Cegahlah Bunuh Diri Anak dengan Menghargai Mereka

Oleh: Patresia Kirnandita - 26 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Apresiasi penting agar anak bisa menjalani sekolah dengan baik dan menghindarkan mereka dari depresi yang berujung bunuh diri. Namun, keliru dalam mengapresiasi juga bisa membuat anak terjebak di zona nyaman.
tirto.id - Paparan media massa membuat wacana terkait bunuh diri melambung seketika. Banyak sudut pandang yang dipakai dalam memotret fenomena ini, mulai dari siapa yang melakukan, penyebab, cara, hingga solusi preventif bunuh diri.

Salah satu segmen yang potensial melakukan bunuh diri adalah remaja. Transisi dari fase anak-anak ke remaja selalu diikuti perubahan hormonal yang memicu ledakan emosi. Kecenderungan depresi remaja pun dapat terjadi karena menumpuknya tekanan yang mereka terima, bisa dari keluarga, teman sepermainan, sekolah, hingga berbagai macam media baik cetak maupun online.

Belum lama ini, jenama minuman ringan berpasar global, Mirinda, merilis iklan sepanjang 3 menit di Youtube yang mengangkat isu depresi dan bunuh diri anak sekolah akibat tekanan orangtua di India. Mirinda menggunakan #ReleaseThePressure dalam kampanye yang telah disaksikan 24,037,266 kali tersebut.

Dalam video tersebut ditampilkan dramatisasi sejumlah remaja yang membacakan surat terbuka untuk orangtua mereka. Mereka mencurahkan pengalamannya menghadapi tekanan psikologis menjelang ujian dan menjalani kehidupan sekolah yang diperparah dengan tuntutan ayah-ibunya.

Para remaja merindukan kesempatan untuk bermain dan bersenang-senang dengan teman sebayanya, tetapi alih-alih mendapatkannya, mereka justru didorong untuk menghabiskan nyaris separuh hari untuk belajar tanpa henti.

Video yang mengharu biru ini diakhiri dengan petikan laporan dari National Crime Records Bureau, "Accidental Deaths and Suicides in 2015" dan sejumlah laporan independen lain yang menyatakan bahwa tekanan ujian dan tekanan untuk tampil prima di sekolah merupakan salah satu penyebab utama depresi dan risiko bunuh diri pada remaja.

Sekalipun mereka bukanlah siswa-siswi papan bawah di sekolah, perasaan terintimidasi dan kecemasan tidak pernah berhenti menghantui para remaja. Beberapa penelitian pun menunjukkan berbagai sisi gelap lain orang-orang pintar. Kerapnya mereka mengalami hal ini salah satunya disebabkan oleh kurang apresiasi dari sekitar, terutama dari orang-orang yang ingin para siswa ini tunjukkan bahwa mereka berhasil pada poin tertentu dan telah berupaya seoptimal mungkin.

Satu Langkah Lebih Jauh Karena Apresiasi

Dalam banyak tulisan ilmiah, ditemukan berbagai manfaat positif dari apresiasi. Ryan M. Niemiec, Psy.D. memaparkan dalam situs Psychology Today bahwa apresiasi membuat hubungan dua pihak terjaga.

Apresiasi dapat menjadi salah satu bentuk komunikasi orangtua yang membuat anak merasa nyaman dan diterima oleh mereka, sehingga level kepercayaan dan keterbukaan pada akhirnya dapat meningkat. Keterbukaan antara orangtua-anak ini menjadi penting karena dalam banyak kasus depresi dan bunuh diri, orangtua sering kali tidak menyadari bahwa anaknya sedang dirundung masalah.

Apresiasi juga tak melulu berasal dari orang lain. Rasa syukur adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap diri sendiri yang sama manfaatnya dengan apresiasi dari luar. Dari hasil studi yang dilakukan Dr. Robert A. Emmons dari University of California dan Dr. Michael E. McCullough dari University of Miami yang ditulis di situs Harvard Health Publications, ditemukan fakta bahwa orang-orang yang terbiasa mengucap syukur lebih optimis dan merasa hidup mereka lebih baik.

Hal ini senada dengan hasil penelitian Dr. Martin E. P. Seligman dari University of Pennsylvania yang melihat korelasi positif antara rasa syukur dan tingkat kebahagiaan seseorang.

Hal baik lain yang dapat ditimbulkan apresiasi adalah lahirnya motivasi untuk menjadi selangkah lebih maju. Jones dan Hill (2003) melihat adanya apresiasi dari komunitas tempat para siswa terjun dalam kegiatan bakti sosial membuat mereka merasa lebih baik tentang dirinya dan mendorong mereka untuk terus melakukan hal tersebut.

Orangtua pun dapat melakukan hal serupa kepada anak-anak mereka yang tengah berjibaku dengan aneka tugas atau ujian di sekolah untuk meringankan beban psikologis anak, sekaligus menjaga supaya penilaian diri anak tidak merosot.

Infografik Efek Positif Apresiasi

Jebakan Apresiasi

Ada yang beranggapan bahwa jika anak sekolah terbiasa menerima apresiasi, justru dampak-dampak negatif yang akan lebih banyak didapatkan. Anak berada di zona nyaman dan kadung bangga dengan pencapaiannya sehingga malas untuk meningkatkan performa di sekolah.

Tulisan Dweck pada 2007 yang dikutip John Orlando di situs Faculty Focus menyatakan bahwa mereka yang sudah terlena dengan apresiasi memiliki kecenderungan untuk tidak mampu menghadapi tantangan yang lebih besar di kemudian hari.

Lantas bagaimana caranya untuk memberi apresiasi yang tepat guna?

Mengutip studi Henderlong dan Lepper (2002), Gwen Dewar Ph.D. menulis di Parenting Science sejumlah trik yang patut diikuti orangtua dalam memberikan apresiasi. Pertama, tunjukkan ketulusan dan pujian yang spesifik kepada anak. Sifat-sifat tertentu yang potensial membawa keuntungan di kemudian hari juga bisa disoroti alih-alih skor di kertas ujian yang diterima anak.

Saat anak menunjukkan kertas hasil ujian yang tak optimal “Kamu teliti sekali mengerjakan bagian ini,” bisa memompa moral anak dibanding orangtua bertingkah bak ibu Nobita setiap kali ia mendapati skor 0 dalam tes anaknya.

Orangtua juga mesti berhati-hati saat memuji anak terkait dengan hal-hal yang sudah sejak awal mereka senangi dan prestasi yang terlalu mudah dicapai. Dan yang terakhir, anak butuh didukung untuk berfokus menguasai keterampilan tertentu, bukan justru dikomparasi dengan teman-temannya. Setiap individu tentu memiliki talenta yang berbeda.

Maka, tak adil jika menuding anak yang gemar dan tampil prima di bidang seni tak lebih berprestasi dari para juara olimpiade sains level sekolah.


========================

Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdikusi dengan pihak terkait, seperti psikolog atau psikiater maupun klinik kesehatan jiwa. Salah satu yang bisa dihubungi adalah Into the Light yang dapat memberikan rujukan ke profesional terdekat (bukan psikoterapi/ layanan psikofarmaka) di intothelight.email@gmail.com.

Baca juga artikel terkait BUNUH DIRI atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani