Menuju konten utama

Bukan Kepribadian Ganda, Alter Ego Diciptakan sebagai Strategi

Menciptakan alter ego hanya salah satu cara yang dibisa ditempuh untuk membantu meningkatkan performa ideal seseorang.

Bukan Kepribadian Ganda, Alter Ego Diciptakan sebagai Strategi
Ilustrasi alter ego. (FOTO/iStockphoto)

tirto.id - Gugup, cemas, tidak percaya diri merupakan hal yang wajar dialami oleh setiap orang dalam setiap fase kehidupannya.

Bahkan penampil kelas dunia seperti Beyonce dan Adele, tidak terlahir begitu saja dengan keberanian dan ketenangan saat harus tampil di atas panggung.

Namun pekerjaan mereka sebagai selebriti membuat mereka harus mencari cara untuk selalu tampil dengan penuh kepercayaan diri di panggung.

Caranya, dengan menciptakan alter ego, yaitu karakter yang dibentuk secara sadar untuk menampilkan sisi lain dalam diri dan terkadang sangat berseberangan.

Alter ego berbeda dengan kepribadian ganda atau gangguan identitas disosiatif (DID).

Alter ego dibentuk dengan sadar dan memiliki manfaat untuk seseorang sementara seorang dengan DID memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda dalam dirinya. Kepribadian tersebut bahkan bisa mengendalikan identitas seseorang untuk beberapa waktu.

Sasha Fierce adalah alter ego Beyonce yang tegas dan berdaya yang memungkinkannya tampil dengan lebih percaya diri dan sensual. Persona akan muncul ketika ia mendengar nada atau saat memakai stileto.

"Ketika gugup kemudian Sasha Fierce muncul, postur serta cara saya berbicara semuanya berbeda," kata Beyonce.

Strategi terus ia gunakan hingga 2010, ketika ia merasa sudah cukup dewasa secara psikologis.

Hal serupa pun juga dilakoni Adele. Terinspirasi Beyonce, ia menciptakan alter egonya yang bernama Sasha Carter. Persona itu adalah kombinasi dari persona Sasha Fierce-nya Beyonce dan bintang musik country June Carter.

Adele menyebut strategi itu membantunya memberikan yang terbaik dalam setiap penampilannya.

Teknik menciptakan alter ego yang disebut juga dengan Batman Effect ini sepintas tampak seperti gimmick seorang bintang. Namun penelitian menunjukkan ada beberapa manfaat yang nyata dari strategi tersebut.

Di sisi psikologi, menciptakan alter ego menurut Rachel White, asisten profesor psikologi di Hamilton College di New York State merupakan bentuk ekstrim dari menjauhkan diri sehingga memungkinan seseorang untuk melihat situasi dengan lebih tenang.

"Self-distancing memberi kita sedikit ruang ekstra untuk berpikir rasional mengenai sebuah situasi. Itu memungkinkan kita untuk mengendalikan perasaan yang tidak diinginkan seperti kecemasan, meningkatkan ketekunan pada tugas-tugas yang menantang dan meningkatkan pengendalian diri," kata White.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ethan Kross, profesor psikologi di University of Michigan. Dalam beberapa studi yang pernah ia lakukan menunjukkan bahwa bahkan perubahan kecil dalam perspektif, dapat membantu seseorang mengendalikan emosi mereka.

Salah satu studi yang pernah Kross lakukan adalah meminta peserta penelitian untuk memberikan presentasi kecil di depan umum. Sebelumnya, peserta disarankan untuk memikirkan emosi mengenai tantangan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, seolah-olah mereka adalah entitas yang terpisah.

Saran itu dirancang untuk mendorong peserta melihat situasi dari perspektif luar. Benar saja, penciptaan jarak psikologis berhasil membantu peserta mengatasi kecemasan mereka. Dan rasa percaya diri yang lebih besar itu tercermin dari kualitas presentasi mereka.

Keberhasilan mengendalikan emosi hanya satu dari beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dengan mengembangkan alter ego.

Clinton Senkow, Co-Founder Influencive dan CEO Senkow Ventures dalam artikelnya di Forbes menjelaskan bahwa alter ego bisa berguna dalam dunia bisnis profesional karena memungkinkan siapa pun menjadi seseorang yang berbeda dari diri mereka sehari-hari.

Contohnya saja begini, seseorang bisa mengubah dirinya menjadi pendengar, negosiator, atau manajer yang baik ketika pergi ke pertemuan dengan klien baru atau saat melakukan presentasi penjualan.

Sebagai langkah awal untuk memulainya, Senkow menyarankan seseorang untuk memilih karakter terlebih dahulu yang tentunya akan membantu mencapai hasil seperti yang diinginkan. Mulai dari orang yang dikagumi seperti pahlawan super, karakter TV atau fiksi dalam buku, dan juga mentor bisnis.

Bayangkan bagaimana karakter itu akan menangani situasi tertentu, misalnya jika berada dalam sebuah rapat besar.

