Pascabencana akhir November 2025, layanan cuci darah di RSUD Aceh Tamiang sudah kembali beroperasi dengan melayani 23 pasien dari total pasien terdaftar sebanyak 47 orang dan membuka pelayanan selama enam hari dalam satu minggu. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nym.

tirto.id - Sejumlah pasien dilaporkan kehilangan akses cuci darah BPJS Kesehatan usai status sebagai penerima bantuan iuran (PBI) ditangguhkan dan jadi nonaktif. Kekhawatiran meningkat lantaran tidak lagi biaya cuci darah ditanggung BPJS. Apa risiko bagi pasien jika melewatkan jadwal membersihkan racun tubuh dengan mesin cuci darah?

Sejak Senin (2/2/2026), Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) menerima ratusan aduan dari pasien gagal ginjal. Mereka dilaporkan kehilangan akses perawatan secara tiba-tiba.

"Macam-macam, ada Jawa Tengah, Jawa Timur. Kami menerima di daerah Yogyakarta. Kami menerima DKI juga ada, di Medan Sumatra ya, termasuk Sulawesi juga ada, kami menerima juga di Papua," kata Ketua Umum KPCDI, Tony Samosir Tony saat dihubungi reporter Tirto, Rabu (4/2).

Menurut Tony, hilangnya akses para pasien peserta PBI BPJS ini terjadi setelah Kementerian Sosial (Kemensos) menerapkan DTSEN sebagai acuan penentu penerima bantuan. Hal ini membuat keanggotaan sejumlah peserta PBI BPJS dicabut dan diganti.

Sayangnya, kata Tony, peralihan itu tak dibarengi dengan konfirmasi ulang untuk memastikan kondisi peserta yang aksesnya dicabut. Padahal, banyak pasien gagal ginjal dan kanker perlu cuci darah rutin guna menyambung hidup, sementara harga cuci darah mahal dan mereka termasuk golongan tak mampu.

"Pilihannya, ketika kita itu BPJS-nya dinonaktifkan, pilih bayar Rp1.000.000 untuk cuci darah atau pulang," kata Tony. "Tentu pilihannya [pasien tak mampu] adalah pulang, enggak cuci darah, 'mending aku mati'."

Risiko Telat Cuci Darah bagi Pasien Gagal Ginjal

Seperti yang dikatakan Tony Samosir, cuci darah bagi pasien gagal ginjal merupakan perawatan penting yang tak boleh dilewatkan. Cuci darah merupakan prosedur medis penyelamat jiwa para pasien gagal ginjal.

Apa itu cuci darah? Seturut dr. Kavitha Gone dalam laman Bright Kidney Centre, prosedur medis menggunakan alat cuci darah atau dialisis berguna untuk membantu pasien menghilangkan limbah dan cairan berlebih dalam darah. Hal ini serupa fungsi ginjal, yang pada pasien gagal ginjal tak lagi berfungsi optimal.

Disiplin dan rajin melakukan cuci darah menjadi krusial bagi pasien gagal ginjal. Menurut dr. Kavitha Gone, penundaan atau keterlambatan melakukan terapi tersebut bisa membahayakan nyawa pasien gagal ginjal.

"[Penundaan atau keterlambatan] memiliki konsekuensi serius dan berpotensi menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa," kata dr Kavitha Gone.

Dalam penjelasannya, dr. Kavitha Gone menyatakan bahwa penundaan terapi cuci darah dapat membuat pasien gagal ginjal berpotensi mengalami komplikasi terkait jantung. Hal ini dikarenakan ketidakseimbangan elektrolit dan kadar cairan yang rapuh, membuat sistem kardiovaskular terbebani secara berlebihan.

Penjelasan itu sejalan dengan penjelasan yang dimuat laman National Kidney Foundation yang berbasis di Inggris. Menurut organisasi nirlaba itu, melewatkan terapi cuci darah bagi pasien gagal ginjal dapat "menyebabkan masalah kesehatan yang parah".

Ketidakseimbangan zat dalam darah merupakan faktor pemicunya. Pasien gagal ginjal yang melewatkan terapi dialisis disebut akan membuat darah mereka memiliki kelebihan cairan, serta kadar kalium dan fosfor yang tinggi.

"Anda mungkin terkejut mengetahui bahwa melewatkan perawatan dialisis bisa sangat berbahaya," tulis National Kidney Foundation dalam penjelasan terkait terapi cuci darah.

Dalam penjelasan organisasi itu, ginjal yang sehat membersihkan darah tanpa henti, selama 24 jam dalam 7 hari. Penyebab cuci darah pada pasien gagal ginjal, fungsi itu hilang. Oleh karenanya, melewatkan satu sesi terapi bisa berdampak besar.

Ketika melewatkan satu sesi cuci darah, pasien gagal ginjal dapat mengalami kesakitan berlebih ketika kembali melakukan perawatan di kemudian hari. Kesakitan itu dapat berbentuk kram, sakit kepala, tekanan darah rendah, atau mual berlebih.

Institut Nasional untuk Penelitian Kesehatan dan Perawatan (NIHR) yang berbasis di Inggris juga menyebut bahwa melewatkan terapi cuci darah bisa berakibat fatal bagi pasien gagal ginjal.

"Jika pasien melewatkan sesi yang dijadwalkan, risiko masuk rumah sakit atau kematian meningkat secara dramatis," tulis NIHR.

Dalam penjelasannya, NIHR menyitir penelitian yang dilakukan oleh James Fotheringham, dkk. pada 2020. Penelitian itu menunjukkan jumlah kematian pasien gagal ginjal yang melewatkan sesi cuci darah rutin meningkat tajam.

Jika melewatkan satu dari tiga sesi cuci darah setiap minggu, tingkat kematian pasien gagal ginjal dapat mencapai 53 kematian dalam setahun. Cakupan penelitian ini dibatasi pada 100 orang pasien gagal ginjal.

Baca juga artikel terkait NASIONAL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar