Mengapa Hujan Es Bisa Terjadi di Negara Tropis?

Seorang bocah menunjukkan butiran hujan es. ANTARA/Arif Pribadi
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 24 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Secara ilmiah, hujan es adalah peristiwa lazim di musim pancaroba. Warga mesti waspada terhadap dampaknya.
tirto.id - Masyarakat Jakarta sempat heboh gara-gara hujan es yang terjadi di sekitar Thamrin dan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Fenomena ini terjadi pada Kamis (22/11/2018). Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, hujan es berlangsung pukul 15.20 WIB dengan durasi kurang dari 5 Menit.

"Pada pukul 15.20 WIB telah terjadi hujan es di sekitar Thamrin dan Tanah Abang dengan durasi kurang dari 5 Menit. Diimbau kepada masyarakat agar selalu berhati-hati dalam beraktivitas," demikian pernyataan BPBD DKI Jakarta lewat akun Twitter-nya.

Hari itu, seturut peringatan dini cuaca oleh BPBD DKI Jakarta yang dirilis pukul 14.50 WIB, sejumlah wilayah di Jabodetabek diperkirakan mengalami hujan lebat disertai angin kencang.

Paling tidak, ada dua hujan es di Indonesia yang tercatat sepanjang 2018. Januari lalu, seperti dilaporkan Tirto, kejadian serupa pernah melanda wilayah Kabupaten dan Kota Magelang. Akibat guyuran hujan es disertai angin kencang sejumlah pohon dan baliho dilaporkan tumbang. Usai hujan es genangan air di beberapa ruas jalan umum di kota itu cukup tinggi, membuat para pengendara berhati-hati melintas.

Yang terdekat, hujan es juga pernah melanda Kabupaten Kotawaringin Timur pada September. Itu adalah hujan es kedua dalam dua tahun belakangan. Sama belaka dengan yang terjadi di Magelang, sejumlah pohon tumbang akibat peristiwa ini.

Hujan es di wilayah tropis sebenarnya fenomena alam biasa dan bukan hal baru. Pada Maret tahun lalu Kepala Pusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa hujan es adalah fenomena alam biasa yang jamak terjadi pada masa pancaroba. Dalam meteorologi fenomena hujan es ini disebut "hail".

"Kondisi aman dan ini peristiwa alamiah saja. Bukan ada yang menjatuhkan es dari angkasa. Hanya saat kondensasi di atmosfer melewati batas level super beku," kata Sutopo.

Kondensasi Uap Air

Proses terjadinya hujan es dimulai dari kondensasi uap air yang membentuk awan kumulonimbus alias awan hujan. Ini adalah jenis awan yang terbentuk nisbi dekat permukaan tanah, rata-rata sejarak 2 kilometer.

Encyclopedia Britannica menjelaskan bahwa awan ini terbentuk dari massa udara panas dan uap air yang terangkat ke atmosfer. Massa udara panas dan uap air ini bercampur dengan udara yang lebih dingin dan lebih kering sehingga terus membesar membentuk menara awan yang sangat tinggi. Tingginya bisa mencapai 10 kilometer dengan luasan sekitar 3-5 kilometer. Awan akan terus tumbuh hingga ketinggiannya mencapai lapisan stratosfer.

Dalam kondisi biasa awan kumulonimbus dengan akumulasi uap air yang besar akan mencurahkan hujan dalam bentuk likuid. Namun, dalam kondisi tertentu puncak awan ini mencapai ketinggian di mana suhu udara di bawah nol derajat celcius. Di level itulah uap air kemudian mulai membeku dan membentuk kristal-kristal es.

Jumlah kristal es meningkat dengan cepat dan ukurannya membesar. Jika semakin membesar, arus massa udara naik tak akan bisa lagi mengapungkannya. Jadilah kristal-kristal es itu berjatuhan. Ketika jatuh kristal es itu akan melewati lapisan udara yang lebih hangat sehingga ia akan meleleh kembali menjadi cair dan turun sebagaimana hujan biasanya.

Akan tetapi ada kalanya kristal es itu melewati lapisan udara yang tetap dingin sehingga pencairan tak terjadi. Bahkan, menggumpal membentuk batu es. Fenomena itulah yang kemudian kita saksikan sebagai hujan es alias hail.

Tiga Jenis Hujan Es

Dalam entri tentang hail, Encyclopedia Britannica menyebut ada tiga jenis hujan es. Yang pertama adalah soft hail. Hujan es jenis ini ditandai dengan turunnya bulatan-bulatan es dengan diameter rata-rata 6 milimeter. Kepadatan butir esnya rendah dan mudah hancur mirip salju.

Jenis kedua adalah small hail. Butiran es yang jatuh diameternya hampir sama dengan jenis pertama tetapi kepingannya lebih padat. Small hail mungkin terbentuk dari tetesan air hujan yang membeku dengan cepat jadi kepingan es padat.

Lalu yang ketiga adalah jenis hailstones atau hujan batu es. Pada tipe ini diameter batu es yang jatuh berdiameter lebih besar dari 5 mm. Ada beberapa kasus hujan es tipe ini disertai badai dan menghasilkan batu es dengan diameter sampai beberapa sentimeter.



Hailstones paling sering terjadi di daerah iklim subtropis dan jarang terjadi di daerah tropis. Hujan es tipe ini adalah yang paling merusak karena besarnya ukuran es yang jatuh dan kecepatannya. Rata-rata kecepatan jatuhnya berkisar antara 5 meter per detik untuk batu es ukuran kecil hingga 40 meter per detik jika batu esnya berukuran 5 centimeter atau lebih.

Untungnya luasan awan kumulonimbus yang menyebabkan hujan es tak terlampau lebar. Karena itu hujan es biasanya bersifat lokal dan terjadi hanya dalam hitungan menit. Namun, biasanya hujan es juga disertai petir dan angin kencang.

Seperti yang dilaporkan BPBD DKI Jakarta kemarin, daerah Jakarta Pusat yang mengalami hujan es setelahnya diikuti hujan dengan intensitas tinggi. Di beberapa titik, hujan lebat yang disertai angin menyebabkan sejumlah pohon tumbang. Misalnya, pohon tumbang terjadi di Jalan Suprapto dekat Stasiun Senen.

Karenanya, meski itu adalah fenomena alam biasa, kita semestinya tetap waspada dan menjaga diri.

Baca juga artikel terkait HUJAN ES atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight