Menuju konten utama

Cerita Ustaz Iwan Purwanto yang Namanya di Surat Teror Ulama Depok

Polisi mengungkap sebuah temuan paket berisi kertas bertuliskan nama-nama ulama di Depok yang berisi keterangan: "bunuh secepatnya"

Cerita Ustaz Iwan Purwanto yang Namanya di Surat Teror Ulama Depok
Ilustrasi pembunuhan. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Ustaz Iwan Purwanto tampak tenang ketika menyambut saya di depan pagar rumahnya di Tirtajaya, Depok, Jawa Barat. Wajahnya tak nampak kekhawatiran meski beberapa hari sebelumnya orang tak dikenal mengirim surat ancaman yang berisi seruan menghilangkan nyawa.

"Kalau saya pribadi ditanya, apa ada pengaruh [dari surat ancaman itu]? Enggak ada, buat saya diancam atau tidak diancam, dijaga atau tidak dijaga, mati ya mati," kata Iwan kepada Tirto, Senin (5/3/2018).

"Bahkan jemaah saya di tempat lain juga tanya kabar saya bagaimana segala macam," katanya tertawa.

Namun, Iwan mengaku jadi lebih waspada pasca teror tersebut. Misalnya ketika hendak ke masjid untuk salat subuh Minggu kemarin. Ia mesti tengok kanan kiri terlebih dahulu sebelum berangkat. Keluarganya juga mengingatkan untuk berlaku demikian.

Sehari-hari, laki-laki dengan tiga anak ini aktif menjadi pengajar di sejumlah majelis taklim. Ia juga kerap menjadi khatib dan imam salat berjamaah di masjid sekitar rumahnya. Ia juga rutin mengisi kuliah subuh saban Sabtu dan Minggu dan beberapa kali pernah mengisi acara dakwah di sejumlah televisi nasional.

Pada pemilihan calon anggota legislatif 2014 lalu, beberapa kader partai pernah menawarkan maju di legislatif. Namun, Iwan menolak tawaran itu. Ia mengaku tidak tertarik dengan "urusan politik". Dalam postingan di Facebook dan Instagram, Iwan juga tidak pernah membahas soal politik.

"Saya enggak pernah ikut politik. Memang beberapa partai pernah datang ke rumah, menawarkan saya untuk jadi anggota dewan. Tapi nggak deh ya," kata Iwan tertawa.

Namun, Iwan bukan tidak punya pandangan sama sekali soal politik. Iwan, misalnya, tidak setuju dengan aksi massa sejumlah ormas Islam, misalnya dalam aksi menolak Basuki Tjahaja Purnama yang didakwa menistakan agama. Menurutnya, aksi massa cenderung merendahkan pemimpin dan menciptakan kondisi tidak kondusif, alih-alih membangun.

"Kita punya anggota dewan, majelis ulama, lewat mereka lah kita titip saran," kata Iwan.

Menurutnya, sepanjang tidak mengajak pada kejahatan, maka perintah dari pemimpin, termasuk pemimpin agama atau politik harus dihormati. "Kalau pemerintah nyuruh mabuk, baru jangan diikuti."

Akibat sikapnya itu, sejumlah orang yang berbeda paham dengan Iwan kerap menganggapnya sebagai orang yang "lunak" dan "enggan berjuang". Namun Iwan menanggapi santai anggapan-anggapan itu. Menurutnya, perdamaian adalah yang paling penting.

Iwan mengaku dirinya masih menjaga hubungan baik dengan ormas yang melakukan aksi massa tersebut. "Mereka semua sahabat-sahabat saya. Saya hormat ke mereka, mereka hormat ke saya. Apa karena saya tidak ikut 212 lantas saya tidak boleh masuk taklim mereka? Tidak juga," kata Iwan.

Kronologis

Pada Kamis (1/3), sekitar pukul 19.30, hujan turun cukup lebat ketika Asep berangkat ke pos depan Cluster Gardenia, Grand Depok City, untuk kegiatan jaga malam. Ketika sampai pos, Asep melihat dua amplop cokelat berbungkus plastik. Pada sampul amplop itu tertera alamat tujuan.

"Paketnya buat Pak Shobur (Ustaz Abdul Shobur) dan Pak Kurtubi (Kiai Kurtubi)," kata Asep.

Asep curiga karena biasanya kurir akan mengantar kiriman langsung ke alamat yang dituju. Ketika tidak ada orang di tujuan, baru kiriman itu dititipkan ke pos satpam. Asep pun melaporkan temuannya ke Jamari, 43 tahun, satpam lain yang saat itu berjaga di pos dalam kompleks.

Jamari lantas menyuruh Asep untuk mengantarkan satu amplop ke alamat Ustaz Abdul Shobur. Sementara satu amplop lainnya dipegang oleh Jamari lantaran rumah Kiai Kurtubi Nafiz tidak ada di kompleks. Namun, rumah Ustaz Shobur nampak sudah gelap. Asep balik kanan dan menitipkan amplop itu kepada Jamari karena takut mengganggu.

"Dikiranya mah undangan awalnya," kata Jamari.

Pada Jumat (2/3) pagi, Jamari mendatangi Shobur untuk memberi amplop tersebut. Ketika itu Shobur hendak berangkat kerja ke Universitas Indonesia (UI).

Minggu pagi, Ketua RW 07 Kelurahan Tirtajaya, Deddy Andrianto, bersama Ustaz Solihin—yang namanya diketahui tertera dalam surat—dan sejumlah pria lainnya baru pulang kajian subuh di Mushola Baiturahman. Dari kejauhan Deddy melihat Ustaz Shobur menghampiri dari arah pos keamanan.

Ustaz Shobur langsung melaporkan isi amplop yang ia terima dua hari lalu. Shobur mengatakan, dalam amplop tersebut terdapat satu surat yang tertuju untuk dirinya, dan tiga amplop putih yang masing-masing tertuju untuk Iwan, Solihin, dan ABI Zain bin Qasim.

Setelah diperiksa, surat itu berisi ancaman penculikan dan pembunuhan untuk 10 orang pemuka agama: Qurtubi Nafis, Abu Bakar Madris, Iwan, Shobur, Solihin, ABI Zain bin Qasim, Riyono GG. Koncen, M. Syarif Hidayatulloh, Ahmad Jaelani, dan Marzan.

Sebagian besar tanpa menyebut nama lengkap. Beberapa yang lain ditambah atribusi tempat tinggal seperti "Gardenia". "Dari situ lah saya lapor ke Bhayangkara pembina Kamtibmas (Bhabinkamtibmas) Tirtajaya, Pak Rudi. Saya WhatsApp suratnya kemudian ditindaklanjuti," kata Deddy.

Sehabis solat zuhur berjamaah, warga mengadakan pertemuan dengan sejumlah anggota kepolisian guna membicarakan kasus ini. Warga pun menyepakati untuk meningkatkan keamanan di wilayah Cluster Gardenia. Selain itu nama-nama yang disebut dalam surat diminta untuk lebih waspada. Kini kasus tersebut sedang ditangani oleh Kepolisian Resort Kota Depok.

Baca juga artikel terkait PENYERANGAN ULAMA atau tulisan lainnya dari Mohammad Bernie

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino