Cross-Dressing: Tren Busana Sejak Zaman Baheula

Harry Styles (kanan) dan perancang Alessandro Michele menghadiri gala manfaat Museum Kostum Institut Seni Metropolitan yang merayakan pembukaan pameran "Camp: Notes on Fashion" pada hari Senin, 6 Mei 2019, di New York. (Photo by Evan Agostini/Invision/AP)
Oleh: Joan Aurelia - 19 Oktober 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ada berbagai alasan di balik berlintasbusana. Salah satunya berkaitan dengan upaya mendapatkan kesetaraan gender.
tirto.id - Crossdressing atau berlintas busana adalah praktik yang telah dilakukan oleh orang-orang di berbagai belahan dunia sejak zaman sebelum masehi. Memandangnya dengan sebelah mata hanya akan membuat hal itu menjadi tidak relevan.

Pada 12 Oktober lalu, akun Twitter Infinityslut menampilkan sejumlah tangkap-layar linimasa beberapa pemilik akun Instagram laki-laki yang gemar melakukan crossdressing dengan mengenakan hijab.

Netizen pun mengamuk karena ada yang menyebut para crosshijaber itu juga berani masuk ke toilet khusus perempuan. Persepsi bahwa laki-laki pelaku crossdressing adalah orang-orang cabul yang memiliki niat jahat pun muncul.

Lembaga keagamaan seperti MUI dan Muhammadiyah dengan segera merespon isu ini. Mereka, utamanya, menyesalkan keberadaan para pelaku dan komunitas berlintas busana.

Menurut laporan Detik, salah satu pejabat MUI Sulawesi Selatan hendak merancang pertemuan dengan sejumlah anggota organisasi Islam untuk membicarakan fenomena crosshijaber. Ia juga mengimbau agar laki-laki berhenti melakukan hal yang dilarang agama yakni berpenampilan sebagai perempuan.

Sementara pimpinan organisasi Muhammadiyah meminta polisi segera menyelidiki aktivitas komunitas crosshijaber agar mereka tidak lagi melakukan hal yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Tak sampai 24 jam pasca viralnya unggahan tersebut, para pelaku crosshijaber menghapus akun media sosial mereka.


Elma Adisya, jurnalis Magdalene, pernah mewawancarai seorang anggota komunitas crosshijaber & crossdresser yang aktif di Facebook dan Instagram. Menurut laporan Magdalene, per 9 Oktober, akun Facebook komunitas crosshijaber & crossdresser yang disukai lebih dari 1300 orang dan akun Instagram yang berpengikut 1109 orang, telah hilang.

Pria berusia 27 tahun itu sempat terpaksa menutup akun media sosial setelah para kerabat melihat potret dirinya berpenampilan sebagai perempuan muslim berhijab sekaligus demi menghindari respons negatif dari orang lain.

Kepada Magdalene, ia berkata kesenangan melakukan praktik lintas busana muncul karena hal tersebut mampu menutupi kelelakiannya. Ia juga mengaku bahwa sebagian besar crosshijaber adalah laki-laki heteroseksual yang bangga bila pasangannya tahu bahwa diri mereka gemar melakukan crossdressing.

Tirto juga pernah mewawancara pria pelaku crossdresser. Alasannya: ia merasa lebih pantas tampil dalam busana perempuan kala menghadiri berbagai acara formal seperti prom night atau undangan pesta pernikahan.

Gender is a drag dan gue nyaman berada di luar itu,” kata pria tersebut kepada Tirto.

Psikolog klinis dari RSUD Wangaya Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari, menyatakan tindakan berlintas busana terjadi karena seseorang mengalami transvestisme atau gangguan mental yang menyebabkan seseorang gemar mengenakan busana lawan jenis.

Salah satu pemicunya: kekerasan seksual di masa lampau.

Ada Apa di Balik Berlintas-busana?

Pada kenyataannya, alasan orang mengenakan busana lawan jenis bisa berbagai macam. Murni untuk hiburan atau sekadar fesyen. Namun, pada beberapa kasus, praktik berlintas busana menyimpan kisah ketimpangan peran laki-laki dan perempuan dan perjuangan seseorang untuk dipandang setara.

Dalam makalah “Striking Their Own Poses: The History of Cross-Dressing on the Chinese Stage” (PDF, 1997) disebutkan bahwa pada akhir abad 18, ranah teater di Cina hanya bersedia menampilkan pria. Padahal, pada era 600-1200an. dunia seni peran Cina bersedia menampilkan perempuan di atas panggung. Tak pernah jelas betul apa dasar larangan ini.

