Benarkah Google Membuat Penggunanya Kecanduan dan Lemah Pikir?

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 6 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Jaringan ekosistem Google layaknya candu. Sebagian penggunanya merasa terjerat dan sulit lepas. Istirahat beberapa hari dari Google kabarnya menguatkan pikiran pengguna.
tirto.id - Bisakah manusia lepas dari Google? Bagi Dikmas Sulistio, pertanyaan itu mustahil dijawab. Pria berusia 30 tahun itu mengaku Google telah merasuki kehidupannya. Ia tak bisa lepas dari sistem operasi telepon pintar, hingga YouTube.

Ketika ditanya berapa lama ia bisa hidup tanpa Google, Sulistio menjawab singkat: "Satu jam sudah terlalu lama". Rentang waktu satu jam memang sangat lama bagi Sulistio untuk tak mengklik layanan Google.

"Kayaknya zaman sekarang tidak bisa deh hidup tanpa Google. Cari alamat saja sekarang googling," tukas pria yang bekerja di sebuah kementerian itu kepada Tirto, Rabu (5/9/2018).

Senada dengan Dikmas, Pradytia Putri Pertiwi (32 tahun) mengatakan bahwa Google saat ini sudah menjelma rujukan utama untuk mencari informasi yang penting baginya. Kandidat doktor yang akrab dipanggil Tia itu sangat merasakan manfaat Google, khususnya ketika sedang mengerjakan riset.

"Aku enggak bisa membayangkan garap tesis tanpa Google," ujarnya pada Tirto, Rabu (5/9/2018). "Ketika aku mendapat konsep baru, judul baru, langsung search Google. Mending tidak memakai Facebook daripada tidak memakai Google."

Meski memakai ponsel iPhone, Tia masih menggunakan produk-produk Google, termasuk layanan email dan video mereka, Gmail dan Youtube. Baginya produk-produk Google mempermudah hidupnya dan mempercepat proses yang harus ia jalani untuk memperoleh informasi.

"Cari resep masakan saja harus lewat Google. Kalau tidak ada Google, aku harus nelpon ibu, padahal ingin cepat masak dan selesai urusan," ujarnya, seraya mengatakan betapa Google telah banyak membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit yang dilontarkan anaknya.

Termasuk ketika si buah hati bertanya dari mana planet asal alien.

Layaknya candu, Google membuat orang untuk terus berpulang ke layanan-layanannya. "Menyeluruh dan terpercaya," ujar Dikmas ketika ditanya mengapa ia selalu kembali ke Google.

"Pernah pakai Yahoo dan Bing, tapi hasilnya tidak selengkap (Google)," imbuhnya.



Raja Google: Baik atau Buruk?

Statistik membuktikan bahwa Google adalah raja di dunia internet.

Berdasarkan catatan Business Insider, Google dan layanan YouTube miliknya menguasai 90,8 persen pangsa pasar mesin pencari. Sementara menurut Statista, pangsa pasar sistem operasi Android milik Google yang juga terintegrasi pada kemampuan mesin pencarinya mencapai 85,9 persen pada kuartal pertama 2018.

Meski pelit membeberkan angka, Google mengungkap bahwa mereka memproses sekitar 1,2 triliun pencarian dalam setahun, atau sekitar 3,5 miliar per hari di seluruh dunia pada tahun 2012. Tak bisa disangkal, ekosistem bikinan Google seperti Chrome, Google Home dan sistem operasi Android adalah faktor-faktor penting yang membuat Google tetap bertengger di ranking teratas.

Dominasi Google akhirnya mengubah kebiasaan penggunanya di seluruh dunia. Bahkan google sudah diadopsi sebagai kata kerja oleh kamus Inggris ternama Merriam-Webster.

Beda Generasi, Beda Pengaruh

Dalam Born Digital: Understanding the First Generation of Digital Natives, John Palfrey dan Urs Gasser mengungkap fenomena sosial ketergantungan internet. Menurut Palfrey dan Gasser, cara belajar digital natives—alias generasi yang sudah terpapar oleh teknologi digital dan internet sejak dini—mengalami perubahan dalam 30 tahun terakhir. Bagi generasi digital natives, aktivitas penelitian pada dasarnya sama dengan melakukan pencarian di Google, alih-alih duduk dan belajar di perpustakaan.

