Bermain Ponsel saat Hujan Petir: Bahaya atau Tidak?

Petir menyambar di kawasan kampung nelayan Pabean udik, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (22/2/2018). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Oleh: Nindias Nur Khalika - 20 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Menggunakan ponsel tak berbahaya saat hujan petir, asalkan tidak sedang diisi baterainya.
Widiya tengah dirundung duka sebab putrinya yang bernama Salsabila Ayu Putri meninggal pada tanggal 12 Desember lalu. Anak perempuan berusia enam tahun yang tinggal di Desa Sanja, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor tersebut tewas akibat sambaran petir. Widiya tak sempat memberikan pertolongan pada Salsabila sebab sang putri sudah tak bernyawa ketika ditemukan.

Seperti yang dilaporkan Tempo, Desa Sanja dilanda hujan dan petir menyambar rumah Widiya sore hari pukul 16.00 WIB. Waktu itu, Salsabila tengah bermain telepon genggam yang sedang diisi baterainya. Ia pun diduga meninggal akibat sambaran petir yang sampai ke tubuhnya melalui aliran listrik yang masuk ke ponsel.


Sejak Januari tahun 2016 hingga Desember 2018, menurut data yang dihimpun tim riset Tirto, terdapat sembilan kasus orang yang tersambar petir ketika bermain gawai. Jumlah korban meninggal sebanyak 13 orang dan luka-luka 16 jiwa.

Serupa dengan Salsabila, Nurhayati yang merupakan warga Kampung Aimasi, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari juga menjadi korban sambaran petir. Ia meninggal tanggal 24 April silam sewaktu sedang duduk di ruang tamu sambil bermain telepon genggam yang tengah di-charge. Nurhayati lantas tersambar petir dan tewas di tempat.

Pada kasus lain, korban yang terkena sambaran petir diberitakan sedang berada di ruang terbuka atau bangunan semi terbuka seperti saung, cungkup, dan pondok. Kompas mengatakan bahwa seorang pria bernama Jordan tersambar petir hingga meninggal ketika berada di luar tenda di pemakaman San Diego Hills, Karawang Barat, tahun 2016 lalu. Saat itu, ia menggunakan perangkat handsfree yang terhubung pada ponsel yang ditaruh di saku celana kiri.

Terkait orang yang menggunakan ponsel di bangunan semi tertutup, Antara melaporkan dua warga Kabupaten Blitar, Jawa Timur meninggal setelah terkena sambaran petir saat berteduh di gubuk pada Maret 2016. Selain berlindung, mereka diketahui pula tengah bermain ponsel. Oktober lalu, Merdeka melaporkantiga orang dari Desa Bojongloa, Kabupaten Tangerang tersambar petir sewaktu berteduh di saung. Salah satu korban dikabarkan aktif menggunakan telepon genggam sebelum peristiwa itu terjadi.

Ponsel dan Petir

Selama badai berlangsung, partikel hujan, es, atau salju di dalam awan badai saling bertubrukan hingga menyebabkan ketidakseimbangan antara mega jenis itu dan tanah. Awan badai kerap kali bermuatan listrik negatif sementara objek di bawah seperti pohon, bangunan tinggi, bahkan bumi penuh dengan muatan listrik positif. Hal ini lantas menimbulkan petir yang diartikan sebagai pelepasan listrik akibat ketidakseimbangan dua muatan tadi.

National Geographic menjelaskan petir juga bisa terjadi kala awan yang bermuatan listrik positif dan negatif bertemu. Seringkali muncul disertai cahaya halilintar serta suara guntur, kilat mengandung listrik sebanyak seratus juta volt sekaligus dapat menaikkan suhu udara menjadi 27.700 derajat celcius. Dengan kekuatan sebesar itu, wajar jika orang yang terkena sambaran kilat bisa terluka atau bahkan tewas.


National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menjelaskan ada tiga faktor dominan yang memengaruhi lokasi di mana petir bakal menyerang. Pertama adalah ketinggian. Kedua merujuk pada bentuk runcing. Terakhir, NOAA menyebutkan soal isolasi.

Gara-gara hal ini, tak heran jika orang yang berada di tanah yang tinggi, tempat terbuka, atau berdiri dekat dengan pohon bisa terkena sambaran kilat. Makanya nasehat utama yang diserukan apabila halilintar datang adalah segera masuk ke dalam rumah, gedung, atau kendaraan. Selain itu, jauhi barang yang mengandung logam seperti pagar, bangku besi, atau susur tangga sebab dapat berfungsi sebagai konduktor listrik.

Tapi, pertanyaan baru pun muncul menyusul beberapa kasus sambaran petir pada orang yang tengah bermain ponsel. Sebagian besar korban berada di dalam rumah atau bangunan semi terbuka. Hanya korban bernama Jordan yang diberitakan berada di ruangan terbuka, tepatnya di area pemakaman.

John Jensenius dari National Weather Service mengatakan bahwa ponsel tak bisa dijadikan penyebab ketika seseorang tersambar petir sementara di tangan mereka terdapat telepon genggam. “Jadi jika anda menggunakan ponsel, Anda tidak lebih mungkin terkena sambaran petir dibandingkan saat tidak memakai telepon genggam,” katanya.

Ia mengatakan bahwa hal yang justru perlu diperhatikan adalah lokasi. Alih-alih memberi perhatian pada ponsel, orang mesti memastikan bahwa mereka berlindung di tempat yang aman.

Meski begitu, Jensenius menjelaskan perangkat elektronik termasuk gawai seperti laptop dan ponsel jika ditancapkan ke colokan akan berisiko jika digunakan saat petir terjadi. Oleh karena itu, ia meminta untuk menjauhi alat-alat tersebut.

“Apapun yang dicolokkan ke dinding berbahaya karena perangkat tersebut terhubung dengan kabel yang berada di luar,” katanya. Dengan demikian, ponsel atau laptop lebih baik tak di-charge kala hujan yang disertai dengan halilintar terjadi.

Menurut NOAA, bangunan semi terbuka layaknya gazebo tidak memberikan perlindungan yang cukup dari petir. Jika ingin benar-benar aman, tempat bernaung yang tertutup adalah pilihan terbaik agar terhindar dari bahaya sambaran petir.




Selamat dari Petir

Christopher Joh Andrews, dkk dalam Lightning Injuries: Electrical, Medical, and Legal Aspect (1992; 81) menerangkan bahwa petir dapat menyambar seseorang melalui tiga mekanisme. Cara pertama adalah sambaran langsung pada tubuh. Lalu, individu turut bisa terkena 'cipratan' halilintar setelah kilat mengenai objek atau orang di sekitarnya. Terakhir, arus tanah yang muncul karena rambatan petir di bumi berpotensi menyambar manusia.

CNN melaporkan lebih dari 4.000 kematian terjadi akibat petir di dunia setiap tahun. Tapi, sembilan dari sepuluh orang yang terkena sambaran halilintar bisa selamat. Data yang dihimpun tim riset Tirto di sisi lain juga menunjukkan ada orang yang tak meregang nyawa saat tersambar petir ketika menggunakan gawai. Terdapat 13 korban selamat dari sembilan kasus yang terjadi sejak tahun 2016 hingga 2018.

Peneliti halilintar Mary Ann Cooper mengatakan kepada CNN bahwa petir bisa mematikan bagian otak yang mengontrol pernapasan. Hal ini bisa menyebabkan suplai oksigen ke jantung habis dan membuatnya berhenti bekerja sehingga berpotensi menjadi fatal. “Jika seseorang yang selamat berkata ‘Saya tercengang oleh halilintar’, kemungkinan yang terjadi adalah pernapasan mereka tidak benar-benar berhenti bekerja,” katanya.

Meski selamat, mereka yang hidup menurut Theodorus Christopher, dkk dalam “Cardiac Effects of Lightning Strikes” (2017) dapat menderita trauma atau luka ringan dan berat. Korban bisa mengalami eritema atau ruam di kulit atau henti jantung. Lebih lanjut, Christopher, dkk menjelaskan bahwa efek pada jantung usai terkena sambaran petir seperti aritmia atau gangguan irama jantung, serangan jantung, cedera aorta, dan lemah jantung (cardiomyopathy) bisa dialami oleh korban.

Baca juga artikel terkait PONSEL atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight