Berkenalan dengan Suku-Suku yang Tak Mengenal Angka

Oleh: Husein Abdulsalam - 10 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tak semua mengenal angka. Tak semua menggunakan sistem angka desimal.
tirto.id - Orang-orang Pirahã, suatu suku yang bermukim di Amazon, Brasil, tidak mengenal angka. Sebagai penanda kuantitas, orang-orang yang hidup dengan berburu dan meramu tersebut menggunakan kata hói (satu atau sepasang) atau hoi (banyak).

Antropolog sekaligus ahli bahasa dari University of Miami, Amerika Serikat Caleb Everret mengungkapkan dia dan rekannya pernah menguji kemampuan kuantitatif orang-orang suku ini.

Pertama, periset meletakkan sejumlah baterai di meja. Lalu, mereka meminta sejumlah orang Pirahã meletakkan baterai dengan jumlah yang sama di meja pula.

Alhasil, orang-orang Pirahã mampu memenuhi permintaan periset untuk tahap satu, dua, hingga tiga baterai. Namun, ketika jumlah baterai yang ditaruh periset lebih dari tiga, orang-orang Pirahã mulai salah. Semakin banyak baterai yang dibariskan periset, semakin besar ketidakcocokan jumlah baterai yang diletakkan orang-orang Pirahã.

"Banyak eksperimen telah menunjukkan bahwa tanpa angka, orang-orang Pirahã sulit mengerjakan hal-hal yang kuantitatif. Mereka kesulitan mencocokkan suatu kumpulan objek dengan kumpulan lain—misalnya, delapan tali dengan delapan balon," ujar Everret saat diwawancarai Fivethirtyeight.

Pirahã juga bukan satu-satunya masyarakat nir-angka di dunia ini. Bahasa Manduruku yang penuturnya bermukim di Amazon juga memiliki kosakata angka yang sedikit.

Peneliti lain, Phillip Ball, menuliskan artikel "How Natural is Numeracy?" bahwa sejumlah suku di Australia, Amerika Selatan, dan Afrika tidak memiliki padanan kata untuk menyebut angka lebih dari 5 atau 6. Meski demikian, mereka memiliki kemampuan membedakan suatu hal lebih banyak dari yang lain, atau sesuatu lebih sedikit dari yang lain.

Koginisi Kuantitas dan Kognisi Numerik

Bagi Rafael Núñez, masyarakat nir-angka merupakan salah satu alasannya tidak menerima mentah-mentah anggapan bahwa kognisi numerik inheren dalam diri manusia. Peneliti sains kognitif di University of California, San Diego tersebut bermaksud membedakan antara kognisi numerik dan kognisi kuantitas.

Bayi dan sejumlah hewan memiliki kognisi kuantitas, yakni membandingkan dua hal yang kuantitasnya berbeda. Misalnya membedakan gambar berisi 1 titik dengan 3 titik atau 18 titik.

Menurut neurosaintis kognitif Daniel Ansari, studi seperti itulah yang membuat para peneliti menyimpulkan manusia memiliki "modul angka" di dalam otaknya. Pengajar di University of Western Ontario, London itu menyampaikan modul angka ditengarai substrat saraf yang mendukung manusia mempelajari sistem simbol budaya dalam menyajikan dan memanipulasi angka.

Núñez tidak menampik keberadaan kognisi kuantitas dalam diri manusia itu. Namun, dia ragu soal "modul angka". Ibaratnya, manusia sekarang jago main tenis bukan karena nenek moyang manusia berevolusi untuk memainkan tenis atau memiliki "modul tenis".

Phillip Ball menjelaskan monyet, simpanse, lumba-lumba dan anjing juga dapat mengetahui makanan yang jumlahnya lebih banyak daripada yang lain. Namun, belum ditemukan hewan non-manusia yang mampu membedakan wadah berisi 152 benda dari wadah berisi 153 benda. Tentu lain dengan manusia: anak usia lima tahun bisa mengatakan bahwa kedua angka tersebut, atau 2 dan 3, secara abstrak berbeda.

Tampaknya, yang dimiliki baik oleh manusia dan hewan bukan kemampuan mengetahui perbedaan antara 2 dan 3 atau 152 dan 153 sama-sama berselisih 1, tetapi membedakan dua kuantitas berdasarkan perbedaan relatif. Perbedaan tersebut amat terkait dengan rasio dua kuantitas yang dibandingkan. Núñez mengatakan hal itu bergantung pada kognisi numerik manusia, yakni kemampuan membedakan suatu angka dengan angka lain. Misalnya, "152" itu lebih kecil dari "153".

Angka dan Peradaban

Sebagian dari kita yang sejak kecil diminta menghafal huruf dan angka, lalu diajari perhitungan sederhana hingga matematika tingkat lanjut di sekolah mungkin menganggap orang-orang Pirahã aneh. Namun, sekali lagi, orang-orang Pirahã sebatas tak kenal angka, bukan tidak cerdas. Everret pun yakin apabila seorang Pirahã dibesarkan oleh keluarga yang berbahasa Portugis—bahasa mayoritas orang Brazil, mereka akan mampu belajar soal angka.

Justru Everret menganggap manusia lain di dunia ini aneh ketika bertemu masyarakat nir-angka seperti Pirahã. Dia bertanya-tanya, mengapa manusia pada akhirnya mengenal angka? Bagaimana cara manusia belajar menghitung? Mengapa pada akhirnya manusia menjadi bergantung kepadanya?

Rasa penasaran itu dia salurkan dengan cara meneliti sejarah penemuan angka. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku Numbers and the Making of Us: Counting and the Course of Human Cultures (2017).

"Bertemu dengan bahasa yang tidak memiliki angka atau sejumlah angka membawamu ke jalan mempertanyakan apa jadinya dunia tanpa angka dan menghargai bahwa angka adalah ciptaan manusia dan ia bukan sesuatu yang secara otomatis datang dari alam," ujar Everret kepada Smithsonian Magazine.

Infografik Angka


Everret mengatakan jumlah jemari manusia berhubungan dengan sejumlah bahasa yang menggunakan angka berbasis 10, 20 atau 5. Bahasa Inggris, dan tentu bahasa Indonesia, menggunakan angka berbasis 10 atau desimal. Nenek moyang bahasa Inggris, yaitu Proto-Indo-Eropa (PIE) juga tergolong desimal.

"PIE berorientasi desimal karena, sebagaimana di banyak kebudayaan lain pula, tangan-tangan nenek moyang penurut bahasa kita berfungsi sebagai pintu gerbang menuju kesadaran bahwa 'lima jari di tangan ini sama dengan lima jari di tangan itu'. Pikiran seperti diejawantahkan menjadi kata-kata dan diwariskan dari generasi ke generasi. Ini sebabnya mengapa kata'"lima' dalam banyak bahasa berasal dari kata 'tangan'," ujar Everret dalam artikelnya di The Conversation.

Tanpa angka, Everret menduga kebudayaan manusia bakal sangat berbeda. Negara-bangsa yang luas tidak mungkin eksis tanpa angka. Masyarakat agraris yang besar juga demikian.

Sekitar 5000 atau 8000 tahun lalu, orang-orang di dua negara agraris di Mesopotamia ingin menjalin kerja sama dagang. Untuk berdagang, mereka butuh menghitung, sehingga mereka membikin semacam token dari tanah liat untuk mewakili komoditas tertentu.

Token ini kemudian disimpan dalam suatu wadah. Suatu kali, seseorang menyadari daripada repot menghitung token dalam wadah, memberi tanda di permukaan wadah yang dapat dilihat para pedagang sudah cukup memberi tahu banyaknya token dalam wadah.

"Kemudian seseorang menyadari tanda ikonografis cukup mewakili maksudnya," ujar Everret. Lama-kelamaan, angka-angka itu lahir.

Baca juga artikel terkait KEBUDAYAAN atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Maulida Sri Handayani