Petir yang Membuat Khawatir

Oleh: Suhendra - 12 Oktober 2016
Dibaca Normal 3 menit
Petir salah satu peristiwa alam yang dekat dengan kehidupan manusia. Bagi mereka yang tak beruntung, petir bisa menjadi bencana pencabut nyawa. Sambaran petir memang tak bisa diduga, tapi manusia bisa lebih waspada dengan melakukan tindakan menekan risiko tersambar petir.
tirto.id - Minggu sore, Yudi dan Yono meluncur dengan sepeda motornya menembus lebatnya hujan di Jalan perbatasan Desa Gabus dan Kebonromo, Kecamatan Ngrampal, Sragen, Jawa Tengah. Sial menimpa kedua orang itu, kendaraan roda dua yang ditungganginya mendadak mogok. Dalam kondisi basah kuyup, keduanya pun menepi hendak memperbaiki busi.

Peristiwa nahas datang saat seorang dari mereka mencoba menghidupkan motor, tiba-tiba kilatan petir menyambar keduanya. Tubuh keduanya tumbang dan tewas seketika dengan kondisi luka bakar.

Nun jauh di sana, ada warga Amerika yang lebih “beruntung” karena tetap hidup meski berkali-kali terkena petir. Ia adalah Roy C. Sullivan, seorang mantan ranger di AS. Ia tercatat di Guinness World Records karena sudah tujuh kali tersambar petir, tetapi tidak tewas dan hanya mengalami luka ringan. Ironisnya, Sullivan justru meninggal karena bunuh diri akibat cintanya yang ditolak.

Sullivan barangkali beruntung, tidak demikian halnya dengan Yudi, Yono, dan korban-korban petir lainnya. Di berbagai belahan dunia, petir telah menyebabkan banyak korban luka dan jiwa juga melanda di seantero dunia. Di India misalnya, pada Juni 2016 dalam dua hari ada 67 orang tewas tersambar petir. Berselang sebulan, sedikitnya 40 orang tewas dan 35 orang cedera, sebagian dalam kondisi kritis, akibat sambaran petir di seluruh negara bagian Odisha di India Timur, yang terjadi pada Sabtu kelabu (30/7)

Media livescience.com memperkirakan ada 24.000 orang tewas tersambar petir di seluruh dunia setiap tahunnya, ini belum termasuk 240.000 orang yang mengalami luka-luka dan masih bertahan hidup. Sementara geology.com menulis setiap tahun diperkirakan ada 1,4 miliar sambaran petir di seluruh dunia, setara dengan 40-50 kilatan petir setiap detik di seantero Bumi.

Yang menarik, frekuensi hantaman petir paling banyak di daerah daratan sekitar khatulistiwa. Ini karena umumnya kawasan tersebut beriklim tropis, yang memiliki dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Musim hujan yang lebih panjang membuat frekuensi tercipta petir lebih tinggi. Seorang ahli petir Indonesia, Reynaldo Zoro dalam tulisannya yang berjudul “lightning protection and grounding system” mengungkapkan jumlah petir atau guruh maksimum di beberapa negara antara lain Eropa sebanyak 30 hari guruh, Amerika sebanyak 100 hari guruh, Jepang sebanyak 80 hari guruh, Korea ada 80 hari guruh, Australia ada 80 hari guruh, dan Indonesia hingga mencapai 200 hari guruh.

Ini dibuktikan oleh Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA yang sempat merilis rekaman kejadian petir selama periode 1998-2013. Dalam laman earthobservatory.nasa.gov, disebutkan bahwa wilayah Afrika Tengah dan Barat Laut Amerika Selatan memiliki tingkat frekuensi sambaran petir yang paling besar sepanjang tahun. Misalnya di wilayah timur Kongo dan Danau Maracaibo di Barat Laut Venezuela. Indonesia juga pernah tercatat sebagai lokasi yang menjadi tempat paling banyak intensitas petir di dunia. Berdasarkan laman BMKG, wilayah Cibinong, Bogor, Jawa Barat sempat tercatat di Guinness World Records 1988, dengan jumlah 322 hari petir selama setahun

Mengenali lokasi-lokasi yang sering terkena petir cukup penting. Selain itu, informasi yang tak kalah penting untuk diketahui adalah bagaimana cara mengetahui petir menyambar. Informasi-informasi ini diharapkan bisa membantu manusia menghindari malapetaka akibat petir.



Cara Petir Menyambar

Lembaga National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) pernah mengulas soal bagaimana sebuah petir bisa menyambar manusia. Dalam laman lightningsafety.noaa.gov, ada beberapa cara seseorang bisa tersengat petir. Pertama, tersambar langsung, biasanya dialami oleh seorang yang berada di area terbuka saat terjadi petir. Tersambar petir secara langsung dianggap paling mematikan dengan risiko kematian yang tinggi, termasuk efek luka bakar di kulit akibat sambaran petir. Cara kedua biasanya karena percikan listrik yang menyambar manusia ketika petir menghantam objek lain di sekitar tubuh seseorang seperti pohon, ini bagian dari penjelasan ilmiah dari nasihat orang tua soal jangan berteduh di bawah pohon bila sedang hujan.

Cara ketiga biasanya listrik yang dihasilkan petir merambat ke tanah dan mengenai objek makhluk hidup termasuk manusia dan hewan. Pola semacam ini, biasanya sering ditemukan di kawasan peternakan yang terjadi pada hewan yang memiliki pijakan kaki lebih luas ke permukaan tanah. Keempat, dengan cara konduksi, listrik dari petir menjalar ke benda-benda seperti perangkat elektronik, saklar listrik, kran air mandi, telepon, pagar, jendela, pintu dan lainnya yang tersentuh oleh manusia.

Manusia tak akan pernah tahu persis kapan dan di mana petir menyambar, tapi dari beberapa studi yang pernah dilakukan setidaknya bisa menunjukkan arah bagaimana seharusnya manusia bersikap untuk menekan serendah mungkin terhadap risiko tersambar petir. Di India misalnya, pernah ada studi yang dilakukan oleh Bankura Sammilani Medical College, di West Bengal, India terhadap 54 korban meninggal sambaran petir yang diotopsi selama periode 2006-2008, terungkap beberapa fakta bahwa 72,23 persen korban yang meninggal tersambar petir adalah petani.

Kejadian petir menyambar terbanyak hampir separuh atau 48,14 persen terjadi dalam rentang pukul 12.00 siang hingga pukul 15.00, sedangkan 31,48 persen terjadi pada pukul 15.00 hingga pukul 18.00. Studi ini juga mengungkap sebanyak 57,4 persen kasus sambaran petir terjadi di areal terbuka, ini identik dengan perilaku para petani yang memang lebih banyak bekerja di sawah, lalu sebanyak 27,7 persen kejadian karena korban berada di bawah pohon. Para korban tersambar petir biasanya mengalami hambatan fungsi organ dalam tubuh yang mengambil porsi hingga 35,18 persen. Selebihnya mengalami gangguan jantung sementara, juga hambatan pernapasan, dan kerusakan bagian dalam telinga hingga berdarah.

India termasuk negara mencatat kematian tinggi akibat tersambar petir, theatlantic.com mencatat ada kurang lebih 2.000 orang tewas tersambar petir setiap tahun di India. Sebanyak 2 dari 1 juta penduduk di India mati karena petir, bandingkan dengan di AS, hanya 0,3 orang dari 1 juta penduduk mati tersambar petir. Di Eropa, angkanya lebih rendah lagi, hanya 0,2 orang dari 1 juta penduduk. Kematian karena petir di Asia dan Afrika 100 kali lebih tinggi dari negara-negara seperti di Eropa atau AS.

Di Zimbabwe misalnya, ada sekitar 20 orang dari 1 juta penduduk, dan di Malawi ada 84 orang dari 1 juta penduduk. Ini menunjukkan serangan petir tak hanya terkait dengan letak geografis sebuah negara tetapi kondisi ekonomi masyarakatnya, terutama di negara-negara miskin. Ini dikaitkan dengan kondisi peralatan rumah warga negara maju yang relatif lebih aman dari petir, dan mayoritas petani di negara miskin yang masih pakai cara konvensional sehingga lebih berlama-lama di ruang terbuka.

“Petir sering menyambar orang-orang di Amerika pada 1890 ketika mereka berada di ladang pertanian. Seratus tahun lalu, 25 persen orang Amerika yang tersambar petir, mereka yang bekerja di pertanian. Dan itu terjadi di India belum lama ini,” tulis theatlantic.com.

Baca juga artikel terkait PETIR atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight