Bagaimana Musik Rock Runtuhkan Rezim Komunis Ceko

Oleh: M Faisal Reza Irfan - 25 September 2017
Dibaca Normal 4 menit
Penahanan Plastic People and the Universe memicu aksi unjuk rasa yang dipimpin Vaclec Havel.
tirto.id - Lengkingan melodi gitar itu menukik tajam. Berselang kemudian, hentakan drum masuk mengiringi dengan tempo yang tak terlalu cepat. Pelan tapi meyakinkan. Suara vokal pun larut menyusul setelahnya seraya melengkapi iringan nada sebelumnya. Tipikal balada rock 1960an, “Sweet Jane” adalah harta karun yang wajib disimak dengan seksama.

Komposisi berjudul “Sweet Jane” tersebut dimainkan oleh band Cekoslowakia bernama Plastic People of the Universe. Bagi pendengar musik rock, nama Plastic People mungkin tak sepopuler Pink Floyd, Led Zeppelin, maupun The Rolling Stones. Album mereka tak laku banyak, konser mereka juga tak mengguncang daratan layaknya band-band rock klasik 1970an. Meski demikian, Plastic People memiliki andil dalam catatan sejarah Cekoslowakia.

Sulit melepaskan Plastic People dari konteks politik dalam negeri Cekoslowakia dan peristiwa Revolusi Beludru pada 1989. Seperti kita ketahui, pemerintahan Cekoslowakia sejak tahun 1948 dikuasai oleh Partai Komunis. Kemenangan Uni Soviet dalam Perang Dunia II serta jatuhnya Front Timur ke tangan negeri beruang tersebut berandil besar atas dominasi Partai Komunis.

Seiring berjalannya waktu, Partai Komunis Cekoslowakia dianggap gagal memerintah. Politik di Cekoslowakia jauh dari demokratis: serba tertutup, rasa takut di mana-mana, kebebasan berpendapat dibungkam, ditambah perilaku aparat pemerintah yang korup lagi sewenang-wenang. Negara berkuasa mutlak; kepada mereka yang menyuarakan kritik, siap-siap dicap sebagai “musuh negara".

Plastic People pun sempat jadi "musuh negara".

Selepas pergolakan besar Prague Spring pada 1968, pemerintah Cekoslowakia lewat kebijakan "normalisasi" memberlakukan aturan bahwa semua musisi harus tunduk pada rezim baru yang dikendalikan dari Moskow itu. Tak ada lirik lagu dan nama band yang berbahasa Inggris, kritik dilarang, rambut gondrong haram.

Baca juga: Cekoslowakia 1989: Revolusi Beludru Gulingkan Rezim Komunis

Para personel Plastic People memanjangkan rambut dan menulis lirik-lirik subversif yang membakar amarah pemuda-pemudi Cekoslowakia. Bagi mereka lebih baik dipenjara daripada, mengutip ungkapan penyair Wiji Thukul, “menghamba kepada ketakutan yang memperpanjang barisan perbudakan.”

Pada 1970, pemerintah komunis Cekoslowakia melarang Plastic People untuk tampil di publik. Musik mereka dilarang diperdengarkan, konser-konser dibubarkan, dan fans militan yang ngotot membela sang idola terlarang bisa ditangkap dan dipenjara.

Tapi mereka tak patah arang. Jika tampil di panggung publik dilarang keras, maka panggung kolong tanah (underground) tak jadi soal. Mereka melangsungkan pertunjukan secara rahasia dengan bantuan beberapa rekan sejawat di kancah musik bawah tanah. Puncaknya, pada 1976 Plastic People bersama 13 band lainnya mengadakan festival musik di kota kecil Bojanovice yang berujung penangkapan personel satu bulan kemudian.

Peristiwa penangkapan tersebut membuat publik geram. Vaclav Havel, seorang aktivis yang kemudian jadi presiden Ceko, mengumpulkan dukungan untuk membebaskan para personel band yang ditangkap dan mendesak pemerintah untuk menjamin kebebasan berekspresi. Havel menyusun sederet tuntutan dalam sebuah akta bernama Piagam 77. Kelak, Piagam 77 menjadi fondasi untuk menggulingkan rezim komunis di Cekoslowakia pada 1989.

Baca juga: Memobilisasi Para Residivis demi Mendukung Revolusi RI

“Serangan terhadap sekelompok pemuda yang hanya ingin hidup dengan cara mereka sendiri adalah sebuah serangan sistem totaliter kepada kehidupan dan pada hakikatnya terhadap kebebasan manusia,” ujar Havel menanggapi penangkapan personel Plastic People seperti dilansir The New York Times. Personel Plastic People meringkuk di tahanan antara 8 hingga 18 bulan.

infografik revolusi bawah tanah


Band yang Berusaha Menolak Politis

Plastic People dibentuk pada 1968 oleh Milan Hlavsa. Dalam proses pembentukannya, Hlavsa dibantu sejarawan dan kritikus Ivan Jirous yang kemudian mengenalkannya pada Josef Janicek (pemain gitar) serta Jiri Kabes (pemain biola). Di tengah perjalanan, Jirous merasa bahwa salah satu kekuatan band rock ialah penggunaan bahasa Inggris dalam lagu. Maka dari itulah, pengajar asal Kanada, Paul Wilson direkrut band dan bertugas untuk menerjemahkan lirik berbahasa Ceko ke bahasa Inggris.

Nama Plastic People of the Universe sendiri diambil dari salah satu lagu Frank Zappa berjudul “Plastic People” yang terdapat dalam album Absolute Free (1967). Total sudah 21 album mereka hasilkan. Pada awal kemunculannya, Plastic People memainkan lagu-lagu idola mereka seperti The Velvet Underground, Frank Zappa, hingga Fugs. Walhasil, tak kaget apabila musikalitas mereka tak jauh-jauh dari ketiga band tersebut.

Menurut jurnalis musik Robert Christgau, hasil kreasi Plastic People identik dengan gejolak politik yang terjadi pada Cekoslowakia. Mulai dari lirik, konstruksi lagu, hingga substansi secara keseluruhan. Christgau menambahkan, ada beberapa album Plastic People yang kiranya berkualitas tinggi.

Pertama ialah album 1997 (1998). Christgau mengatakan album tersebut menghasilkan kepercayaan diri untuk Plastic People sebab mereka berhasil menggabungkan sisi spiritual Zappa, blues, serta energi melimpah-ruah.

Selanjutnya Magical Nights (2010), sebuah merupakan album kompleks yang berisi lagu pengiring di film Quentin Tarantino, tiupan maut saksofon, sampai alunan prog-rock ala Can, band legendaris asal Jerman. Terakhir adalah Leading Horse (1983) di mana sentuhan saksofon Vratislav Brabanec memberikan karakter tersendiri dalam album ini yang mungkin tidak bisa ditemukan di sisi album-album sebelumnya.

Baca juga: Dua Nada Kemenangan Bob Dylan Meraih Nobel

The Guardian menyebutkan bahwa Plastic People merupakan kekuatan rock berbahaya sepanjang masa di kancah bawah tanah. Mereka terus diburu aparat, dibubarkan konsernya, tapi dapat membuat album yang terinspirasi dari Lou Reed dan Frank Zappa.

Layaknya band-band berumur panjang, Plastic People juga mengalami apa yang disebut “pergeseran musikalitas.” Apabila Bob Dylan dianggap tak jadi musisi folk semenjak memegang gitar elektrik, maka Plastic People dirasa berubah secara dramatis (dan menentukan corak musik hingga 35 tahun ke depan) setelah Brabenec masuk sebagai anggota.

Hadirnya Brabenec telah menambahkan unsur baru jazz avant-garde ke dalam lagu-lagu Plastic People. Brabenec menggabungkan tekstur kasar musik rock dengan melodi ala musik Skotlandia.

Kemudian, Brabenec turut merombak manajemen Plastic People dan mendorongnya untuk menggali khazanah budaya lokal. Langkah yang diambil ialah mendorong penggunaan lirik berbahasa Cekoslowakia sebagai kekuatan lagu. Untuk pertama kalinya, Plastic People merekam materi orisinil di Perancis dalam sebuah album bertajuk Egon Bondy's Happy Hearts Club Banned (1978).

