Biografi Ahmad Yani: Pahlawan Revolusi Korban G30S & Panglima AD

Kontributor: Yuda Prinada, tirto.id - 2 Okt 2022 06:05 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Berikut biografi Ahmad Yani, pahlawan revolusi korban G30S yang menjabat Panglima AD (Angkatan Darat) pada 1965.
tirto.id - Ahmad Yani merupakan korban G30S (Gerakan 30 September) pada 1965 dengan posisi tertinggi di Angkatan Darat kala itu. Saat terbunuh pada dini hari 1 Oktober 1965, Yani masih memegang jabatan Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad). Dia orang nomor satu di Angkatan Darat sejak tahun 1962.

Setelah kematiannya pada peristiwa G30S 1965, Yani diberi gelar Jenderal Anumerta dan Pahlawan Revolusi. Dikutip dari Ensiklopedi Pahlawan Nasional (1995), Pahlawan Revolusi adalah gelar yang diberikan kepada 10 korban peristiwa G30S. Gelar ini diberikan melalui Surat Keputusan Presiden RI yang terbit pada bulan Oktober 1965.

Sejumlah 8 Pahlawan Revolusi terbunuh di Jakarta, sementara dua lainnya di Yogyakarta. Delapan korban adalah perwira tinggi Angkatan Darat (6 terbunuh di Jakarta), 1 perwira militer berpangkat Letnan Satu, dan satu lainnya polisi.

Daftar Pahlawan Revolusi adalah sebagai berikut:

  • Letjen Ahmad Yani (Jenderal Anumerta)
  • Mayjen Raden Suprapto (Letjen Anumerta)
  • Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono (Letjen Anumerta)
  • Mayjen Siswondo Parman (Letjen Anumerta)
  • Brigjen Donald Isaac Panjaitan (Mayjen Anumerta)
  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Mayjen Anumerta)
  • Kolonel Katamso Darmokusumo (Brigjen Anumerta)
  • Letkol Sugiyono (Kolonel Anumerta)
  • Lettu CZI Pierre Tendean (Kapten CZI Anumerta)
  • Brigadir Polisi Karel Sadsuit Tubun (Ajun Inspektur Polisi II Anumerta).

Dalam G30S 1965 di Jakarta, sekelompok tentara Resimen Cakrabirawa yang dipimpin oleh Letkol Untung bergerak dengan 3 grup: Pasopati, Bimasakti, dan Pringgodani/Gatotkaca.

Pasukan Pasopati bertugas menculik sejumlah jenderal angkatan darat. Dari 7 rumah jenderal yang mereka satroni, pasukan Pasopati hanya bisa menculik 6. Mereka ialah Letjen Ahmad Yani, Mayjen Soeprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen Sutoyo Siswomihardjo, dan Brigjen DI Pandjaitan.

Jenderal Abdul Haris Nasution (saat itu Menteri Pertahanan dan Keamanan) juga diburu pasukan Pasopati. Nasution selamat, tapi putrinya, Ade Irma Suryani jadi korban. Ajudan Nasution, Pierre Tendean diculik dan dibunuh di Lubang Buaya sebab dikira sang jenderal. Brigadir Polisi KS Tubun yang berjaga di rumah Wakil PM Johannes Leimena, tetangga Nasution, ikut terbunuh pula.


Sebagian pihak, termasuk di sejumlah publikasi resmi Pemerintah RI, hingga kini masih menyebut Gerakan 30 September sebagai G30S/PKI. Istilah terakhir bagian dari narasi dominan di Indonesia selama masa Orde Baru, yang merujuk pada penafsiran sejarah, bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah dalang penculikan para jenderal angkatan darat pada 1965.

Menurut sejarawan Indonesia, Asvi Warman Adam dalam wawancara dengan Koran Tempo (1 April 2007), istilah yang lebih obyektif secara ilmiah untuk menyebut peristiwa di tahun 1965 itu adalah "Gerakan 30 September." Alasan Asvi, pelaku penculikan (Untung dan Abdul Latief), pada tanggal 1 Oktober 1965, menyebut aksi mereka (juga dalam dokumen) sebagai Gerakan 30 September.

Asvi melalui artikel "Beberapa Catatan Tentang Historiografi Gerakan 30 September 1965" dalam Jurnal Archipel (2018) juga mencatat istilah G30S/PKI muncul sejak 1966. Setelah itu penggunaan istilah ini semakin umum seiring dengan menguatnya narasi dari Orde Baru bahwa PKI merupakan dalang G30S. Di sisi lain, terdapat sejumlah versi penafsiran sejarah, tentang dalang peristiwa itu dan bagaimana ia bisa terjadi. Selain itu, proses sebelum dan setelah G30S pun kompleks.

Biografi Ahmad Yani

Ahmad Yani lahir pada 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo, Jawa Tengah. Putra dari pasangan Sarjo (M. Wongsorejo) dan Murtini ini semula menempuh pendidikan dasar di HIS (Hollandsch Inlandsch School) Purworejo.

Saat kelas II, ia pindah ke HIS di Magelang, dan kemudian ke Bogor setelah kelas III. Yani berhasil tamat HIS pada 1935 di Bogor.

Di Kota Hujan itu pula, Yani menamatkan pendidikan menengah pertama di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) pada 1938. Dia lalu melanjutkan sekolah ke AMS (Algemeene Middelbrae School) pada tahun yang sama di Jakarta. Namun, setahun sebelum kelulusan, Yani dan rekan-rekannya di AMS berhenti sekolah seiring meletupnya Perang Dunia II.

