Berapa Besar Pendapatan Industri Porno?

infografik berapa lama kamu nonton bokep
Kantor Vivid Entertainment Group, sebuah studio hiburan dewasa, terlihat di area Studio City di Los Angeles, Senin, 5 Maret 2012. Sebuah peraturan kota Los Angeles baru yang mewajibkan aktor film dewasa untuk mengenakan kondom pada set mulai berlaku Senin. Mereka memperkirakan bahwa sebanyak 90 persen film porno AS dibuat di Los Angeles, kebanyakan di daerah pinggiran San Fernando Valley. AP / Damian Dovarganes
Oleh: Faisal Irfani - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 4 menit
Perputaran uang di industri porno begitu fantastis. Namun, publik tak mudah mendapatkan angka yang valid.
tirto.id - Suka atau tidak, semenjak ditulis di babad klasik seperti Kamasutra, dijual sebagai majalah dewasa Playboy dan Hustler, keberadaan erotisisme dalam bentuk pornografi sudah berkembang pesat serta menjadi bagian dari kebudayaan manusia. Ia menyelinap di segala lini, segala umur, segala profesi, dan segala-segala lainnya.

Meski dilarang di sejumlah tempat dan cuma bisa diakses secara sembunyi-sembunyi, pada dasarnya pornografi adalah industri, serupa musik atau film, yang melibatkan perputaran uang yang besar, dengan para pelaku yang punya motif bisnis yang sama: mengeruk keuntungan. Karena motif itu pula ada banyak pihak yang mengesampingkan pertimbangan politik, moral, atau ideologis agar industri lendir tersebut bisa berkembang.


Berapa Profitnya?

Dalam artikelnya yang dimuat di laman Stanford University, Frederick S. Lane, penulis Obscene Profits: The Enterpreneurs of Pornography in the Cyber Age (2000), menyebut empat faktor yang membikin industri pornografi sukses besar.

Pertama, industri pornografi sangat mahir mengumpulkan sekaligus mempertahankan jumlah konsumen melalui serangkaian taktik pemasaran terbuka dan mudah diterima. Kedua, hadirnya banyak iklan dalam industri. Ketiga, kerjasama yang solid dengan pelaku pornografi yang lain. Dan terakhir, industri pornografi cerdas dalam memanfaatkan perkembangan teknologi.

Empat hal itulah yang membuat banyak pihak meyakini uang mengalir deras di pusaran industri pornografi. Tapi, berapa yang sebenarnya dihasilkan?

Ada banyak riset yang berusaha menjawabnya. Studi lawas Forrester Research (1998), misalnya, menyebut industri pornografi bernilai sebesar $10 miliar. Sementara Adult Video News (2009) mengatakan sebanyak lebih dari $4 miliar berputar dalam industri ini. Lalu, catatan dari US News & World Report (2007) menegaskan industri porno memiliki valuasi senilai $8 miliar.

Di Jepang, industri porno sendiri punya estimasi pendapatan sekitar $4,4 miliar, dengan jumlah produksi sebanyak 20 ribu judul tiap tahunnya.

Laporan Forbes (2001) merinci dengan jelas berapa pendapatan industri porno. Menurut mereka, uang yang berputar dalam industri porno kurang dari $3,9 miliar (PDF). Angka tersebut didapat dari penjualan dan penyewaan video porno ($500 juta-$1,8 miliar), internet ($1 miliar), biaya per tayang ($128 juta), hingga publikasi di media—majalah—($1 miliar).

Lambat laun, prediksi angkanya kian besar. Tahun kemarin, sebagaimana diwartakan The Guardian, industri porno punya perkiraan pendapatan sebesar $15 miliar, melampaui Netflix ($11,7 miliar) dan Hollywood ($11,1 miliar).

Fakta bahwa industri pornografi meraih pendapatan yang menggiurkan tidaklah mengagetkan. Lini bisnisnya banyak, jumlah konsumen setia tak terhitung banyaknya, belum lagi internet memudahkan orang untuk mengakses film-film porno merupakan salah tiga faktor penunjangnya.

Cuma, yang jadi masalah kemudian, beberapa pelaku di industri porno tak jarang melebih-lebihkan pendapatan yang diperoleh. Kritik ini disampaikan oleh David Klatell dari Columbia Graduate School of Journalism. Menurutnya, tidak ada perbedaan signifikan antara industri porno sekarang dan di zaman dulu.

“[Pornografi] adalah industri di mana mereka membesar-besarkan segala ukuran,” terangnya. “Faktanya, pornografi, atau ‘hiburan orang dewasa’ sekarang sama marjinalnya dengan dulu.”

Kesimpulan senada diutarakan Adams Media Research dan Variety. Keduanya beranggapan pendapatan industri porno, yang dihitung berdasarkan penjualan dan penyewaan video, tak lebih dari $2 miliar.



Mengapa Susah Dilacak?

Apa yang membuat publik cukup sulit memperoleh angka valid pendapatan industri porno?

Shira Tarrant, profesor studi gender dan seksualitas di Cal State Long Beach, sekaligus penulis The Pornography Industry (2016) dalam wawancaranya dengan The Atlantic, mengatakan terdapat beberapa alasan mengapa menghitung pendapatan industri porno tak semudah mengakses video porno itu sendiri.

Tidak banyak perusahaan pornografi yang menyimpan—atau membuat—catatan resmi berisikan hitung-hitungan penjualan produk mereka di khalayak. Kesulitan juga muncul sebab sebagian besar pelaku industri porno (YouPorn, RedTube, maupun Pornhub) bergerak di ranah online. Melacak hal ini lebih susah dibanding melacak produk-produk yang terlihat jelas secara fisik, seperti DVD maupun majalah.

