STOP PRESS! Status Gunung Agung Naik Menjadi Awas

Banting Setir Jadi Politisi

Banting Setir Jadi Politisi
Giring
Reporter: Nuran Wibisono
07 September, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Dunia politik banyak menjadi inspirasi untuk lagu. Namun, tak banyak musisi yang benar-benar aktif sebagai politisi, apalagi di Indonesia.
tirto.id - Saat grup Nidji muncul pada 2006 melalui album Breakthru', Giring Ganesha muncul menjadi sosok vokalis ikonik. Gaya bernyanyinya energetik. Suaranya berkarakter, dengan sengau yang terdengar pas. Begitu pula rambut keriting sedikit kribonya, yang membuat orang membandingkannya dengan rambut duo kribo ikonik lain: Ahmad Albar dan Ucok Harahap.

Hitung maju 11 tahun kemudian, rambut keriting panjang Giring sudah dipapras. Sekarang ia, selain tetap dikenal sebagai vokalis Nidji, akan melakoni karier baru sebagai politisi. Giring resmi mendaftarkan diri sebagai calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Baca JugaGiring Nidji Mengaku Tertarik Dunia Politik Sejak Kecil

Keinginan muncul di gelanggang politik ini diakui Giring karena terinspirasi Joko Widodo. Pria kelahiran 14 Juli 1983 ini pertama kali membaca berita tentang Jokowi di Majalah Rolling Stone Indonesia. Saat itu Jokowi sedang menarik perhatian sebagai, "Walikota Solo yang menyukai musik rock dan metal."

Waktu kemudian membawa Jokowi menjadi presiden, rasa kagum Giring makin besar. Ia menjadi salah satu pendukung saat Jokowi mencalonkan diri menjadi Presiden.

"Dan saya berkaca setiap pagi, kalau Pak Jokowi bisa, berarti seorang Giring Ganesha juga bisa," ujar Giring.

PSI sendiri dikenal sebagai partai yang dimotori politisi-politisi muda. Ketua Umumnya, Grace Natalie, baru berusia 35 tahun saat ini. Begitu pula motor lainnya: Raja Juli Antoni, Sekretaris Jenderal yang berusia 40 tahun; Wakil Sekretaris Jenderal Danik Eka Rahmaningtiyas (30); hingga ketua DPP seperti Isyana Bagoes Oka (37); dan Tsamara Amany (21).

Masuk Partai dan Mendirikan Partai

Sejatinya sudah sejak lama musik beririsan dengan dunia politik. Kadang musik memusuhi para politisi. Namun tak jarang musisi mendukung politisi, bahkan menjadi politisi itu sendiri.

Baca Juga: Menjadikan Musisi Sebagai Senjata Kampanye

Contoh paling unik adalah Peter Garret. Pada 1972 Garret ikut membentuk Midnight Oil bersama Rob Hirst, Andrew James, dan Jim Moginie. Saat itu Garrett adalah mahasiswa di Universitas Nasional Australia di Canberra. Sebagai band, Midnight Oil termasuk besar di Australia. Sejak merilis album perdana pada 1978, total jenderal sudah 11 album mereka rilis. Dalam buku 100 Best Australian Albums (2010), album mereka yang berjudul Diesel and Dust (1987) menjadi pemuncak. Bahkan mengalahkan album Back in Black milik AC/DC.

Di album itu, memang bisa dilihat bagaimana perhatian Garret pada warga Aborigin, juga isu-isu lingkungan. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Australian Conservation Foundation dua kali. Pernah juga bergabung dengan organisasi lingkungan Greenpeace. Pada 2002, akhirnya Garrett meninggalkan Midnight Oil untuk fokus ke politik.

Tak main-main, pada 2004 ia menjadi calon anggota DPR dari Partai Buruh Australia. Ia menang, dan menjadi anggota Parlemen Australia dari daerah Kingsford Smith hingga 2013.

Meski mendapat kritik karena beberapa keputusan kontroversial—seperti mendukung ide pendirian fasilitas pertahanan AS-Australia di Pine Gap—kariernya terus menanjak naik. Pada 2007, Garrett ditunjuk sebagai Menteri Lingkungan, Budaya dan Kesenian di pemerintahan Kevin Rudd. Posisi itu masih tetap ia pegang saat masa pemerintahan Julia Gillard. Pada 2010, ia ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan Sekolah, Anak-anak, dan Remaja (Schools Education, Early Childhood and Youth). Ia menjabat hingga 26 Juni 2013.

Koran The Sydney Morning Herald menyebut masuknya Garrett di pos baru sebagai, "berpotensi risiko, tapi ia punya cara bagus berhubungan dengan orang-orang, dan lebih cocok di pos ini."

Jello Biafra, mantan vokalis band punk rock Dead Kennedys, memilih masuk Partai Hijau Amerika Serikat. Pada 1979, Biafra mencalonkan diri sebagai Wali Kota San Francisco. Salah satu kebijakannya adalah melarang penggunaan mobil di dalam kota. Menggunakan nama asli Eric Boucher, Biafra tak menang. Ia berada di peringkat tiga, di bawah Dianne Feinstein dan Quentin Kopp. Tak buruk untuk musisi yang mendapat nama julukan dari produk jeli. 

Nama populer lain yang masuk ke jalur politik adalah Krist Novoselic. Selepas Nirvana bubar, Novoselic ikut membentuk JAMPAC (Joint Artists and Musicians Political Action Committee). Salah satu aksinya adalah menentang Erotic Music Law. Rancangan undang-undang itu akan membuat pihak berwenang punya kuasa menentukan sebuah album itu erotis, dan melarangnya dijual untuk pendengar di bawah 18 tahun.

JAMPAC juga menentang Teen Dance Ordinance, sebuah regulasi kontroversial di Seattle yang mengatur tentang pesta dansa dan konser. Sekarang mantan pemain bass Nirvana ini menjadi Ketua FairVote, sebuah lembaga yang memperjuangkan reformasi pemilu di Amerika Serikat.

Di Indonesia, musik dan politik juga beririsan. Mulai musik dangdut yang menjadi senjata untuk kampanye Golkar di era Orde Baru, hingga kumpulan musisi yang membuat Konser Dua Jari untuk mendukung pencalonan Jokowi sebagai Presiden. Namun tak banyak musisi yang benar-benar terjun ke dunia politik sebagai politisi.

Baca Juga: Sejumlah Musisi Deklarasikan Dukung Jokowi

Jika membicarakan musisi yang jadi politisi di Indonesia, contoh paling populer tentu Rhoma Irama. Ia sempat bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan. Saat itu keputusannya termasuk berani, karena itu artinya ia melawan Golkar yang jadi partai penguasa hingga 1998. Karena keputusan itu, Rhoma diboikot 11 tahun tak boleh tampil di acara pemerintah.

Namun keputusan itu gugur saat Rhoma memilih pindah ke partai Golkar pada 1992. Penggemarnya menganggap Rhoma berkhianat pada perjuangan awal. Namun sang Raja Dangdut terus jalan. Pada 1993, ia duduk di MPR mewakili Utusan Golongan, yang diisi oleh perwakilan dari berbagai profesi, termasuk seniman.

Baca Juga: Rhoma Irama, Sang Raja yang Tak Tergantikan

Pada 2015, Rhoma mendirikan Partai Islam Damai Aman (Idaman). Ia mengajak serta Habib Syehan Sahab, seorang tokoh Betawi dan mantan bankir di Bank Indonesia. Syehan menjadi Sekretaris Dewan Pembina, sedangkan Rhoma menjadi Ketua Dewan Pembina sekaligus Ketua Umum. Namun partai yang digadang-gadang bisa jadi kendaraan Rhoma menuju kursi presiden ini tak lolos verifikasi KPU.

Banting Setir Jadi Politisi

Selain Rhoma, Anang Hermansyah juga masuk ke jalur politik. Ia adalah mantan vokalis band rock 90-an, Kidnap. Ia kemudian populer sebagai penyanyi solo, dan kemudian juri ajang pencarian bakat. Ia termasuk contoh musisi yang berhasil menjadi politisi. Pada 2014, dengan kendaraan Partai Amanat Nasional, Anang berhasil menjadi anggota DPR RI dan masuk dalam Komisi X yang menangani urusan pendidikan, olahraga, dan sejarah.

Sigit "Pasha" Purnomo juga menjadi salah satu musisi yang berhasil menjadi politisi saat terpilih sebagai Wakil Walikota Palu di Pemilu 2015 silam. Selain dua nama itu, baru-baru ini ada Andika (Kangen Band) yang memilih masuk Partai Demokrat, juga Ahmad Dhani yang sempat mendaftar sebagai Wakil Bupati Bekasi, tapi kalah.

Menjadi politisi biasanya adalah pilihan setelah karier lewat dari masa puncak. Kecuali Jello Biafra dan Rhoma Irama yang memulai karier politik dan musik secara bersamaan, kebanyakan musisi yang jadi politisi aktif adalah mereka yang sudah melewati masa puncak sebagai musisi. Baik Giring, Peter Garrett, Anang Hermansyah, ataupun Sigit Purnomo.

Selain itu, di Indonesia, politisi bukanlah pilihan populer selepas karier puncak sebagai musisi. Tak banyak musisi Indonesia yang mau menjadi politisi. Padahal banyak musisi punya basis massa besar. Sebut saja Iwan Fals, Bimbim Slank, atau JRX Superman Is Dead. Mereka jelas berpotensi sebagai politisi dan pendulang suara.

Apa boleh buat, dunia politik dan sebagian besar politisi di Indonesia sudah cenderung lekat dengan citra buruk. Maka wajar kalau banyak musisi Indonesia enggan menjadi politisi dan kelak bisa terpeper keburukan politik.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - nrn/msh)

Keyword