Menuju konten utama

Bolehkah Puasa di Bulan Ruwah 2024 & Kalender Jawa Februari

Bolehkah puasa pada bulan Ruwah 2024 atau Syaban 1445 H? Apakah setelah tanggal 15 Syaban tidak boleh berpuasa? Cek kalender Jawa & Hijriah Februari 2024.

Bolehkah Puasa di Bulan Ruwah 2024 & Kalender Jawa Februari
Ilustrasi Buka Puasa Bersama. foto/istockphoto

tirto.id - Bulan Ruwah atau Syaban dimulai pada Minggu, 11 Februari 2024. Ada sebagian kalangan yang menganggap pada bulan ini, terdapat larangan untuk berpuasa. Bagaimana penjelasan terkait hal ini? Apakah boleh puasa pada bulan Syaban?

Ruwah menempati urutan bulan ke-8 dalam kalender Jawa. Ruwah terjadi setelah bulan Rejeb (Rajab) dan sebelum memasuki bulan Pasa (Poso). Dalam kalender Hijriah, padanan Ruwah adalah Syaban.

Bulan Ruwah biasanya diperingati lewat sejumlah acara. Tradisi ini dilakukan sejumlah kalangan masyarakat dalam rangka menyambut bulan puasa.

Kata ruwah berasal dari bahasa Arab. Artinya ruh (jamak arwah), yakni jiwa roh. Alhasil, banyak kalangan terutama dari masyarakat Jawa yang mengisi kegiatan lewat ziarah kubur hingga berdoa untuk keluarga yang sudah meninggal.

Kegiatan ziarah tersebut dikenal dengan istilah nyadran. Aktivitas ini bertujuan untuk mengingatkan manusia terhadap kematian dan memantapkan keimanan terhadap Tuhan. Orang yang masih hidup diingatkan agar selalu menghormati dan mendoakan para leluhur.

Tak hanya nyadran, kegiatan lain yang sering meramaikan bulan Ruwah adalah apeman, yakni makanan yang berasal dari ketan, kolak dan apem. Nantinya, sajian tersebut dibagikan ke lingkungan sekitar demi mempererat silaturrahmi.

Kapan Bulan Ruwah Tahun 2024?

Bulan Ruwah 1957 Jim awal dimulai pada hari Minggu, 11 Februari 2024. Pasarannya adalah Minggu Pon.

Ruwah 2024 setidaknya berlangsung selama 29 hari dan berakhir pada tanggal 10 Maret 2024 dengan pasaran Minggu Legi. Bulan berikutnya sudah memasuki Pasa atau Ramadhan.

Dengan demikian, Ruwah 2024 terjadi selama bulan Februari dan Maret berdasarkan kalender Masehi. Tanggal tepatnya yaitu 11 Februari hingga 10 Maret 2024.

Kalender Jawa Bulan Februari 2024

Berikut adalah kalender Jawa bulan Februari 2024:

  • 1 Februari 2024: 20 Rejeb 1957: Kamis Pon
  • 2 Februari 2024: 21 Rejeb 1957: Jumat Wage
  • 3 Februari 2024: 22 Rejeb 1957: Sabtu Kliwon
  • 4 Februari 2024: 23 Rejeb 1957: Minggu Legi
  • 5 Februari 2024: 24 Rejeb 1957: Senin Pahing
  • 6 Februari 2024: 25 Rejeb 1957: Selasa Pon
  • 7 Februari 2024: 26 Rejeb 1957: Rabu Wage
  • 8 Februari 2024: 27 Rejeb 1957: Kamis Kliwon
  • 9 Februari 2024 = 28 Rejeb 1957: Jumat Legi
  • 10 Februari 2024: 29 Rejeb 1957: Kamis Pahing
  • 11 Februari 2024: 1 Ruwah 1957: Minggu Pon
  • 12 Februari 2024: 2 Ruwah 1957: Senin Wage
  • 13 Februari 2024: 3 Ruwah 1957: Selasa Kliwon
  • 14 Februari 2024: 4 Ruwah 1957: Rabu Legi
  • 15 Februari 2024: 5 Ruwah 1957: Kamis Pahing
  • 16 Februari 2024: 6 Ruwah 1957: Jumat Pon
  • 17 Februari 2024: 7 Ruwah 1957: Sabtu Wage
  • 18 Februari 2024: 8 Ruwah 1957: Minggu Kliwn
  • 19 Februari 2024: 9 Ruwah 1957: Senin Legi
  • 20 Februari 2024: 10 Ruwah 1957: Selasa Pahing
  • 21 Februari 2024: 11 Ruwah 1957: Rabu Pon
  • 22 Februari 2024: 12 Ruwah 1957: Kamis Wage
  • 23 Februari 2024: 13 Ruwah 1957: Jumat Kliwon
  • 24 Februari 2024: 14 Ruwah 1957: Sabtu Legi
  • 25 Februari 2024: 15 Ruwah 1957: Minggu Pahing
  • 26 Februari 2024: 16 Ruwah 1957: Senin Pon
  • 27 Februari 2024: 17 Ruwah 1957: Selasa Wage
  • 28 Februari 2024: 18 Ruwah 1957: Rabu Kliwon
  • 29 Februari 2024: 19 Ruwah 1957: Kamis Legi

Apakah Boleh Puasa di Bulan Ruwah Jawa?

Bulan Ruwah dalam kalender Jawa, memiliki padanan bulan Syaban menurut penanggalan Hijriah.

Salah satu perayaan selama bulan Syaban adalah Nisfu Syaban, yaitu pertengahan bulan syaban. Bulan ini digunakan untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan.

Masyarakat pun sudah biasa melakukan sejumlah aktivitas, semisal ziarah kubur hingga membersihkan kuburan.

Mengutip laman Kemenang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ruwahan atau arwahan menjadi tradisi yang berkaitan dengan pengiriman doa untuk arwah orang-orang yang telah meninggal.

Firman Allah dalam Surah Al Hasyr ayat 10 adalah sebagai berikut.

وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Wal-lażīna jā'ū mim ba‘dihim yaqūlūna rabbanagfir lanā wa li'ikhwāninal-lażīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj‘al fī qulūbinā gillal lil-lażīna āmanū rabbanā innaka ra'ūfur raḥīm(un).

"Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang,".

Ayat di atas memiliki makna bahwa doa termasuk salah satu bentuk manfaat yang diberikan orang yang masih hidup untuk orang yang sudah meninggal.

Berdasarkan sebuah hadis riwayat Ahmad dan Nasa’i, bulan ruwah atau syaban termasuk istimewa bagi Nabi Muhammad SAW. Oleh sebab itu, ruwah menjadi kesempatan yang mulia untuk semakin memperbanyak amalan ibadah, seperti zikir, membaca Al-Qur’an, shadaqah, hingga berpuasa sunah.

Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata, "Aku bertanya Rasulullah tentang bulan Syaban kerana aku tidak pernah lihat baginda banyak berpuasa sunat sebagaimana beliau berpuasa dalam bulan Syaban,".

Baginda menjawab, "Bulan yang banyak manusia yang lalai dan padanya ialah bulan di antara Rejab dan Ramadan. Pada bulan Syaban akan diangkatkan segala catatan amalan hamba kepada Allah SWT. Dengan itu aku amatlah suka supaya diangkatkan segala amalanku ketika aku sedang berpuasa," (Hadis riwayat Ahmad dan Nasa’i).

Berdasarkan "Keutamaan Bulan Sya’ban yang Perlu Diketahui" yang ditulis oleh Ila Fadilasari (NU Online), Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah pengakuan Aisyah.

Dikatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Riwayat ini menjadi dasar kemuliaan bulan Syaban yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan.

Keistimewaan lain bulan Syaban adalah adanya Nisfu Sya’ban, yakni hari atau malam pertengahan bulan Syaban atau malam menuju 15 Syaban. Malaikat Raqib dan Atid akan menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT. Buku catatan amal yang digunakan setiap tahun juga bakal diganti dengan yang baru.

Dalam kalender, 15 Ruwah 1957 Jim Awal atau 15 Syaban 1445 H bertepatan dengan hari Minggu Pahing, 25 Februari 2024. Dengan demikian, malam nisfu Syaban adalah pada Sabtu Legi, 24 Februari.

Ada keyakinan bahwa setelah pertengahan Syaban, terdapat larangan berpuasa. Apakah setelah tanggal 15 Syaban tidak boleh berpuasa? Terkait hal ini, terdapat pendapat bahwa sebaiknya seseorang memang tidak berpuasa sunnah setelah 15 Syaban untuk memberi jeda dengan puasa Ramadhan.

Dalilnya adalah riwayat dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jika telah masuk pada pertengahan bulan Sya'ban, maka janganlah kalian berpuasa." (H.R. Tirmidzi).

Meskipun demikian, anjuran tersebut tidak berlaku untuk orang-orang yang sudah terbiasa berpuasa senin kamis, puasa daud, atau tengah menjalani puasa nadzar.

Selain itu, jika seseorang belum mengganti puasa Ramadhan tahun lalu, ia tetap wajib membayar puasa tersebut sebelum Ramadhan 1445 H tiba.

Berdasarkan sejumlah keterangan di atas, maka bulan Ruwah Jawa atau Syaban boleh alias sah-sah saja untuk digunakan berpuasa. Apalagi bagi seorang Muslim yang masih memiliki tanggungan puasa qadha Ramadhan.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2024 atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Iswara N Raditya