Periksa Fakta

Benarkah Kurma Bisa Membunuh Virus Corona?

Penulis: Irma Garnesia - 10 Agu 2021 12:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Otoritas kesehatan WHO dan CDC merekomendasikan makan makanan bergizi dalam jumlah yang cukup.
tirto.id - Hotline Periksa Fakta Tirto (kontak) menerima laporan mengenai khasiat kurma untuk mengobati COVID-19. Pesan tersebut mengklaim bahwa kurma bisa mematikan virus penyebab COVID-19 sebelum virus dapat menyerang paru-paru.

Pesan itu mengklaim referensinya berasal dari Professor Hendrick Shatrick, seorang ahli virus atau virolog asal Amerika Serikat. Menurut pesan yang beredar, virus Corona (SARS-CoV-2) bersifat asam, sehingga untuk mematikannya, seseorang perlu mengonsumsi makanan dengan tingkat gula di atas virus Corona. Salah satu makanan yang disebut memiliki tingkat gula yang tinggi adalah kurma, selain juga pisang, apel, jeruk mandarin, nanas, dan jeruk.

Periksa Fakta Kurma Untuk Membunuh Virus Corona
Periksa Fakta Kurma Untuk Membunuh Virus Corona. foto/Hotline Periksa Fakta Tirto


Lalu, bagaimanakah kebenaran pesan ini?

Penelusuran Fakta

Pada masa awal pandemi, memang ada anjuran untuk menjaga kesehatan dengan mengonsumsi kurma dan madu. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Prof KH Achmad Satori Ismail, seperti dilansir dari Republika (20/3/2020). Beliau menyarankan umat Islam untuk mengonsumsi madu dan kurma berdasarkan hadis yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Kurma memang kaya nutrisi. Secara umum, seperti dirangkum dari situs Hellosehat, kandungan utama dari buah ini adalah karbohidrat sederhana (terutama gula, seperti sukrosa dan fruktosa). Hampir 70% kandungan kurma terdiri dari karbohidrat. Kandungan kurma lainnya berupa serat, protein, kalium, magnesium, tembaga, mangan, zat besi, dan vitamin B.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru merekomendasikan pasien COVID-19 yang menjalani isolasi mandiri untuk mengurangi konsumsi gula. WHO merekomendasikan orang dewasa untuk mengonsumsi kurang dari 6 sendok teh gula, sehingga sumber energi yang berasal dari gula kurang dari 5 persen asupan energi total. Kemudian, jika pasien ingin makanan manis, WHO menyarankan untuk mengonsumsi buah segar. Pasien sebaiknya menghindari buah kalengan atau buah yang dikeringkan dengan tambahan gula. Pasien juga mesti membatasi kandungan gula dalam makanan kecil atau pemanis minuman.

Mengurangi konsumsi gula sendiri ada sebabnya, terutama untuk pasien COVID-19.

"Semua yang mengandung gula, baik dari makanan atau minuman manis. Itu bikin parah risiko peradangan," jelas dokter spesialis gizi klinik, Maria Ingrid Budiman, sp.Gk, seperti dikutip dari Antara (9/7/2021). Tidak hanya gula, menurut dokter Maria, peradangan juga dapat disebabkan oleh makanan mengandung garam dan minyak berlebih, sehingga pasien COVID-19 sebaiknya menghindari makanan-makanan tersebut.

Menurut artikel berjudul “COVID-19, an Incentive to Tackle Sugar in Hospitals and at Home” yang dipublikasikan Journal of the Endocrine Society pada Juni 2021, pembatasan asupan gula pada orang dengan obesitas dan penyakit metabolisme memiliki efek terukur pada parameter fisiologis yang memprediksi infeksi hanya berlangsung selama 9 hari. Pengurangan gula juga dapat menurunkan risiko peradangan kronis yang berkontribusi terhadap memburuknya kondisi pasien.

