18 Juni 1999

Cerita-Cerita Panas Motinggo Busye yang Mengungkit Syahwat

Oleh: Irfan Teguh - 18 Juni 2018
Dibaca Normal 4 menit
Karangan seksi.
Letup imajinasi
sastra berahi
tirto.id - Sebelum peredaran video CD porno begitu masif dan akses internet belum tersedia di Indonesia, media pembangkit syahwat sempat beredar lewat bacaan stensilan. Nama ini diambil dari mesin stensil yang digunakan untuk mencetak bahan bacaan. Meski kualitas kertas dan cetakannya buruk, tapi tetap jadi sarana mengungkit libido pembacanya.

Ada dua nama legendaris yang tak bisa dipisahkan dari lapangan penulisan berahi ini, yaitu Enny Arrow dan Fredy S. Karya-karya mereka berhasil membuat pembaca panas dingin diguyur imajinasi syur. Selain dua nama legendaris tersebut yang terkesan misterius, ada juga seorang sastrawan yang pernah berkecimpung di dunia bacaan pembangkit syahwat, yaitu Motinggo Busye. Jauh sebelum cerpennya yang berjudul “Dua Tengkorak Kepala” diganjar sebagai cerpen terbaik Kompas pada 1999, ia selama dua puluh tahun masyuk menulis kisah-kisah roman berbalut seks.

Sejak 1960-an sampai 1980-an, Motinggo Busye amat produktif menulis cerita-cerita yang digumuli oleh adegan-adegan panas. Hari ini mungkin apa yang telah ditulis olehnya terasa hambar dan tak memantik hasrat seksual. Namun, di masa ketika akses audio dan visul amat langka, rangkaian kalimat yang ia susun bisa bikin jantung berdegup kencang. Simak sebuah adegan berikut yang Motinggo Busye tulis dalam novel berjudul Mbak Retno:

“Retno merengek-rengek manja sekaligus menolak setiap elusan Ramses. Retno ingin sekali memagut Ramses. Gadis dua puluh enam tahun itu selalu teringat nasihat dukun pengantin untuk menolak jika dielus. Tapi nasihat dukun itu lenyap sewaktu Ramses mengecup dadanya, dan Retno merintih, memelintirkan tubuhnya dengan liat dan akhirnya dirangkulnya Ramses. Nasihat dukun pengantin itu hirap lenyap dari kepala gadis dua puluh enam tahun itu. Dalam suatu amukan menerjang dan menggeliat, menggelinjang bermandi keringat. Meronta meringis geram.”

Karya-karya Motinggo Busye yang berbumbu esek-esek laris manis dan karenanya selalu terancam dibajak oleh mereka yang hendak mengeruk untung dengan jalan curang.

Agus Sri Danardana dan Puji Santoso dalam Pandangan Dunia Motinggo Busye (2007) menyebutkan bahwa novel triloginya yang berjudul Bibi Marsiti, Jatuni, dan Nyonya Maryono yang semuanya terbit tahun 1968 adalah format novel erotis Motinggo Busye yang kemudian dikembangkan menjadi sejumlah karya lain yang serupa, seperti Cross Mama, Tante Maryati, Sri Ayati, Retno Lestari, dan sebagainya.

Sementara itu, menurut Sony Karsono dalam disertasinya yang dipertahankan di The College of Arts and Sciences of Ohio University, yang berjudul “Indonesia’s New Order, 1966-1998: Its Social and Intellectual Origins” (2013), Motinggo Busye mulai menulis novel populer setelah membaca trilogi Studs Lonigan karya pengarang Amerika, James T. Farrell. Ia sangat mengagumi karya itu dan terinspirasi, lalu menulis trilogi Bibi Marsiti, Tante Maryati, dan Retak dari Dalam.



Namun, sebelum format trilogi, Motinggu Busye sebetulnya telah menulis kisah-kisah berbalut seks sejak 1963, di antaranya Hari Ini Tidak Ada Cinta (1963), Dosa Kita Semua (1963), Titian Dosa di Atasnya (1964), dan lain-lain.

Beberapa cerita yang didadarkan Motinggo Busye tak terkesan rumit, meski kerap dilatari persoalan hubungan yang berantakan. Simpul-simpul pertemuan orang-orang yang tengah bermasalah itulah yang sering menjadi pintu untuk menghadirkan adegan-adegan aduhai pemicu degup jantung.

Dalam Perempuan Paris (1968) misalnya. Seorang lelaki Indonesia berusia 33 tahun yang telah berkeluarga dan memiliki tiga orang anak, karena berkonflik dengan istrinya dan keperluan akademik serta keperluan lainnya, bermukim di Paris. Selama tinggal di Paris, lelaki itu beberapa kali bertemu dengan perempuan antah berantah, mempunyai masalah relasi, saling mengenali lalu bercumbu dan bercinta.

Ating nama lelaki Indonesia itu. Sekali waktu ia dikenalkan oleh Henri, kawannya, kepada Nina Papandreou, seorang mahasiswi cantik berayah tentara Jerman yang mati ditembak tentara Jerman. Nina selalu merasa dirinya anak haram. Menurutnya, sekali waktu seorang tentara Nazi yang kesepian mencari penghiburan dan bertemu dengan seorang perempuan yang membutuhkan sepotong roti. Dan perempuan itu adalah ibunya. Maka ia selalu merasa menjadi anak Nazi dan itu haram.

Kekecewaan Nina pada asal asul, dan kegelisahan Ating terhadap hubungannya dengan sang istri dipertemukan dalam sebuah perkenalan. Kedua insan itu lalu memadu kasih. Ating dan Nina yang dalam penggambaran Motinggo Busye sebagai gadis yang tubuhnya montok dan padat serta rambut pirangnya menimbulkan selera, memacu berahi para pembaca, yang terpancing imajinasinya.

“Gemetar telunjuk-telunjukku menyelusupi rambutnya yang pirang. Kuketahui kancing baju atasku dua buah dibukanya, dan jari-jarinya menyelusupi bagai akan menghitung tiap helai bulu dadaku yang bertumbuh lebat dan rajin kuminyaki saban hari dengan mentega. Napasnya berdesah sewaktu bibirnya seakan-akan kuremas dengan keberahian penuh, ibarat kuda jantan yang lepas dari kandang, tanganku menyelusup memasuki blousenya, dan Nina Papandreou merengek dengan napasnya mengalun-ngalun, tetapi kemudian dia tersentak melepaskan pelukannya,” tulisnya.

“’Mari kita menyewa gondola’, katanya, menyeret lenganku,” tambah Motinggo.

Sampai di titik itu, Motinggo Busye telah menghamparkan rasa penasaran pembaca: bagaimana adegan selanjutnya di gondola?

Masih dalam novel yang sama, Motinggo Busye lagi-lagi mempertemukan Ating dengan seorang perempuan yang mempunyai persoalan hubungan dalam keluarga. Alkisah Ating bertemu dengan Myriam Debussy, seorang perempuan yang sudah bersuami tapi kesepian. Gabriel, suami yang telah menikahinya selama enam tahun, ia anggap telah mati sebelum ajal menjemput. Salah satu sebabnya adalah Gabriel impoten sementara Myriam menghendaki anak.

Dalam perjumpaan yang disatukan oleh curahan hati persoalan relasi masing-masing, Ating dan Myriam saling memagut hasrat. Mereka bergumul dalam berahi yang bergelombang.

“Kubenamkan kepala perempuan itu ke dalam dadaku. Kuciumi rambutnya yang coklatjingga itu. Dia menggelepar dalam pelukanku. Perlahan napasku menjalari leher dari sebalik belakang kupingnya. Dia menggelinjang, bibirnya terbuka. Entah apa suara yang menggeletar dari bibirnya itu. Kukunci suara bibirnya seketika itu juga, sehingga dia meronta-ronta, mengamuk bagaikan kuda liar dan menyeretku ke dalam,” tulis Motinggo.

Imajinasi pembaca terus dipacu olehnya.

“Aku tendang pintu kamar itu hingga terbuka. Dan kemudian dia juga menendang pintu itu kembali hingga tertutup, kemudian menguncinya dengan begitu tergesa. Diraihnya leherku, dilemparkannya bantal ke bawah tempat tidur. Aku terseret,” tambahnya.



infografik mozaik motinggo boesje



Tiga Periode Kepengarangan Motinggo Busye


Ia lahir di Kupangkota, Telukbetung, Bandarlampung, pada 21 November 1937. Nama aslinya adalah Bustami Dating. Kedua orangtunya berasal dari Minangkabau. Ayahnya bernama Djalid Sutan Rajo Alam, dan ibunya bernama Rabi’ah Jakub. Ayahnya bekerja sebagai klerk KPM di Kupangkota. Namun, kedua orangtuanya meninggal dunia ketika Bustami Dating baru berusia 12 tahun. Setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, Bustami Dating diasuh oleh neneknya di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Dalam Pandangan Dunia Motinggo Busye (2007), Agus Sri Danardana dan Puji Santoso menjelaskan, nama Motinggo Busye dipakai sejak 1953 saat puisinya dimuat di sebuah majalah.

Mengutip dari Taufiq Ismail, kedua penulis ini menerangkan bahwa kata “motinggo busye” berasal dari bahasa Minang, mantiko bungo, yang artinya “campuran antara sifat bengal eksentrik, suka membuat gaduh, ada kocaknya, dan juga tak tahu malu”.

Namun hal tersebut disanggah oleh Motinggo Busye yang mengatakan bahwa mentiko bungo artinya seperti bunga yang harum mewangi, bukan berkonotasi jelek.

Nama pena inilah yang kemudian dipakai oleh Bustami Dating saat menulis di sejumlah media massa, seperti Minggu Pagi, Budaya, Mimbar Indonesia, Siasat, Yudha Minggu, Sinar Harapan, Horison, Kisah, Sastra, Nasional, dan Aneka.

Setelah menamatkan SMA di Bukittinggi, Motinggo Busye melanjutkan ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, tapi tidak selesai. Ia kemudian menulis, menekuni minatnya lamanya sejak kecil.

Pada 1958 ia menulis drama berjudul Malam Jahanam dan memenangkan hadiah Sayembara Penulisan Drama Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan. Tiga tahun kemudian ia memenangkan hadiah majalah Sastra untuk cerpennya Nasihat untuk Anakku.

Setelah menikah dengan Laksmi Bachtiar, ia pindah meninggalkan Yogyakarta untuk menetap di Jakarta. Di kota inilah arah kepengarangannya berganti dan mulai menulis karya-karya erotis.

“Saya saat itu lebih cenderung mengangkat seks, karena novel seperti itu justru yang banyak diminati. Dan tiap orang kan sebenarnya interes,” ujarnya.


Sebelum perfilman nasional lesu pada awal 1980-an, dalam catatan Agus Sri Danardana dan Puji Santoso, Motinggo Busye sempat juga terjun ke dunia film, dengan menyutradarai film Cintaku Jauh di Pulau dan Puteri Seorang Jenderal. Dari sinilah kemudian ia mempunyai keinginan untuk kembali menulis karya-karya yang tidak lagi erotis. Kembali ke jalur penulisan sebelumnya.

Hal lain yang mendorong ia meninggalkan cerita-cerita panas adalah karena dikritik anaknya yang belajar di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo. Anaknya berpendapat bahwa karya-karya bapaknya yang menonjolkan erotisme dapat meracuni generasi muda.

Maka pada 1984 ia mulai menulis novelet Sanu: Infinita Kembar—sisipan Majalah Horison yang diterbitkan Gunung Agung setahun berikutnya. Setelah itu ia mulai memenangi sejumlah penghargaan sastra, yaitu menjadi juara ke-4 pada sayembara penulisan cerpen majalah Horison tahun 1997 untuk cerpen “Bangku Batu”, masuk kategori 10 cerpen terbaik 1990-2000 versi majalah Horison untuk cerpen “Lonceng”.

Dalam kondisi sakit, ia masih sempat menulis cerpen “Dua Tengkorak Kepala” dan berhasil menjadi cerpen terbaik pilihan Kompas pada 1999.

Pada 18 Juni 1999, hari ini atau 19 tahun yang lalu, Motinggo Busye wafat di Jakarta. Sastrawan yang sempat berkubang dalam penulisan kisah-kisah pembangkit berahi itu harus mengakhiri riwayatnya, jejaknya terhampar dalam tiga setapak periode kepengarangan.

“Perkembangannya sangat menarik. Semakin ia mendalami agama, semakin ia terbuka mendengarkan pendapat orang lain,” ujar Remy Sylado.

Baca juga artikel terkait SASTRAWAN atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Suhendra