Menuju konten utama

Contoh Puisi Hardiknas 2023 tentang Sekolah yang Bermakna

Contoh puisi Hari Pendidikan Nasional 2023 untuk merayakan Hardiknas 2 Mei.

Contoh Puisi Hardiknas 2023 tentang Sekolah yang Bermakna
Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo bermain 'Ogor Ban' pada kegiatan "Jam Kita Main" di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (4/5/2018). ANTARA FOTO/Desca Lidya Natalia

tirto.id - Puisi dapat digunakan untuk merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2023. Berikut ini contoh puisi menyambut Hardiknas 2023 tentang pendidikan dan sekolah yang bermakna dan menyentuh.

Hardiknas yang setiap tahunnya diperingati pada 2 Mei. Pada tahun ini, Hardiknas jatuh pada hari Selasa, 2 Mei 2023.

Melalui Surat Nomor 12811/MPK.A/TU.02.03/2023 tentang Pedoman Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2023, yang diterbitkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Menristekdikti) bahwa tema Hardiknas 2023 adalah “Bergerak Bersama Semarakan Merdeka Belajar”.

Dalam Surat tersebut, juga disebutkan bahwa penetapan bulan Mei 2023 sebagai penerapan bulan Merdeka Belajar. Sehingga sepanjang bulan Mei akan dijadikan sebagai bulan belajar secara merdeka.

Selain tema dan penetapan bulan Merdeka Belajar. melalui surat Menristekdikti tersebut juga, menginformasikan logo, link download logo, himbauan pelaksanaan upacara bendera, hingga ragam aktivitas lainnya.

Kumpulan Puisi Hardiknas 2023 tentang Sekolah

BUKU

Karya: Susiska Arum

Kau tempatku menabur ilmu...

kau jendela di hidupku....

kau tempatku goreskan jutaan pena...

namun, terkadang orang mengabaikannya...

kau tertumpuk deraian debu...

Buku...

kau tempatku berbagi rasa...

meski engkau hanya diam membisu.

lembaran demi lembaran yang terisi

Tertancap keindahan ilmu menawan...

terselip kata demi kata...

yang mengisi hari-harimu...

Buku...

kau tempatku goreskan pena...

goresan pena kini tertancap di badan

jutaan kata kini terlukis di badanmu..

Kau tempatku lukiskan keindahan...

kau tempatku berbagi kesakitan

Buku...

kau yang mengajariku arti kehidupan...

tiada pantas hidup ini kulewati

tanpa engkau di sisiku...

Kau guru yang hanya bisa diam membisu

namun, kau memberikan jutaan ilmu yang tersimpan di setiap lembaran...

APA KABAR PENDIDIKAN NEGERIKU

Karya: Dian Hartati

Sampai kini saya tidak tahu

Apakah titel sarjana nan dibangga-banggakan ayahku dulu

Dapat menyambung lambungku, istriku dan anak-anakku

Tujuh Belas tahun sudah segudang uang di lumbung keringat ayah-ibuku

Kuhabiskan di meja pendidikan

Namun saya tetap tidak mampu memberi anak-anakku sesuap makan

Tujuh belas tahun sudah kuhabiskan waktuku di ruang gerah sekolah dan kuliah

Namun tidak memberiku otak brilian dan keterampilan nan sepadan

Aku hanya terampil menyontek garapan temanku

Aku hanya terampil membajak dan menjiplak karya negeri orang

Aku terampil mencuri ide-ide bukannya mencipta

Apa kabar pendidikan negeriku

Adakah kini kau sudah berbenah

Sehingga anak cucuku akan bisa merasai sekolah nan indah

Dan masa depan nan cerah?

PESAN DARI GURU

Dengan tertatih-tatih

ku kayuh sepeda tua itu

dengan nafas terengah-engah

ku sandarkan di pagar tua

Anakku, aku datang

tak bawa mobil mewah

tak bawa rupiah

Tapi aku punya cinta

cintaku begitu besar

lebih dari sepeda tua itu

‘tahukah kau

aku sangat menyayangimu

Ini daerah terpencil

tapi jangan kau berpikiran kerdil

Bangkitlah

Berjuanglah ..

Kau harus bisa taklukkan

gedung-gedung pencakar langit itu

hancurkan kebodohanmu

Bangkit dari tidurmu

raih mimpi

gapai prestasi

‘Aku hanya orang tua

yang tak berarti apa-apa

‘api aku punya cinta

Cinta untukmu begitu besar

lebih dari sepeda tua itu

JANGAN MALAS MEMBACA

Sesobek kertas sudah diberikan

seuntai tulisan pula berada di dalamnya

duhat anak yang malang

mengapa engkau diam saja?

Mengapa kertas itu cuma kau simpan?

sungguh tidak sedikit angan-angan terpendam

ilmu maha luas sudah tertuliskan

tapi sayang kau enggan membaca

Dunia demikian luas ilmu pula demikian terbentang

sungguh dunia sudah bicara,

kau mau tahu isiku?

kau mau mengerti apa menyangkut dunia ini?

Malang beribu matang kau enggan membaca

duhai anak yang malang

bangkittah kini

pengetahuan luas sudah menantimu

lawantah jiwa kotormu itu

tuk mencapai impianmu

PAHLAWAN PENDIDIKAN

Jika dunia kami yang dulu kosong

tak pernah kau isi

mungkin hanya ada warna hampa, gelap

tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana

tapi kini dunia kami penuh warna

Dengan goresan garis-garis, juga kata

yang dulu hanya jadi mimpi

kini mulai terlihat bukan lagi mimpi

itu karena kau yang mengajarkan

tentang mana warna yang indah

tentang garis yang harus dilukis

juga tentang kata yang harus dibaca

Terimakasih guruku dari hatiku

untuk semua pejuang pendidikan

dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa

dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah

Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin

hanya ucapan terakhir dari mulutku

di hari pendidikan nasional ini

Gempitakanlah selalu jiwamu wahai pejuang pendidikan Indonesia

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Sulthoni

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Sulthoni
Penulis: Sulthoni
Editor: Dipna Videlia Putsanra