Selanjutnya, konsumsi gula berlebih juga tak baik bagi pasien diabetes, karena dapat meningkatkan kadar gula darah. Seperti disarankan oleh International Diabetes Federation, penderita diabetes mesti menghindari makanan tinggi gula, karbohidrat, dan lemak.

Seperti yang kita ketahui pula, diabetes merupakan komorbid yang berbahaya apabila pasien terinfeksi COVID-19.

Lalu, bagaimana dengan konsumsi kurma pada penderita diabetes?

Menurut situs Hellosehat, rasa manis pada kurma berasal dari kandungan gula alaminya yaitu fruktosa. Nah, kurma yang biasanya dikonsumsi adalah buah kurma yang telah dikeringkan. Sementara proses pengeringan buah bisa membuat rasa buah semakin manis karena meningkatkan kandungan kalori dan karbohidrat dalam bentuk gula pada kurma.

Satu buah kurma kering (24 gram) mengandung setidaknya 67 kalori dan 18 gram karbohidrat. Kandungan karbohidrat ini yang nantinya akan memengaruhi kenaikan kadar gula darah. Dikhawatirkan, jika pasien diabetes mengonsumsi kurma dalam jumlah besar, kadar gula darah tentunya bisa naik drastis.

Akan tetapi, masih dari Hellosehat, kurma termasuk buah yang memiliki nilai indeks glikemik (GI) yang rendah. Indeks glikemik menunjukkan kemampuan suatu makanan untuk meningkatkan gula darah.

Makanan dengan GI yang tinggi bisa lebih cepat menaikkan gula darah. Sebaliknya, nilai GI yang rendah, terutama pada kurma, menunjukkan makanan tersebut lebih lambat mempengaruhi gula darah. Sebuah studi menyebutkan nilai indeks glikemik kurma berkisar di antara 44-45. Nilai GI yang berada di bawah angka 55 ini termasuk rendah.

Sehingga, menurut Hellosehat, mengonsumsi kurma dalam batas yang wajar dan disesuaikan dengan kebutuhan karbohidrat harian pasien diabetes tetap diperbolehkan.

Lalu, apakah ada jawaban definitif terkait manfaat konsumsi kurma untuk orang yang terinfeksi COVID-19? Bisakah kurma menyembuhkan penyakit COVID-19 seperti yang diklaim pada pesan berantai tersebut?

Tim riset Tirto bertanya pada para peneliti yang tergabung di Meedan, sebuah lembaga nonprofit yang membangun software dan inisiasi untuk memperkuat literasi digital dan jurnalisme global. Meedan, melalui Digital Health Lab mereka, pada Juli 2021 bekerjasama dengan perusahaan teknologi Facebook untuk membantu pemeriksa fakta dalam mengecek misinformasi di bidang kesehatan. Sebagai informasi, Tirto sendiri memang merupakan pemeriksa fakta pihak ketiga yang bekerjasama dengan Facebook.

Menurut para pakar kesehatan Meedan, sejauh ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mengonsumsi kurma dapat memperbaiki atau memperburuk kondisi pasien COVID-19, seperti yang diklaim di beberapa unggahan di media sosial. Menurut Institut Kesehatan Nasional (NIH) Amerika Serikat, tidak ada informasi yang cukup untuk memberi saran terkait konsumsi vitamin, mineral, bahan herbal apapun untuk mencegah atau mengobati COVID-19. Para ahli merekomendasikan masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang seimbang untuk tetap sehat dan membangun sistem kekebalan yang kuat supaya dapat melawan infeksi dan penyakit.

Kemudian, seperti yang dikutip dari jawaban Meedan pula, WHO dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan masyarakat untuk mengonsumsi makanan bergizi dalam jumlah yang cukup seperti sayuran, buah-buahan, protein, dan biji-bijian, bersama dengan banyak air agar tetap terhidrasi. Mengonsumsi makanan yang seimbang membantu seseorang untuk menjaga kesehatan dan membentuk sistem kekebalan yang lebih kuat untuk melawan penyakit, termasuk penyakit menular. Kedua organisasi ini juga menyarankan asupan gula, lemak, dan garam untuk dimoderasi sehingga bisa menurunkan risiko kelebihan berat badan, obesitas, kondisi jantung, diabetes, dan beberapa penyakit kronis lainnya.

