Menuju konten utama

BRIN Gali Potensi Ekonomi Kreatif Lewat Riset Budaya Nusantara

Riset gastronomi dan pengobatan tradisional BRIN menemukan ribuan resep kuliner hingga ramuan kesehatan dalam manuskrip kuno nusantara.

BRIN Gali Potensi Ekonomi Kreatif Lewat Riset Budaya Nusantara
Acara “BRIN Goes to Industry 4: Riset Budaya, Berdaya” pada sesi Eksplorasi Rumpun Gastronomi dan Kesehatan. Merlina Aryanti/Tirto.id.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan hasil riset budaya menjadi produk industri kreatif lewat forum bertajuk “BRIN Goes to Industry 4: Riset Budaya, Berdaya” di Auditorium Soemitrodjojohadikusumo, Selasa (19/5/2026).

Melalui forum ini, peneliti BRIN memaparkan pengembangan riset gastronomi, pengobatan tradisional, hingga rempah nusantara sebagai potensi ekonomi berbasis budaya.

Ketua Kelompok Riset Etnomedisin dan Kulinari BRIN, Dr. Suyami, mengatakan kekayaan gastronomi Nusantara tersimpan dalam berbagai manuskrip Jawa kuno. Salah satu penelitian timnya menelusuri pengetahuan kuliner dalam Serat Centhini yang memuat ratusan jenis makanan tradisional.

Dalam kajian tersebut, BRIN menemukan sedikitnya 969 jenis makanan yang terdiri dari 63 jenis olahan nasi dan karbohidrat, 129 bahan sayuran, 402 lauk-pauk, 236 kudapan, 34 minuman, serta 72 jenis buah-buahan. Menurut Suyami, kekayaan kuliner itu menunjukkan masyarakat Jawa sejak abad ke-18 telah mengenal ragam olahan makanan yang kompleks.

“Kalau sekarang orang menjual berbagai macam sambal hingga puluhan jenis, ternyata dalam Serat Centhini disebutkan ada 53 macam sambal,” ujar Suyami dalam sesi Eksplorasi dan Kolaborasi Pemanfaatan Hasil Riset Arbastra.

Ia menambahkan, manuskrip kuno juga mencatat berbagai makanan yang kini mulai jarang dikenal masyarakat. Beberapa di antaranya ialah sayur ragapeng, sayur posep, hingga beragam jenis jenang dan kudapan berbahan ketan yang masih bisa ditemukan di pasar tradisional.

Menurut dia, kekayaan gastronomi tradisional dapat dikembangkan menjadi produk kuliner modern berbasis budaya lokal. Suyami menilai pengembangan makanan tradisional dari manuskrip kuno berpotensi melahirkan variasi produk kuliner khas Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Selain gastronomi, BRIN juga meneliti pengobatan tradisional dalam berbagai manuskrip nusantara. Tim peneliti menemukan sekitar 2.800 formula pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit. Mulai dari gangguan luar tubuh hingga penyakit dalam.

Suyami menjelaskan masyarakat Nusantara sejak lama memiliki pengetahuan empiris mengenai pengobatan tradisional. Pengetahuan itu, kata dia, berkembang melalui pengalaman turun-temurun yang masih digunakan sejumlah masyarakat hingga sekarang.

Dalam paparannya, ia juga menyinggung praktik pengobatan tradisional untuk gangguan kejiwaan dan epilepsi. Berdasarkan pengalaman sejumlah praktisi pengobatan tradisional, beberapa pasien disebut mengalami pemulihan setelah menjalani terapi berbasis tradisi lokal.

Sementara itu, Ketua Kelompok Riset Arkeologi Maritim BRIN, Dr. Ery Soedewo, memaparkan hasil penelitian arkeologi terkait rempah dan resin aromatik nusantara. Penelitian itu menunjukkan Indonesia telah menjadi pusat perdagangan rempah dunia jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Ery menjelaskan sejumlah situs arkeologi di Sumatra menemukan jejak kapur barus, kemenyan, pala, cengkih, hingga kapulaga yang berasal dari abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Temuan tersebut memperlihatkan komoditas rempah nusantara telah diperdagangkan secara global sejak awal milenium pertama.

“Data arkeologis menunjukkan rempah kita sudah going global jauh sebelum kedatangan Portugis dan Belanda,” kata Ery.

Menurut dia, tingginya permintaan rempah Indonesia kembali terlihat saat pandemi COVID-19. Pada periode 2020 hingga 2021, ekspor minyak atsiri dan produk berbasis rempah mengalami peningkatan signifikan, termasuk ke Cina dan India.

Ia menjelaskan rempah dan resin aromatik nusantara juga memiliki manfaat kesehatan dan kecantikan. Kapur barus, misalnya, diketahui memiliki fungsi antibakteri dan penurun demam, sedangkan kemenyan bisa dimanfaatkan sebagai antiseptik serta penenang alami.

Penelitian BRIN juga menemukan bukti penggunaan teknologi penyulingan rempah pada masa lampau. Berbagai artefak distilasi ditemukan di sejumlah situs arkeologi dan diduga digunakan untuk menghasilkan minyak atsiri yang diperdagangkan ke berbagai wilayah dunia.

Selain rempah, tim peneliti menemukan bukti perdagangan pala, pinang, kemiri, cengkih, hingga kelapa di sejumlah situs pesisir Nusantara. Temuan itu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat perdagangan maritim dan rempah dunia sejak masa awal sejarah.

Melalui kegiatan “BRIN Goes to Industry 4”, BRIN menegaskan riset budaya tidak hanya berfungsi mendokumentasikan warisan masa lalu, tetapi juga dapat menjadi dasar pengembangan industri kreatif, kesehatan, dan ekonomi berbasis pengetahuan lokal.

Baca juga artikel terkait BRIN atau tulisan lainnya dari Merlina Aryanti

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Addi M Idhom