Meski tumbuh dalam iklim politik yang represif, Plastic People menolak disebut sebagai band politis. Menurut pemain keyboard and synthesizer Josef Janicek, keterlibatan Plastic People dalam pusaran politik di Cekoslowakia adalah semata karena keadaan. Plastic People dianggap politis karena berani berani bereksperimen. Di lain sisi, Rolling Stone menyebutkan penggunaan lirik berbahasa Cekoslowakia membuat Plastic People terdengar lebih politis.

Hiatus Plastic People pada 1988 berhenti pada 1988 sempat mengundang spekulasi. Banyak yang mengatakan bahwa People Plastic berhenti rekaman dan manggung akibat kondisi internal band. Pada 2010 mereka mulai merekam materi baru walaupun tanpa kehadiran pendiri grup Hlavsa yang sudah meninggal dunia.

Apabila ditelusuri lebih dalam, baik Vaclav Havel maupun Plastic People memiliki sosok idola (yang juga menginspirasi) dalam entitas The Velvet Underground. Keterkaitan Havel, Plastic People, dan The Velvet Underground bukannya kebetulan. Havel dikenal sebagai penggemar Velvet Underground. Sedangkan Plastic People sering membawakan lagu-lagu Velvet Underground di atas panggung.

“Sebelum Revolusi Beludru pecah, Havel pernah mendapat beasiswa ke Amerika. Selama di sana, Havel mulai mendengarkan lagu-lagu The Velvet Underground. Ternyata kesukaan itu berlanjut saat dia pulang ke Ceko,” terang Taufiq Rahman pengamat musik dan Redaktur Pelaksana The Jakarta Post saat dihubungi Tirto. Dalam sebuah wawancara, Havel menjelaskan bahwa salah satu inspirasi untuk menggulingkan rezim komunis melalui Revolusi Beludru adalah Velvet Underground.

Taufiq menambahkan bahwa tema-tema lagu Velvet Underground tak lazim pada zamannya: heroin, seks, hingga dunia prostitusi. Menurutnya, hanya beberapa kalangan tertentu saja (terutama yang memiliki sensibilitas tinggi) yang dapat meresapi lagu-lagu Velvet Underground dan mengolahnya jadi inspirasi.

“Perlu diketahui juga Velvet Underground ini yang membuat Brian Eno, David Bowie, hingga Patti Smith terjun dalam dunia musik. Inspirasinya mereka besar. Dan bisa dibilang Velvet Underground mempunyai andil dalam Revolusi Beludru meskipun secara tidak langsung,” jelas Taufiq.

The Velvet Underground merupakan band asal New York yang dibentuk pada 1964 oleh Lou Reed, John Cale, serta Sterling Morrison. Selama berkarir, empat buah album telah mereka rilis: The Velvet Underground & Nico (1967), White Light/White Heat (1968), The Velvet Underground (1969), dan Loaded (1970). Dalam perjalanannya, seniman pop art Andy Warhol pernah berkolaborasi dengan band ini.

Taufiq melanjutkan, dari empat album yang dihasilkan masing-masing memiliki pengaruh bagi banyak genredan kalangan. White Light/White Heat (1968) misalnya, memberikan dampak bagi perkembangan musik yang keras, agresif, dan kencang. Lalu, album The Velvet Underground & Nico (1967) dan Loaded (1970) menjadi teladan musik pop.

“Walaupun dari segi penjualan album mereka bisa dibilang gagal, tapi tidak bisa dipungkiri pengaruhnya melalui empat album terhadap genre musik lain cukup besar,” papar Taufiq.

Revolusi Beludru 1989 kiranya memberikan banyak pelajaran penting bagi masyarakat dunia. Mulai dari represi pemerintah, musisi yang terjun dalam politik, sampai demonstrasi damai yang akhirnya menjatuhkan rezim.

“Yang jelas, musik dan politik sebenarnya memiliki jarak yang memisahkan. Akan tetapi, ada suatu momen kedua hal tersebut bisa berhubungan dan membentuk sinergi kuat. Salah satunya contohnya adalah Revolusi Beludru,” kata Taufiq.

Baca juga artikel terkait MUSIK ROCK atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Musik)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Windu Jusuf