Sebelumnya, kami sempat menemukan sebuah studi berjudul “The Use of Dates against COVID-19, based on Effectiveness or Religion's Believe? Trends and Relevance Analysis in Big Data” yang menghubungkan antara masifnya pencarian informasi mengenai buah kurma di internet, dan alasan mengapa terjadi tren pencarian mengenai kurma, terhadap penurunan kasus COVID-19 di Indonesia dan Arab Saudi (sebagai negara mayoritas Muslim dan mengenal buah kurma dengan baik). Studi tersebut dipublikasikan oleh jurnal Systematic Reviews in Pharmacy pada November 2020.

Studi tersebut mengumpulkan informasi pencarian mengenai buah kurma di Indonesia dan Arab Saudi dari 3 Februari 2020 hingga Juni 2020, dan menemukan bahwa puncak tren pencarian mengenai kurma terjadi pada 24 April 2020, yakni hari pertama Ramadan. Tren tersebut ditemukan pada kedua negara, yang bermayoritas penduduk Muslim.

Sayangnya, studi tersebut sama sekali tidak mengamati kenaikan atau penurunan kasus COVID-19 di kedua negara. Bahkan, studi ini sama sekali tidak mencantumkan angka kasus COVID-19 di kedua negara pada saat mengamati tren pencarian internet mengenai kurma. Studi hanya berfokus pada obat-obatan yang tengah diuji di Indonesia pada waktu itu, yakni Chloroquine dan juga penggunaan Dexamethasone.

Studi ini juga mengatakan bahwa cara yang lebih baik untuk mengobati pasien COVID-19 adalah melalui pengobatan herbal, karena tanaman herbal memiliki efek samping yang lebih sedikit dibanding obat-obatan, kecuali pada pasien yang memiliki komplikasi organ.

Seperti yang pernah dibahas di BBC melalui wawancara dengan Profesor Sir David Spiegelhalter dari Cambridge University, membandingkan performa berbagai negara dalam mengatasi COVID-19 adalah sesuatu yang sulit, sebab ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Faktor-faktor ini antaranya misalnya metode perhitungan kematian akibat COVID-19 yang bisa berbeda di masing-masing negara, misalnya apakah yang dimasukkan sebagai data hanya orang yang sudah terkonfirmasi positif atau juga menghitung kasus tertentu dimana seseorang dicurigai positif COVID-19; faktor politis seperti misalnya apakah negara tertentu bisa menyediakan data yang akurat; faktor populasi/demografi; jumlah tes harian dalam populasi, dan sebagainya.

Dari situ bisa dilihat bahwa perbandingan kasus COVID-19 antara Indonesia dan Arab Saudi juga perlu mempertimbangkan variabel-variabel tersebut, di luar tren pencarian buah kurma di internet. Laporan penelitian tersebut juga tidak memuat data riil dari lapangan untuk membuktikan bahwa konsumsi kurma dapat menyembuhkan pasien COVID-19.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sejauh ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mengonsumsi kurma dapat memperbaiki atau memperburuk kondisi pasien COVID-19. Adapun WHO menyarankan untuk membatasi konsumsi gula selama seseorang melakukan isolasi mandiri dan mengutamakan konsumsi buah-buahan sebagai penggantinya.

WHO dan CDC juga merekomendasikan makan makanan bergizi dalam jumlah yang cukup dan sewajarnya untuk menjaga kesehatan dan membentuk sistem kekebalan untuk menghalau penyakit. Dengan demikian, informasi terkait kurma yang dapat membunuh virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 bersifat salah dan menyesatkan (false&misleading).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6288223870202. Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty

DarkLight