Ada kalanya, masih di era yang sama, para pria pemain teater itu melakukan aktivitas tanpa melepas kostum terlebih dulu, namun hal tersebut justru bikin mereka dikucilkan. Selain mengatur cara berpakaian sehari-hari, pemerintah Cina kala itu memang amat ketat dalam membatasi kehidupan para pemain teater.

Beberapa aturan ketat lainnya adalah: melarang mereka menikah dengan keluarga normal--yang tidak berasal dari kalangan seniman seni peran--, melarang bekerja dalam lembaga pemerintahan, hingga melarang para aktor bepergian menggunakan kereta kuda.

Selain itu, karena kerap tampil jadi sosok lain (lewat karakter yang diperankan dan juga busana yang dikenakan), para pria pemain teater juga dipandang sebagai sosok yang “berbahaya, tidak jujur, dan tidak bisa diandalkan.”


Larangan perempuan untuk tampil di atas panggung juga pernah terjadi pada era Yunani kuno. Alasannya mengacu kepada pandangan Aristoteles yang menganggap status perempuan lebih rendah dibanding pria. Oleh karena itu, perempuan menampilkan diri di depan publik sama dengan memamerkan bagian tubuh mereka dan hal itu dianggap tidak bermoral.

Crossdressing, Sex, and Gender (1993) mencatat, di negara-negara barat pada Abad Pertengahan, mengadaptasi penampilan lawan jenis yang meliputi tindakan meniru gaya berpakaian dan gaya rambut dianggap pelanggaran hukum. Sementara pada masa kini, laki-laki yang berdandan seperti perempuan dipandang rendah.

Pada abad 16 dan 17, anggapan tersebut perlahan mulai berubah. Salah satu pemicunya adalah karena kisah Ratu Christina dari Swedia.

Sejak kecil, Ratu Christina dididik secara maskulin agar kelak mampu menggantikan posisi sang ayah. Kelak ketika dewasa, ia pun dipandang sebagai pribadi yang tak mudah tunduk pada perintah laki-laki di sekitarnya dan berani pula berpenampilan layaknya lawan jenis kapan pun ia mau.

Dan, pada akhirnya, Ratu Christina menolak jadi pengganti sang ayah. Ia memilih untuk jadi pegiat seni di kota Roma, Italia. Ia ogah tunduk perintah laki-laki.

Mode yang Merayakan Crossdressing

Di ranah fesyen, crossdressing awalnya terjadi pada 1930an kala selebritas Marlene Dietrich mengenakan setelan jas lengkap. Meski demikian, gaya itu tak lantas menjadi tren. Momen di mana para desainer adibusana di Eropa mau pun AS mulai menaruh perhatian pada lintas busana ialah ketika Yves Saint Laurent melansir Le Smoking--setelah jas perempuan--pada 1966.

Dulu, perempuan yang mengenakan Le Smoking sempat dilarang masuk ke salah satu restoran di Paris karena berdandan seperti pria. Jangan kaget, Perancis baru memperbolehkan perempuan memakai celana panjang pada 2013 lalu. Selama ini, perempuan yang mengenakan celana panjang di Paris dianggap sebagai orang yang melanggar aturan, kendati tidak pernah disikapi dengan serius.

Ketika celana mulai jadi hal yang lumrah di ranah fesyen, barulah para desainer adibusana mulai menciptakan baju-baju yang terkesan feminin untuk dikenakan para pria. Desainer asal Inggris JW Anderson misalnya, pada 2014 lalu melansir koleksi busana pria yang sebagian besar berbentuk seperti terusan untuk perempuan.




Belakangan, ranah mode adibusana pun busana siap pakai menerapkan konsep unisex yakni busana yang bisa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Mereka menganggap sudah saatnya untuk menciptakan busana yang melampaui pakem gaya busana laki-laki atau perempuan.

Busana unisex umumnya merupakan jenis busana yang berukuran longgar, minim detail, minim motif, dan tidak tertuang dalam warna mencolok. Quartz melaporkan bahwa beberapa desainer yang pernah menganut prinsip tersebut diantaranya adalah Comme des Garcons, Rick Owens, dan Prada.

“Pengakuan atas jenis kelamin laki-laki dan perempuan ini berasal dari budaya barat. Tapi kini sudah ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa seks dan gender tidak selalu biner. Jadi, kenapa busana harus mewakili laki-laki atau perempuan?” tulis Quartz.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight