Menuju konten utama

Berapa Kerugian Akibat Banjir di Jakarta?

Kerugian karena banjir di Jakarta bisa mencapai triliunan.

Berapa Kerugian Akibat Banjir di Jakarta?
Tim SAR menyisir jalanan yang tergenang air dikawasan Cipinang Melayu. Banjir setinggi hampir 1 meter melanda kawasan padat penduduk di Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Senin, (20/2). Banjir yang disebabkan meluapnya Sungai Sunter tersebut merendam sekitar 600 rumah warga. Tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - “Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk. Rumah ane kebanjiran, gare-gare got mampet,” penggalan lagu Benyamin Syueb itu masih relevan hingga hari ini, bahkan bertahun-tahun setelah ia dinyanyikan oleh Bang Ben.

Masalah banjir di Jakarta nyaris tak pernah selesai. Berbagai usaha untuk mengakhiri dan menyelesaikan banjir melahirkan perdebatan yang tidak usai. Selain masalah sosial seperti pengungsian akibat terendamnya rumah, masalah penyakit dan ekonomi juga muncul akibat banjir yang nyaris selalu terjadi setiap tahun di Jakarta.

Januari 2013 jebolnya tanggul Johannes Latuharhary menyebabkan air mengalir deras hingga ke Bundaran HI. Hal ini mengakibatkan lantai bawah tanah Gedung UOB terendam karena memiliki ketinggian lantai dasar nyaris sama dengan jalan. Setelah dilakukan penyedotan air dan pengeringan basemen diketahui bahwa dalam lantai bawah itu ada dua orang yang meninggal akibat tenggelam, sementara dua lainnya dalam kondisi lemas dan kaku karena terendam air dalam waktu yang lama. Tidak hanya itu ditemukan pula 47 mobil terendam di lantai basement 1 dan 2.

Kematian akibat tenggelam ini menjadi salah satu tragedi dalam sejarah banjir di Jakarta. Banjir ini sebenarnya sudah dimulai sejak Desember 2012, dan baru mencapai puncaknya pada Januari 2013. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan jumlah resmi korban yang tercatat selama banjir Jakarta 2013 mencapai 20 korban jiwa, dan 33.502 orang terpaksa mengungsi. Sementara versi Pemerintah DKI Jakarta banjir 2013 membuat 35 Kecamatan tergenang, 1.226.487 jiwa terdampak banjir, 38 orang meninggal dan membuat 83.554 orang mengungsi.

Banjir tidak hanya merengut korban jiwa namun juga harta, perekonomian terbengkalai, dan layanan publik tidak berjalan. Pada akhir 2006 banjir yang terjadi pada tahun itu membuat para pengusaha merugi hingga mendekati Rp2,6 triliun. Sebagian besar dari angka tersebut berasal dari kerugian yang harus ditanggung karena terhentinya proses produksi selama kurang lebih 7 hari saat banjir berlangsung.

Laporan resmi dari Bapennas pada 2008 menyebutkan bahwa sifat bencana yang terlokalisir. Karena bersifat terlokalisir itulah maka kerugian di sektor industri besar terhitung kecil karena sebagian besar usaha bisa kembali berproduksi setelah air surut.

Banjir juga berisiko menaikkan harga kebutuhan pokok naik 10-20 persen karena distribusi barang-barang terhambat. Berdasarkan data dari buku Hubungan Kerjasama Institusi dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai karya Omo Rusdiana dan kawan-kawan, akibat banjir tahun 2002 Jakarta harus merugi sedikitnya Rp9,8 triliun. Rinciannya adalah kerugian sektor ekonomi Rp2,5 triliun, transportasi dan telekomunikasi Rp78,5 miliar, kerusakan langsung Rp5,3 triliun, kerusakan tidak langsung Rp2,8 triliun.

Dalam 10 tahun terakhir banjir tahun 2007 merupakan yang terburuk. Dalam arsip berita Antara disebutkan sebanyak 66 orang meninggal akibat bencana banjir yang terjadi di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Selain itu, 765.589 jiwa atau atau 212.000 kepala keluarga (KK) menjadi pengungsi akibat musibah bencana alam tersebut. Dengan rincian 37 orang di DKI Jakarta, 16 orang di Jabar dan 13 orang di Banten. Untuk Jakarta ada sekitar 62.648 KK atau 219.404 jiwa yang terpaksa mengungsi. Ini belum termasuk kerugian ekonomi akibat banjir.

Banjir besar lagi-lagi melanda Jakarta di awal 2013, melumpuhkan mayoritas sendi kehidupan dan dunia usaha. Kerugian materi yang besar, tidak terhindarkan.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memperkirakan, kerugian mencapai Rp 20 triliun. Nominal itu mencakup seluruh sektor. Sementara untuk kerugian lokal, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana banjir Jakarta mencapai Rp7,5 triliun. Tak berbeda jauh dengan kerugian akibat banjir besar yang kembali melanda sepanjang Januari-Februari 2014, yaitu mencapai Rp 5 triliun.

Pada 2015 lalu, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Sarman Simanjorang menyebut ada 75 ribu toko dan kios di Jakarta yang lumpuh akibat banjir. Jika diasumsikan satu kios mendapatkan penghasilan 20 juta perhari maka sehari tutup akibat banjir membuat Jakarta merugi Rp1,5 triliun. Beberapa pusat jual beli dan perdagangan di Jakarta menjadi lumpuh akibat banjir. Pembeli tidak bisa mengakses pusat perbelanjaan dan toko yang terendam tak lagi bisa berjualan.

Seperti di Jakarta Timur, pelaku usaha di sepanjang Jatinegara Plaza tak beraktivitas. Di Jakarta Barat, pusat bisnis yang lumpuh yakni Ciputra Mall, Central Park, Glodok City, Pasar HWI Lindeteves, Glodok Jaya, Glodok Mangga Besar, Puri Indah Mall, Roxi Square, Mal Taman Anggrek, PX Pavillion, Lippo Mall Puri, dan WTC Mangga Dua. Pusat perbelanjaan itu menghentikan transaksi jual beli yang mengakibatkan kerugian harian yang tidak kecil.

Tidak hanya itu distribusi seperti bahan pangan, elektronik, dan kebutuhan lainnya tidak bisa berjalan dengan lancar dan tertahan. Khusus komoditas seperti sayuran menjadi tertahan di beberapa titik yang mengakibatkan kerugian baru akibat busuk.

Sementara pusat bisnis di Jakarta Pusat yang terkena dampak banjir yaitu ITC Harco Mas, Mangga Dua Mall, dan Plaza Harco Electronic. Sedangkan di Jakarta Utara yakni Mangga Dua Square, Electronic City, ITC Mangga Dua, Mal Kelapa Gading, Mal Artha Gading, Mal Kelapa Gading 1 dan 2, Mal Kelapa Gading Square, Mal Sport Kelapa Gading, dan La Piazza Kelapa Gading. Data BPAD Provinsi DKI Jakarta menyebutkan perkiraan kerugian bagi dunia usaha atas banjir yang berlangsung selama 1 minggu bisa mencapai Rp satu triliun.

Kerugian besar juga terjadi kembali pada banjir besar yang melanda Jakarta pada tahun 2007, karena jumlahnya juga mencapai triliunan. Berdasarkan data dari Laporan Perkiraan Kerusakan dan Kerugian Pasca Bencana Banjir Awal Februari 2007 di Wilayah Jabodetabek, yang dikeluarkan Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 16 Februari 2007, diperkirakan kerugian mencapai Rp5,16 triliun.

Bila dirinci, banjir yang melanda dari 31 Januari hingga 8 Februari 2007 itu, perkiraan merugikan sektor UKM dan koperasi sekitar Rp781 juta per hari. Sementara kerugian pada BUMD senilai Rp14,4 miliar. Sektor kerugian BUMN, seperti PLN merugi Rp17 miliar per hari, PT Telkom merugi Rp18 miliar, dan PT Pertamina Rp100 miliar. Kerusakan infrastruktur sungai diperkirakan senilai Rp383,87 miliar. Karena rusaknya tanggul pada 13 sungai, dan Kanal Banjir Timur dan Barat, serta tebing kali Ciliwung dan pintu air.

Perkiraan kerugian jalan raya dan kereta api mencapai Rp601,39 miliar. Berdasarkan informasi selama satu minggu, diperkirakan PT KAI mengalami opportunity loss dari pendapatan penjualan karcis senilai Rp1-1,5 miliar per hari. Perkiraan terhadap kerugian perbaikan sarana dan prasarana kegiatan belajar, senilai Rp14,17 miliar. Kerugian akibat kerusakan rumah tinggal, yang diperkirakan sebanyak 89,770 rumah terendam mencapai Rp695,7 juta lebih.

Bappenas mengasumsikan kerugian Rp10 juta per unit untuk rumah non permanen yang hilang tersapu banjir. Sedangkan Rp 20juta per unit untuk memperbaiki rumah dan kerusakan terhadap furniture serta peralatan rumah permanen, dan Rp5 juta untuk kalkulasi kerusakan ringan.INFOGRAFIK DERITA BANJIR JAKARTA

Baca juga artikel terkait BANJIR JAKARTA atau tulisan lainnya dari Arman Dhani

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Zen RS