Selanjutnya, jangan pergi ke rapat tersebut sebagai diri yang normal. Alih-alih, tempatkan diri pada posisi karakter dan jadilah mereka sepenuhnya.

"Bukan menjadi palsu tetapi salurkan alter ego dalam diri Anda untuk mendapatkan hasil sukses yang Anda cari," ungkap Senkow.

"Pola pikir adalah alat paling ampuh yang dimiliki oleh siapa pun dan dalam bisnis pola pikir itu perlu dimanfaatkan secara maksimal. Mengapa tidak mencoba menjadi orang yang paling Anda kagumi supaya nantinya Anda bisa menjadi orang yang sama (dalam hal positif) suatu hari nanti?," tambahnya.

Infografik Aler Ego

Infografik Alter Ego. tirto.id/Ecun

Menerapkan Batman Effect pada Anak

Menariknya, strategi Batman Effect ini sebenarnya dapat pula mulai diajarkan pada anak-anak sehingga memberikan dampak signifikan ketika kelak mereka dewasa. Dalam hal ini mereka akan menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan lebih tangguh dalam menghadapi situasi sulit.

Amy Morin, LCSW seorang psikoterapis dan penulis 13 Things Mentally Strong People Don’t Do memaparkan sulit untuk mengajarkan anak-anak kekuatan mental untuk tidak menyerah di tengah dunia modern seperti sekarang ini.

Teknologi memungkinkan kepuasan instan dan perangkat digital telah menawarkan jalan keluar yang mudah saat keadaan menjadi sulit.

Padahal tanpa kegigihan, anak-anak dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang berhenti setiap kali menghadapi tantangan. Itu mungkin saja berarti berhenti dari pekerjaan ketika mereka tidak mendapatkan promosi atau mengakhiri hubungan setiap kali mengalami kesulitan komunikasi.

Batman Effect adalah cara yang menyenangkan dan sederhana untuk menunjukkan kepada anak bahwa mereka lebih kuat dari yang mereka kira.

Contohnya saja saat orang tua ingin memotivasi anak untuk membersihkan kamar atau menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Batman Effect bisa memberi keunggulan yang anak butuhkan.

Caranya mirip dengan yang dilakukan pada orang dewasa. Identifikasi salah satu karakter favorit anak dan pastikan itu seorang pekerja keras, misalnya seperti Rapunzel. Kemudian katakan kepada anak untuk berpura-pura menjadi Rapunzel dan melakukan pekerjaan dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya.

Cek secara berkala dengan menanyakan bagaimana kondisinya. Orang tua mungkin akan menemukan sang anak tampil lebih baik dari biasanya.

Dan setiap kali anak berhasil melalui tantangan itu, ia akan membangun kekuatan mental yang ia butuhkan untuk melakukan hal-hal sulit. Semakin percaya diri dia maka semakin banyak tantangan yang akan bisa ia tangani.

Sulitnya Membangun Kepercayaan Diri

Memiliki tingkat kepercayaan diri yang sehat dapat membantu seseorang menjadi lebih sukses dalam kehidupan pribadi dan juga profesional.

Sayangnya, tidak setiap orang memiliki kemampuan itu sejak awal. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap rendahnya rasa percaya diri juga berbeda bagi setiap orang, salah satunya adalah pengalaman hidup.

Barbara Markway, Ph.D seorang psikolog klinis mengatakan sejumlah pengalaman individu dapat menyebabkan perasaan tidak yakin sepenuhnya pada diri sendiri atau bahkan tidak berharga. Itu termasuk di antaranya adalah trauma pelecehan fisik, seksual, dan emosional yang dapat memengaruhi perasaan harga diri secara signifikan.

Lalu gaya pengasuhan di keluarga juga dapat berpengaruh. Misalnya, jika seseorang tinggal di tengah-tengah orang tua yang terus meremehkan dan juga membandingkan dengan orang lain, kemungkinan itu akan berdampak pada seseorang di masa dewasanya.

Namun itu tidak melulu terjadi di masa kanak-kanak, pengalaman memalukan di masa dewasa seperti pelecehan di tempat kerja atau kelompok sebaya yang tidak menghormati atau merendahkan juga membuat seseorang akhirnya cenderung tidak ingin mengejar tujuan yang ambisius.

Pengaruh eksternal lainnya juga turut berperan yaitu media. Banyak pesan media yang membuat seseorang menjadi merasa kekurangan. Ambil contoh saja, pernikahan yang sempurna, karier impian, dan penampilan supermodel yang bisa saja semua itu telah dikurasi atau diedit terlebih dahulu.

Menciptakan alter ego hanya salah satu cara yang dibisa ditempuh untuk membantu meningkatkan performa ideal seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah bagaimana upaya itu dibarengi dengan menerima diri sendiri dan konsisten untuk terus mengasah dan menambah skill supaya kualitas diri pun terus meningkat.

Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan lainnya dari MN Yunita

tirto.id - Gaya hidup
Kontributor: MN Yunita
Penulis: MN Yunita
Editor: Lilin Rosa Santi