BMKG: Gempa di Zona Megathrust Mentawai Terjadi Lebih Dari 10 Kali

Oleh: Maya Saputri - 6 April 2018
Dibaca Normal 1 menit
"Sejak Rabu sudah lebih dari 10 kali Kepulauan Mentawai diguncang gempa dengan kekuatan di bawah 5 skala Richter"
tirto.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Padang Panjang, Sumatera Barat, menyatakan aktivitas kegempaan di zona Megathrust Mentawai meningkat sejak Rabu (4/4/2018) dini hari.

Hingga saat ini belum bisa diprediksi gempa beruntun dengan skala kecil yang terjadi tersebut akan diikuti gempa besar atau tidak.

"Sejak Rabu sudah lebih dari 10 kali Kepulauan Mentawai diguncang gempa dengan kekuatan di bawah 5 skala Richter," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Padang Panjang, Rahmat Triyono, seperti dikutip dari Antara, Jumat (6/4/2018).

Sedangkan menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, kemarin terjadi gempa beruntun lebih dari 8 kali dengan gempa kecil di sekitar Mentawai. “Tidak ada korban dan dampak merusak dari gempa tersebut,” ujar Sutopo kepada Tirto, Jumat (6/4/2018).

Dampak lanjutan dari gempa Mentawai ini, dikatakan Sutopo, hingga saat ini belum bisa diprediksi apakah akan diikuti gempa besar atau tidak. Pasalnya, sampai sekarang ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi gempa tersebut secara pasti.

“Memang di sekitar Mentawai masih menyimpan potensi gempa yang besar yang dikenal Mentawai Megathrust. Tapi tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi gempa. Terakhir gempa besar di segmen Mentawai terjadi pada 1838 yang membangkitkan tsunami,” jelas Sutopo.



Sebelumnya, ahli dari BPPT memprediksi ada potensi tsunami setinggi 57 meter di Pandeglang jika terjadi gempa megathrust 8,8-9 SR di Selatan Jawa Barat dan Selat Sunda.

Sutopo menjelaskan dalam sejarah terbentuknya Kepulauan Indonesia gempa dan tsunami pernah terjadi karena bergeraknya lempeng tektonik.

"Wilayah Indonesia memang rawan gempa dan memang benar ada potensi gempa megathrust di Selatan Jawa dan Selat Sunda," jelas Sutopo.



Dijelaskan Sutopo mengenai prediksi tinggi tsunami 57 meter di Pandeglang adalah modeling tsunami dengan menggunakan skenario terburuk berdasarkan teoritis, yang waktu kejadiannya tidak dapat diprediksi secara pasti.

"Potensi tsunami juga dapat terjadi di daerah lain yang berada di zona subduksi di wilayah Indonesia. Tapi tidak dapat diprediksi pasti. Yang penting kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana."

Ia menegaskan mitigasi baik struktural dan non-struktural perlu ditingkatkan. Secara alamiah Indonesia memang rawan gempa dan tsunami. Untuk itu mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat harus diperkuat.


Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri