Bahaya Jika Anak dan Remaja Lari dari Rumah

Reporter: Anzi Matta - 28 Nov 2016 06:26 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Sungguh berbahaya jika anak dan remaja lari meninggalkan rumah. Ragam ancaman mengintai. Yang paling berbahaya adalah terjerat lingkaran prostitusi.
tirto.id -
Data dari National Runaway Safeline menyebutkan setiap tahun sekitar 1,6 sampai 2,8 juta dan remaja lari dari rumah. Keluarga yang terlalu terlalu keras dan rutin memberikan hukuman dalam bentuk kekerasan terhadap anak menjadi alasan utama. Di Indonesia, alasan anak-anak lari di rumah beragam, dari mengalami kekerasan oleh orang tua atau pengasuh, hingga hubungan yang tak direstui oleh orang tua mereka.

Studi menunjukan bahwa 89 persen anak yang lari dari rumah disebabkan karena mereka mengalami tekanan fisik dan psikis. Hampir separuh anak-anak yang lari dari rumah memiliki orang tua (setidaknya salah satunya) yang punya persoalan dengan konsumsi alkohol.

Tekanan yang dirasakan anak bermacam-macam bentuk penyebabnya. Alasan utama tentu saja keluarga yang tidak berfungsi dengan baik. Tidak berfungsi baik itu bisa dalam bentuk orang tua yang menelantarkan anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) antara anak dan orang tua atau antar orang tua, sampai kekerasan seksual.


WHO mengelompokkan empat tipe kekerasan pada anak: kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan psikis, dan penelantaran. WHO mendefinisikan kekerasan fisik sebagai pemaksaan secara fisik terhadap anak yang menghasilkan kerugian kesehatan anak, kebertahanan, perkembangan, dan juga harga diri anak. Misalnya, memukul, menendang, menguncang tubuh anak, mencekik, membakar, meracun, dan lainnya. Umumnya kekerasan fisik terhadap anak di dalam rumah dilakukan sebagai bentuk hukuman.

Anak-anak yang mengalami kekerasan di dalam rumah memiliki perasaan sebagai anak yang tak diinginkan. Pada 2013, American Psyhological Association (APA) menambahkan kekerasan psikologis terhadap anak yaitu DSM-5 yang dideskripsikan sebagai "kekerasan verbal atau tindakan simbolis oleh orang tua atau pengasuh yang berpotensi besar menyebabkan kerugian secara psikologis terhadap anak”.

Pada 1995, APSAC mendefinisikan kekerasan psikologis adalah teror, isolasi, eksploitasi, mengabaikan respon emosional, atau penelantaran atau "pola berulang dari perilaku pengasuh atau insiden ekstrim yang membuat anak merasa tak berharga, tidak dicintai, tidak diinginkan, dan berbahaya”.

Ahli psikologi anak Alice Miller mengatakan kekerasan terhadap anak, bahkan walau yang paling minimal dan tidak secara langsung menimbulkan rasa sakit fisik, tetaplah berbahaya. Kekerasan seperti memukul bokong, menampar, dan bentuk-bentuk kekerasan yang melukai harga diri anak, berpotensi meninggalkan konsekuensi dalam jangka panjang. Bekas lukanya tidak terlihat tapi bisa menyelinap secara subtil dalam kepribadian.

Mereka bisa merasa terbuang, dibuang atau tidak diinginkan. Perasaan tidak diinginkan dan merasa terbuang inilah yang dialami karakter Ricky dalam Hunt for the Wilderpeople, film Selandia Baru garapan Taika Waititi.

Ricky adalah seorang anak yatim-piatu berumur 12 tahun yang selalu lari dari satu rumah ke rumah lainnya. Ricky dianggap sebagai “telur yang buruk” dan itu membuatnya seperti anak-anak yang mengalami kekerasan, merasa terbuang dan tidak dicintai, karena itu ia sering lari dari rumah orang tua angkatnya. Hingga akhirnya, seorang petugas sosial menyerahkan Ricky kepada sepasang suami-istri di pedalaman desa.

Pasangan tersebut adalah Bibi Bella dan Paman Hec. Bibi Bella adalah seseorang yang sabar dan berpengertian, bahkan ketika ia mengetahui Ricky hendak kabur dari rumahnya, ia hanya berkata bahwa sebaiknya Ricky makan sebelum lari dari rumah. Saat itulah Ricky merasa nyaman dan diterima di dalam keluarga. Dan itu menghentikan kebiasaannya lari dari rumah.

Kesalahan Orang Tua

Aktivis Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi, mengatakan bahwa anak lari dari rumah adalah kesalahan orang tua. Menurutnya jika memarahi anak terlalu sering akan menyebabkan anak lari dari rumah.

"Di sini tiap bulan ada satu atau dua orang anak kabur ke sini karena tak kuat sering dimarahi orang tuanya," ujar Seto.

Pada 2016, di Medan, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun lari dari rumah dengan kondisi kaki yang dirantai oleh ayahnya. Sementara itu, di Jakarta, dua balita yang mengalami kekerasan, berusia empat dan tiga tahun, kabur dari rumah mereka di Rawabunga, Jakarta Timur. Dua balita itu berjalan kaki sekitar 4 km dari rumah mereka dan mengetuk pintu seorang warga dan meminta makan.

Di Makassar, sembilan anak yang menjadi korban kekerasan oleh ayah mereka, lari dari rumah bersama ibu mereka. Empat dari sembilan anak bersaudara itu pernah beberapa kali mencoba melakukan bunuh diri beberapa kali sebelum diamankan di Rumah Aman Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kota Makassar.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat jumlah anak yang berhadapan dengan masalah hukum juga mengalami peningkatan selama periode Januari-April 2016. "Data KPAI mencatat anak yang berhadapan dengan hukum total di bulan Januari sampai 25 April 2016 mencapai 298 kasus. Meningkat 15 persen dibandingkan dengan 2015," tutur Ketua KPAI, Asrorun Niam.

INFOGRAFIK Risiko Anaka-Anak Lari dari Rumah


Respon orang tua ketika anak lari dari rumah berbeda-beda. Dari beberapa kasus, jika anak yang lari adalah lelaki, orang tua memiliki kecenderungan untuk mengabaikan atau tidak bertindak lebih serius, seperti melaporkan kepada pihak kepolisian, karena dianggap sebagai kenakalan biasa.

Sementara jika anak perempuan yang lari, orang tua cenderung panik karena mengkhawatirkan ketidakmampun anak perempuan untuk bertahan hidup. Anak perempuan cenderung lebih besar menjadi korban kekerasan seksual. Umumnya, orang tua akan melaporkannya kepada pihak kepolisian.

Beberapa kasus anak lari dari rumah yang dilaporkan kepolisian adalah anak perempuan dan sebagian besar dipicu hubungan yang tak direstui orang tuanya. Dari bulan September hingga November 2016, ada lima berita anak perempuan lari dari rumah karena hubungan yang tak direstui. Empat di antaranya berusia 16 tahun.

Dan orang tua yang ditanyai penyebab kepergian anaknya mengatakan tidak tahu alasan anak mereka lari dari rumah. Kebanyakan di antara kasus tersebut berakhir dengan pernikahan—meskipun telah terjadi pemerkosaan.

Orang tua di Indonesia cenderung mengabaikan anak laki-laki yang lari dari rumah, padahal anak laki-laki maupun perempuan sama-sama rentan menjadi korban kejahatan. Orang tua dapat menghubungi teman dan guru anak mereka. Jika belum menemukan, bisa menghubungi pihak kepolisian yang didampingi LSM anak, karena polisi yang menangani kasus anak hilang cenderung mengabaikan psikis anak.

Orang tua perlu berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater anak di beberapa LSM terdekat dalam upaya mencegah tindakan yang mengabaikan psikis anak paska lari dari rumah sehingga anak merasa tidak diterima kembali.

Jika Anda atau kawan Anda adalah orang yang ingin melarikan diri dari rumah, sebaiknya pikirkan dulu baik-baik. Risikonya sangat besar. Namun jika merasa situasi betul-betul tidak tertahankan, dan lari dari rumah (setidaknya untuk sementara) sebagai solusi jangka pendek, pertimbangkanlah lebih dulu beberapa hal ini:

Pastikan Anda yakin dengan pilihan tersebut. Untuk itu sangat penting mendengar pendapat orang lain. Bisa teman dekat yang dipercaya, jika perlu bahkan bapak/ibu guru di sekolah.

Pikirkan baik-baik dan secara matang. Apa Anda memiliki cukup bekal untuk bertahan hidup? Apa ada tempat tinggal yang aman untuk keberlangsungan (sementara) hidup Anda? Apa Anda memiliki cukup bekal atau cara bertahan hidup (pekerjaan) dalam jangka panjang? Apa keputusan Anda sebanding atau memuaskan daripada pilihan untuk bertahan di rumah?

Ingat, hampir pasti situasi di luar rumah jauh lebih berbahaya dibanding di dalam rumah. Sebuah studi pada tahun 1998 menunjukkan bahwa 43% dari anak yang kabur dari rumah, baik laki-laki maupun perempuan, akhirnya terantuk jerat perdagangan seksual setelah meninggalkan rumah. Dan 48% anak-anak yang lari dari rumah dan akhirnya terjerat prostitusi disebabkan karena mereka tak punya tempat berlindung yang aman.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN TERHADAP ANAK atau tulisan menarik lainnya Anzi Matta
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Anzi Matta
Penulis: Anzi Matta
Editor: Zen RS

DarkLight