Kala itu, bala tentara Jepang belum datang. Meskipun demikian, pemerintah Hindia Belanda sudah bersiap mengadang Dai Nippon, mengumumkan masa darurat perang dan mengenakan pendidikan militer terhadap para pemuda Indonesia. Pemerintah kolonial berniat membentuk Milisi Bumiputra untuk menjadi pasukan cadangan yang diharapkan ikut membendung serangan Jepang.

Tidak lama setelah berhenti dari AMS, Yani lantas diterima sebagai Aspirant Dinas Topografi Militer KNIL (angkatan perang kolonial Hindia Belanda). Pada 1940, ia dikirim ke Malang untuk menjalani pendidikan Aspirant Militaire Topografie Dienst selama 6 bulan. Sejak itulah, Yani memulai karier di militer.

Di tahun berikutnya, Yani sudah berpangkat Sersan Cadangan dan berdinas di Bandung. Pelatihan militer bagi Yani kembali berlanjut saat penghujung 1941. Dia mengikuti pendidikan Leerling Kader Miliceint Dienst selama 3 bulan di Bogor sehingga memperoleh pangkat Sersan.


Ketika Jepang datang ke Indonesia pada awal 1942, militer Hindia Belanda faktanya cuma mampu bertahan kurang dari 3 bulan. Nasib sial menimpa Yani karena sempat ditahan pasukan Dai Nippon di Cimahi, meski tidak lama ia meringkuk dalam bui. Setelah bebas, Yani balik ke Purworejo.

Namun, ketertarikan Yani pada dunia militer tidak lenyap. Kala Jepang membentuk Heiho (tentara pembantu) untuk pemuda bumiputra, ia segera mendaftar dan menjalani pendidikan di Magelang pada 1943. Karena lulus dengan nilai tinggi, Yani mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan Shodancho (perwira) PETA di Bogor. Di sana, ia termasuk lulusan terbaik.

Setelah Republik Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, sebagaimana banyak eks anggota PETA lainnya, Yani turut aktif dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang kemudian jadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sejak 1945, kepiawaian Ahmad Yani sebagai komandan militer Republik sudah terlihat. Yani pernah sukses menghalau pasukan Sekutu (Inggris) yang sedang memasuki Magelang. Karena kewalahan, rombongan tentara Inggris itu mundur dari Magelang pada 21 November 1945.

Namun, gabungan pasukan TKR bersama laskar pemuda yang dikerahkan Yani mengadang mereka di jalan sehingga cuma 1 kompi yang lolos (Ahmad Yani: Sebuah Kenang-Kenangan, 1981:76).

Yani juga memiliki peran penting dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, meski tidak terlibat secara langsung dalam serbuan kilat ke Yogyakarta (ibu kota RI yang saat itu diduduki Belanda). Sejak 19 Februari 1949, pasukan Yani aktif mengadang tentara Belanda yang sedang menuju ke Yogya. Para tentara Republik itu pun menghancurkan pos-pos Belanda di jalur penghubung Yogya dengan Jawa Tengah.

Berpangkat mayor, Yani kala itu memimpin Brigade IX dengan area operasi dari Kedu bagian utara hingga Semarang barat. Aksi pasukan Yani menjelang Serangan Umum 1 Maret membuat wilayah utara Magelang menjadi garis pertahanan yang tak bisa ditembus tentara Belanda. Dengan begitu, jelang 1 Maret 1949, suplai pasukan dari arah Magelang untuk pertahanan Belanda di Yogya dapat diputus.


Memasuki dekade 1950-an, karier militer Yani terus menanjak. Tahun 1952, Yani turut membidani Banteng Raiders, pasukan khusus TNI AD yang sering kali dikerahkan untuk memberantas gerakan separatis, seperti DI/TII dan PRRI/Permesta. Banteng Raiders juga terjun dalam pembebasan Irian Barat.

Yani tidak hanya digembleng oleh pertempuran. Dia termasuk pula generasi awal perwira militer RI yang dikirim belajar ke luar negeri. Selama 1955-1956, Yani sempat mengenyam kursus militer di Amerika Serikat dan Inggris.

Selain dikenal sebagai tentara cakap juga cerdas, Yani adalah salah satu perwira AD kepercayaan Presiden Sukarno. Tak heran, Sukarno memilih Ahmad Yani untuk mengisi posisi Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad), menggantikan A.H. Nasution.

Sejak 23 Juni 1962, Yani memegang posisi Menteri/Panglima Angkatan Darat atau KASAD. Jabatan itu ia duduki hingga tutup usia.

Sekalipun sempat menerima info dirinya terancam, Ahmad Yani tak menambah pasukan pengawal di rumahnya sampai malam 30 September 1965. Karena itu, saat Pasukan Pasopati menggeruduk rumahnya pada dini hari 1 Oktober 1965, penjagaan di sana mudah dilumpuhkan.

Saat menemui para pasukan penculik, Yani yang merasa diperlakukan dengan kurang ajar sempat mengadakan perlawanan hingga dia tewas ditembak oleh Sersan Gijadi. Tubuh Yani lalu diangkut truk dan dibawa oleh pasukan Pasopati ke Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Jasad Ahmad Yani dan 6 orang perwira TNI lainnya ditemukan dua hari berselang, terkubur dalam sumur sedalam 12 meter yang sudah ditutup. Jenazah para perwira TNI itu kemudian dikebumikan di TMP Kalibata Jakarta. Gelar Pahlawan Revolusi lantas disematkan pada nama mereka.

Baca juga artikel terkait G30S atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Addi M Idhom

DarkLight