Tarrant menambahkan, industri pornografi kelewat dimonopoli pelaku yang itu-itu saja sehingga kalaupun ada data yang menggambarkan berapa banyak penjualan dan pendapatan yang dihasilkan, hal tersebut tidak serta-merta dapat mewakili industri secara keseluruhan.

Kemudian, faktor minimnya peneliti yang melakukan riset tentang dampak ekonomi dari industri pornografi juga turut berpengaruh. Ini muncul karena mereka masih menganggap sebelah mata industri pornografi.

“[Industri porno] tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari masyarakat. Mereka menganggap ini bukan bisnis yang serius. Tapi, di sini, kita sedang berbicara tentang banyak uang,” ucap Tarrant.

Ini sekaligus merepresentasikan cara pandang masyarakat luas yang memandang industri porno sebagai sesuatu yang tabu, menjijikkan, dan tak perlu dibicarakan.

“Dan kemudian kita hidup dalam budaya yang enggan membicarakan seksualitas. Saya mengalaminya sendiri. Ketika tengah melakukan penelitian untuk buku saya, kata pornografi langsung identik dengan hal-hal seksual,” imbuhnya.

“Orang-orang yang saya jumpai tidak mendengarkan keterangan saya tentang bisnis maupun politik dalam industri ini. Mereka hanya memikirkan apakah saya menonton film porno atau tidak.”




Bertahan di Era Internet


Terlepas dari perdebatan ihwal berapa banyak uang yang dihasilkan dari industri porno, para pelakunya mengalami tantangan serius.

Yang paling terasa adalah pembajakan. Pada 2014, Nate Glass, pihak yang menjalankan Takedown Piracy, sebuah layanan penegakan hak cipta, telah mengirimkan 24.716 teguran kepada situs-situs yang membajak video porno resmi.

“Sulit mengatakan secara tepat berapa banyak kerugian yang ditimbulkan dari pembajakan karena perusahaan [pornografi] tidak banyak mempublikasikan laporan keuangannya untuk publik,” tutur Glass.

Yang pasti, kata Glass, pembajakan telah membikin pendapatan industri porno menurun tiap tahunnya.

Soal ini juga diungkapkan Ron Jeremy, aktor porno legendaris era 1970-an. Menurut Jeremy, pembajakan semakin berpotensi membuat industri porno gulung tikar.

“Internet telah memaksa industri porno kolaps,” kata Jeremy. “Video dulunya raja. Tapi, sekarang sudah lenyap dan semua beralih ke [video] kompilasi.”

Internet pun jadi kambing hitam. Pasalnya, orang semakin tahu cara mengakses pornografi secara cuma-cuma. Dari sana lahirlah pembajakan.

Namun, tak selamanya internet jadi hama bagi industri pornografi. Dengan internet pula para pelaku industri bersiasat agar dapur perusahaan tetap mengepul—sekaligus kebal terhadap pembajakan.

Internet membuat industri porno beradaptasi, misalnya, dengan mengubah pendekatan layanan yang semula konvensional (DVD) menjadi streaming.

Strategi ini sudah ditempuh situs-situs porno seperti Pornhub, Youporn, dan RedTube. Statistik yang dihimpun Forbes menyebut bahwa Pornhub memiliki konten premium yang lebih banyak dibanding Netflix. Ada sekitar lima juta user yang sudah mendaftar di Pornhub, dengan sirkulasi pemutaran video mencapai 200 ribu tiap bulannya.

Manfaat streaming dirasakan pula oleh YouPorn. Pada 2018, streaming di YouPorn—lewat ponsel—menyumbang 60 persen dari total traffic, mengungguli komputer (28 persen) dan tablet (11 persen).

Selain streaming, internet membikin industri porno berinovasi dalam memberikan pengalaman menonton. Sekarang, sudah banyak pabrikan porno yang memanfaatkan webcam sampai Virtual Reality (VR).

“Tidak seperti bentuk pornografi yang lebih tradisional, yang diambil di sebuah studio, dikemas dalam DVD, maupun diunggah secara online, webcam [berhasil] menawarkan kesempatan interaksi langsung dengan konsumen,” jelas Lynn Comella, profesor dari Studi Gender dan Seksualitas Universitas Nevada, Las Vegas. Ia menambahkan, dengan webcam, industri porno dapat menarik banyak pelanggan.

Untuk Virtual Reality (VR) pun juga banyak peminatnya. Beberapa di antaranya yakni CamSoda. Dilansir Fortune, CamSoda bekerjasama dengan bintang-bintang porno populer seperti Gianna Michaels dan Dani Daniels untuk membikin show yang ditayangkan di tengah pekan. Konsumen dapat mengaksesnya melalui perangkat seperti Samsung Gear VR, Facebook Oculus Rift, dan HTC Vive.

“VR dengan cepat menjadi salah satu instrumen yang paling sering dibicarakan dalam industri porno, mengingat teknologi ini mampu menyediakan pengalaman yang ‘nyata’ kepada konsumen,” terang Daron Lundeen, Presiden CamSoda.

Perkiraannya, Virtual Reality dalam industri porno akan tumbuh hingga $1 miliar pada 2020.

Terpaan nyatanya boleh datang silih berganti, tapi industri porno tetap (akan) abadi.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI FILM atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Bisnis)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight