Menuju konten utama

Sastrawan Ignas Kleden Wafat, Disemayamkan di Rumah Duka Carolus

Ignas Kleden dikenang sebagai sosok yang menginisiasi Sekolah Demokrasi di bawah naungan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID).

Sastrawan Ignas Kleden Wafat, Disemayamkan di Rumah Duka Carolus
41 TAHUN PKJ TIM. DR Ignas Kleden membawakan pidato kebudayaan berjudul "Seni & Civil Society" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (10/11). Acara tahunan itu dalam rangka peringatan 41 tahun Pusat Kesenian Jakarta- Taman Ismail Marzuki yang jatuh pada 10 November. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus/nz/09.

tirto.id - Sastrawan cum sosiolog asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ignas Kleden, tutup usia, Senin (22/1/2024).

Kabar meninggalnya mendiang Ignas Kleden disampaikan oleh eks Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara.

"Telah berpulang dalam damai, Bapak Ignas Kleden pada Senin, 22 Januari pukul 03.46 WIB di RS Suyoto, Jakarta Selatan," tulis informasi yang diterima reporter Tirto, Senin (22/1/2024).

Ignas Kleden tutup usia pada usianya yang ke-75. Saat ini, jenazah Ignas Kleden tengah disemayamkan di Rumah Duka Carolus, Jakarta.

Nantinya, jenazah Ignas Kleden akan dikremasi di Rumah Duka Carolus, pada Rabu (23/1/2024) lusa.

Sosok Ignas Kleden Pendiri Sekolah Demokrasi

Ignas Kleden lahir pada 19 Mei 1948 di Waibalun, Larantuka, Flores Timur. Ignas Kleden dikenal sebagai sastrawan, sosiolog, cendekiawan, dan kritikus sastra.

Beka mengenal Ignas sebagai sosok yang menginisiasi Sekolah Demokrasi di bawah naungan Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID).

Sekolah itu menjadi ruang untuk belajar dan menyerap berbagai inisiatif masyarakat tentang demokrasi di Indonesia. Sekolah Demokrasi mendidik selama setahun para pegawai negeri, aktivis, pengusaha, wartawan, guru dan elemen masyarakat tentang demokrasi dan partisipasi politik yang bersih serta antikorupsi.

"Salah satu tokoh yang memberi warna dan kualitas soal demokrasi," kata Beka kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait IGNAS KLEDEN MENINGGAL atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Bayu Septianto