Arief Balla
Mahasiswa pascasarjana pada TESOL and Linguistics Department di Southern Illinois University...

Benarkah Kita Semua Anak "Jaksel" yang Tertunda? Like, Literally?

12 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Oom Ken—seorang Indonesia keturunan Tionghoa yang telah tinggal di New York sejak 1990—tetap berbahasa Indonesia kepada anak perempuannya. Belum sempat saya bertanya sebabnya, ia sudah menjawab.

Ngapain (bahasa Inggris)? Kalau mau pakai bahasa Inggris ya cukup di sekolah. Sesuai konteksnya. Kalau lagi ngobrol dengan orang Indonesia, ya pakai bahasa indonesia,” jawabnya.

Selama dua malam saya menginap di rumah Oom Ken, ia hanya berbicara bahasa Indonesia, yang bahkan tanpa dialek ala Cinta Laura. Bahasa Inggris baru ia gunakan untuk mengungkapkan istilah tertentu yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia.


Beberapa hari terakhir, bahasa gado-gado yang keinggris-inggrisan kembali ramai di media sosial. Para pemuda dan pemudi “Jakarta Selatan” diduga keras sebagai penutur utama bahasa “keminggris”—sebuah kecenderungan campur aduk bahasa yang dikenal sebagai code-mixing atau code-switching dalam kajian linguistik.

Fenomena keminggris bukanlah hal baru. Gejala ini sudah muncul sejak dekade 1980-an dan semakin tak terbendung seiring bahasa Inggris kian diterima sebagai bahasa pergaulan internasional. Pada saat bersamaan, nasionalisme bahasa kita semakin luntur—atau jangan-jangan memang tak pernah ada?

Ada anggapan bahwa penggunaan bahasa Inggris lebih membanggakan buat penuturnya. Pejabat dan kaum terdidik merasa hebat dan intelek ketika menyelip-nyelipkan satu-dua istilah Inggris, kendati istilah tersebut masih punya padanan dalam Bahasa Indonesia.

Bahkan di tahun politik seperti sekarang, bahasa Inggris tiba-tiba jadi tolok ukur kualitas seorang (calon) presiden. Tentu anggapan semacam itu salah kaprah. Kalau ukuran kepantasan presiden adalah kecakapan berbahasa Inggris, gembel di New York pun fasih bicara bahasa Inggris.

Meski wajar, fenomena keminggris tidak lahir dari ruang kosong. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya.

Penguatan dan Pembiasaan

Yang pertama adalah faktor sosial. Bahasa mencerminkan kelompok sosial (usia, kelas, dll) dan segala perubahan di dalamnya. Anak-anak muda Jakarta Selatan, misalnya, lahir dari keluarga berpenghasilan menengah ke atas serta tinggal di lingkungan yang kosmopolit. Latar belakang sosial inilah yang membuka akses ke media berbahasa Inggris, sekolah internasional, hingga wisata ke luar negeri.


Mungkinkah penduduk di luar Jakarta Selatan ikut-ikutan keminggris? Sangat mungkin, jika beberapa faktor kunci (misalnya penghasilan) terpenuhi. Bukankah akses yang semakin dekat ke sumber daya ekonomi dan kekuasaan mempengaruhi kecakapan berbahasa asing para priyayi lokal sejak zaman Belanda?

Tak hanya di Indonesia, kelas-kelas yang kosmopolit memang cenderung menguasai bahasa asing yang pada zamannya dianggap sebagai lingua franca. Sebelum bahasa Inggris mendominasi dunia, bahasa Perancis adalah bahasa yang digunakan sehari-hari di lingkaran aristokrasi Eropa, mulai dari Jerman, Italia, hingga Rusia, seiring meluasnya teritori imperial Perancis pada abad 17-18.

Faktor kedua adalah apa yang disebut ahli linguistik Ad Backus sebagai entrenchment (penguatan secara individu) dan conventionalization (pembiasaan secara kolektif dalam masyarakat). Tokoh-tokoh publik, termasuk para pejabat, turut berjasa mendukung keduanya. Dalam hal proses penguatan, mereka menggunakan istilah-istilah Bahasa Inggris berulangkali di berbagai kesempatan. Semakin sering digunakan, semakin tinggi peluang sebuah bahasa untuk tersimpan di dalam area kognitif di otaknya dan perlahan-lahan menggeser sistem bahasa ibu. Proses ini bersifat perorangan. Namun, ketika ditiru banyak orang, muncullah proses pembiasaan.

Pada tahap akhir ini, istilah-istilah dalam bahasa Inggris makin banyak digunakan orang, bahkan menjadi gaya hidup dan diterima sebagai kewajaran, sampai-sampai berpotensi menjelma gaya bahasa baru yang menggusur bahasa sendiri. Kata-kata Indonesia bisa dijadikan padanan untuk kata-kata Inggris perlahan jarang digunakan dan akhirnya terbaikan. Sebaliknya, ada kalanya kata-kata dalam bahasa Inggris diindonesiakan mentah-mentah. Kini orang lebih mengenal “destinasi wisata” alih-alih “tujuan wisata”, atau “selebrasi” ketimbang “perayaan”.

Bahasa Inggris: dari Sananya sudah “Jaksel”

Tiap bahasa niscaya berkembang dan menyerap pengaruh dari bahasa lain. Tak terkecuali bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jika anak-anak “Jaksel” keminggris, bahasa Inggris sendiri dari sononya memang sudah punya kualitas “Jaksel”. Ia lahir dari perjumpaan dengan berbagai macam bahasa melalui proses pendudukan, perang, dagang, kolonisasi, dst.

Bahasa Mandarin punya serapan kata asing terendah di dunia, yakni hanya 2%, sementara tingkat serapan bahasa Indonesia sekitar 35%. Bandingkan dengan bahasa Inggris yang 42% persen katanya diambil dari bahasa lain. Salah satunya adalah bahasa Perancis, tidak saja karena dianggap elit, namun juga karena lantaran penaklukan Inggris oleh bangsa Norman pada 1066.

Namun—lagi-lagi—perubahan (gaya) bahasa juga tak lepas dari pergumulan bahasa sebagai bagian dari identitas kolektif dan ideologi. Sebelum Perang Dunia II, kalangan terdidik di Amerika Serikat bangga dengan penguasaan bahasa Perancis, Jerman, hingga Latin dan Yunani. Namun setelah imperium Amerika tegak pasca-Perang Dunia II, kewajiban menguasai bahasa selain Inggris di kampus-kampus AS lambat laun memudar.


Di sisi lain, pembicaraan soal kecakapan berbahasa setempat (Inggris) di AS kerap terjerumus ke narasi politik kalangan ultra-kanan. Pasalnya, kecakapan berbahasa Inggris selama ini dipandang berkaitan erat dengan urusan imigrasi. Ada asumsi di kalangan konservatif bahwa imigran merampas kesempatan kerja warga lokal, sulit berbaur, dan karenanya merasa tak wajib menguasai bahasa Inggris. Namun, mereka mengkhawatirkan tergerusnya bahasa Inggris, kenyataannya bahasa-bahasa lain seperti Spanyol yang digunakan oleh orang-orang Hispanik justru makin sedikit penuturnya. Pakar linguistik Laura Halliday menyebut fenomena ini sebagai rasisme linguistik (linguistic racism): bersikap rasis kepada orang lain dengan menganggap bahasa kita lebih superior.

Mudah-mudahan respons kita terhadap bahasa “Jaksel” tidak sejauh itu.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.