Dua Nada Kemenangan Bob Dylan Meraih Nobel

Oleh: Nuran Wibisono - 15 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Orang berdebat tentang kemenangan Bob Dylan yang meraih Nobel Sastra. Para penentang kemenangan Dylan bertanya-tanya kenapa seorang musisi yang menang? Bagi yang mendukung, menganggap ia sangat layak menerimanya. Dua nada yang mewarnai puncak capaian sang empu penulis hikayat di musik ini.
tirto.id - Bob Dylan bukanlah penyanyi bersuara merdu. Kalau dia ikut ajang seperti American Idol, atau The Voice, pasti dia akan bikin juri mengernyitkan dahi sembari membatin: kenapa orang ini berani ikut kompetisi nyanyi. Kalau dibandingkan dengan Jakob Dylan, anak lelakinya yang membentuk band The Wallflowers yang berjaya pada dekade 90-an, suaranya juga masih kalah merdu.

Tapi perihal lirik, mungkin dia adalah salah satu dari sedikit sekali musisi yang bisa menulis lirik laiknya seorang empu menulis hikayat. Naratif. Macam mendengarkan kakak lelaki, paman, atau kakek yang mendongeng di hadapanmu sembari menenteng gitar.

Dan kemampuannya membuat musik, akhirnya menghasilkan sesuatu yang nyaris tak pernah disangka: memenangkan penghargaan Nobel Sastra. Sejak pertama kali dihelat pada 1901, belum ada musisi yang memenangkan penghargaan ini. Sontak, kemenangan Dylan menghasilkan kontroversi yang lebih besar.

Dalam sejarah Nobel Sastra, pemenangnya kebanyakan berada dalam ranah fiksi, seperti penulis novel, puisi, atau drama. Memang ada beberapa pengecualian, seperti saat Winston Churchill menang berkat pidatonya, atau ketika tahun lalu Svetlana Alexievich menjadi jurnalis pertama yang memenangkan Nobel Sastra. Dylan diganjar penghargaan bergengsi ini karena dianggap "membuat ekspresi puitis baru dalam tradisi lagu-lagu Amerika."

Perlu diakui, lirik Dylan jauh lebih berbicara ketimbang musiknya. Apalagi suaranya. Lirik Dylan merentang jauh, dari protes tentang ketidakadilan seperti di "Hurricane", perenungan tentang arti hidup di "Blowin' in the Wind", tentang perlunya menjadi adaptif di "The Times They Are A-changin'", protes terhadap perang di "A Hard Rain's a-Gonna Fall", hingga "Like A Rolling Stone", lagu bernuansa eksistensialis yang ditulis Dylan saat kelelahan dengan segala popularitas dan tekanan.

Kekuatan lirik Dylan memang sudah tak perlu diragukan lagi. Tapi pertanyaannya adalah: apakah dia pantas memenangkan Nobel Sastra? Kemenangan Dylan membawa perdebatan dan kontroversi Nobel ke ranah yang lebih luas. Jika dari dulu perdebatan tentang pemenang Nobel hanya berkisar soal politik atau negara asal pemenang, kini perdebatan ditarik ke ranah yang lebih ideologis, namun juga rawan memancing perdebatan tiada putus: apakah lirik lagu pantas disamakan dengan novel, puisi, atau drama?

Perdebatan sudah tentu terbelah. Kebanyakan musisi mendukung Dylan. Mungkin mereka sudah lama kesal karena lirik lagu dianggap tak sekuat karya sastra lain. Sedangkan penulis sastra bisa jadi sinis sekaligus khawatir. Mungkin mereka berpikir, selama ini saja memenangkan Nobel sudah susah, ini kok masih ditambah saingan dari jagat musik.



Novelis Jodi Picoult, dalam akun Twitternya, bilang dia senang melihat Dylan memenangkan Nobel Sastra. Tapi dia memberi imbuhan tagar: #ButDoesThisMeanICanWinAGrammy?

David Gaines, profesor Bahasa Inggris di Universitas Southwestern, Texas yang juga penulis buku In Dylan Town: A Fan's Life, berkata bahwa Dylan amat pantas mendapatkan Nobel Sastra. "Aku rasa Dylan selalu berhasil menggabungkan antara kata-kata, pikiran, gambar, kekuatan berkisah, dan membuat kalimat menjadi abadi," katanya pada ABC News.

Gaines juga menambahkan bahwa kemenangan Dylan membawa efek lain, yakni gagasan tentang apa itu "literature". Mulai sekarang, literature bisa berada dalam bentuk film, musik, pidato, apapun yang bersifat teks. "Jadi ini membuat cakupan makna literasi menjadi lebih luas dan tidak sekadar novel dari era kakekmu saja."

Jim Fusilli, seorang penulis musik, mengakui kalau penghargaan Nobel pada Dylan bisa dibilang agak terlambat diberikan. "Dylan adalah seorang ahli yang bertutur kisah-kisah Amerika dengan cara tidak biasa, yang menemukan cara baru menyelipkan narasi dalam musik," tulisnya di Wall Street Journal. Respons serupa juga diberikan kritikus musik dari New York Times, Jon Pareles, yang mengherankan kenapa Nobel Sastra untuk Dylan baru diberikan sekarang.

Tapi banyak pula yang menentang terang-terangan. Bukan karena tidak menghargai Dylan atau lirik buatannya, melainkan karena batasan literatur yang menjadi semakin blur. Salah satu kritik pedas ini disampaikan oleh kolumnis The New York Times, Anna North. Menurutnya Dylan memang seorang penulis lirik yang brilian. Dia juga sudah menulis buku sastra dan juga biografi.

"Tapi tulisan Dylan tidak bisa dipisahkan dari musiknya. Dia menjadi hebat karena dia seorang musisi yang hebat. Dan ketika komite Nobel memberikan hadiah itu kepada seorang musisi, mereka kehilangan kesempatan untuk menghormati seorang penulis," katanya.

Argumentasi North cukup masuk akal. Pada era di mana hobi membaca makin ditinggalkan, hadiah di bidang Sastra malah jadi makin penting. Penghargaan Nobel Sastra, bagi North, harusnya menjadi semacam pembuktian bahwa fiksi dan puisi masih penting dan krusial bagi penulis yang bekerja keras untuk mendapat pengakuan dunia internasional.

"Musik populer memang juga memerlukan usaha keras, tapi sebagian besar dari mereka sudah mendapatkan pengakuan yang pantas. Dan terlepas dari itu semua, tak akan ada yang rela kalau penghargaan tertinggi di musik diberikan kepada penulis. Kita tidak akan melihat Zadie Smith atau Mary Gatiskill di Rock N Roll Hall of Fame," kata North.

Terlepas dari semua kontroversi dan perdebatan ini, hingga tulisan ini dibuat, Dylan belum berkomentar apapun. Hari Jumat malam, Mr. Tambourine Man sedang ada di atas panggung acara festival musik Desert Trip. Dia tampil sebelum The Rolling Stones. Pria bernama asli Robert Allen Zimmerman ini memang masih aktif di usianya yang sudah menginjak angka 75. Tahun ini dia mengeluarkan album baru berjudul Fallen Angels, albumnya yang ke-37. Dylan juga masih aktif melakukan konser. Umur, baginya, memang hanya angka.

Orang mungkin masih akan berdebat tentang kemenangan ini hingga berminggu-minggu ke depan. Perdebatan itu tidak akan ada ujungnya, juga tidak akan membuat panitia Nobel mengubah keputusan. Para penentang kemenangan Dylan juga masih akan bertanya-tanya kenapa seorang musisi yang menang, dan bukan, misalkan, Murakami yang sudah berkali-kali dinominasikan. Mungkin Dylan, dengan kesantaian ala lelaki tua yang sudah mendapatkan apapun di dunia ini dan tinggal menunggu moksa, akan menjawab kalem.

The answer my friend, is blowin' in the wind. The answer in blowin’ in the wind

Baca juga artikel terkait HADIAH NOBEL atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Suhendra