Apakah ketergantungan pada Google ini baik? Generasi yang sudah terpapar oleh internet sejak dini mungkin tak merasakan perubahan penting. Perubahan itu khususnya dirasakan oleh digital immigrants, yakni mereka yang lahir dan besar tanpa terekspos internet.

Nicholas Carr, kolumnis kondang di berbagai media ternama seperti New York Times dan Wall Street Journal, mengaku bahwa kehadiran Google telah membuatnya sulit konsentrasi dan membaca teks secara mendalam.

“Aku merasa gelisah, kehilangan pegangan, dan mulai mencari hal lain untuk dilakukan. Aku merasa seolah-olah selalu menyeret otak bebalku untuk kembali pada teks. Pembacaan secara mendalam yang biasanya alamiah sekarang menjadi hal yang berat,” terang Carr, seperti dikutip dari The Atlantic.

Rupanya Carr tak sendirian. Setelah bertanya pada kolega-koleganya, ternyata banyak dari mereka yang memiliki pengalaman serupa.

Di sisi lain, dalam sebuah laporan berjudul "The Google Generation: the information behavior of the researcher of the future", ditemukan bahwa meskipun orang muda lebih akrab dengan komputer, mereka sangat bergantung pada mesin pencari.

Laporan itu mengatakan bahwa orang muda “cenderung untuk lebih melihat daripada membaca serta tidak memiliki keterampilan kritis dan analitis untuk menilai informasi yang mereka temukan di web.”


Berhenti Gunakan Google, Apa yang Terjadi?

Dalam esainya yang diterbitkan Thrive Global, kolumnis asal New York Shelby Lorman melaporkan eksperimennya mengurangi penggunaan Google selama seminggu. Ia hanya menggunakan Google untuk mengecek fakta dan melakukan riset-riset terkait pekerjaan. Selebihnya, ia berusaha berinteraksi di dunia nyata untuk menggali hal-hal yang tak ia ketahui.

Rupanya tak mudah untuk tidak membuka Google. Pengalaman Lorman yang paling membekas adalah ketika harus bertanya kepada koleganya soal hal yang menjadi keahliannya, yakni bahasa. Pertanyaannya sederhana, kapankah ia harus menggunakan huruf besar pada kata bulan (moon).

Usut punya usut, huruf besar pada kata bulan hanya digunakan untuk menyebut satelit bernama bulan yang mengitari bumi. Selebihnya tidak. Yang ia rasakan? rasa malu.

Infografik Don't Be Evil Google


“Aku adalah 'penulis' yang belajar sastra Inggris di sekolah humaniora ternama. Bukankah aku seharusnya tahu hal-hal seperti ini?” tulisnya.

Di sisi lain, Lorman juga mengisahkan bahwa selama seminggu itu merasa lebih hidup karena berinteraksi dengan lebih banyak orang di sekitarnya.

Lain halnya dengan Dana NcMahan, yang sama-sama tidak menggunakan layanan Google selama seminggu. Dalam esainya di NBC News, ia menyatakan bahwa kemampuannya mengingat informasi yang ingin ia cari meningkat.

Setelah berkonsultasi dengan Dr. Richard Carmona, mantan kepala kesehatan publik angkatan darat AS, McMahan baru paham jika otaknya menjadi lebih aktif.

Dr. Carmona mengatakan jika aktivitas konstan otak dalam memperoleh informasi dapat mendorong terbentuknya jaringan otak yang akan membantu kita untuk mengingat berbagai hal. Di sisi lain, Lorman merasa bahwa hal itu tidak membuatnya lebih pintar.

Pradytia Putri Pertiwi kini merasa lebih bisa berjarak dengan Google. Hampir serupa dengan Lorman, dia merasa bisa berinteraksi lebih aktif dengan orang-orang di sekitarnya tanpa Google. Hanya saja, ia mengaku belum mampu lepas dari Google. Terlebih lagi, ia masih mengerjakan tesis.

Satu hal yang pasti, ketika ia susah mengakses Google pada saat yang sangat dibutuhkan, ia merasa frustrasi. “Gemes atau gregetan,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf