tirto.id - Gurita merupakan salah satu hewan laut yang memiliki kemampuan mengubah warna dan tekstur kulit untuk berkamuflase. Selain menghindari predator, kemampuan ini juga bagian dari cara berkomunikasi dengan gurita lain.
Ketika berkamuflase, kelompok hewan sefalopoda ini dapat mengubah warna kulit agar selaras dengan lingkungan sekitar. Dengan demikian mereka menjadi hampir tidak terlihat, atau justru menampilkan pola yang membuat tampak mencolok. Mekanisme perubahan warna terjadi hanya dalam waktu singkat.
Proses kamuflase gurita melibatkan jaringan sel kulit bernama kromatofor, iridofor, dan leucophores, yang semuanya terhubung dengan sistem saraf. Berbekal kemampuan ini, gurita menjadi hewan yang lincah untuk mengelabuhi pemangsa.
Mengenal Kemampuan Kamuflase Gurita
Gurita termasuk hewan laut kelas sefalopoda, yang memiliki kemampuan menyesuaikan warna kulit terhadap lingkungan sekitar. Kamuflase menjadi bagian dari respons fisiologis untuk beradaptasi dengan kondisi sekitar. Dengan cara ini, gurita nyaris tidak terlihat oleh predator yang bisa memangsanya.
Gurita hanya memerlukan waktu sepersekian detik untuk mengubah warnanya. Perubahan warna didukung oleh sel kulit bernama kromatofor, yakni kantung berisi pigmen dengan puluhan otot radial yang melekat pada bagian tepinya. Kantung elastis ini memiliki pigmen warna merah, kuning, cokelat, atau hitam.
Penelitian Cephalopod Dynamic Camouflage: Bridging the Continuum Between Background Matching and Disruptive Coloration (2008) karya RT Hanlon dan tim, yang dimuat laman National Library of Medicine, menemukan bahwa saat menyesuaikan diri dengan latar belakang, gurita dapat memunculkan pola seragam dan pola bercak untuk berkamuflase.
Kedua pola tersebut memiliki ukuran yang selaras dengan objek-objek di sekitarnya seperti pasir, lumpur, atau kerikil kecil. Akibatnya, gurita bisa menyelaraskan diri dengan warna latar belakang dalam skala spasial tertentu.

Gurita juga menggunakan cara kamuflase disruptif untuk mengelabuhi predator. Pola tubuh disruptif dicirikan oleh warna terang dan gelap berskala besar dengan beragam bentuk, orientasi, ukuran, dan kontras. Kamuflase disruptif bertujuan mengaburkan bentuk asli gurita sehingga tidak dikenali.
Kemampuan kamuflase gurita ditunjang dengan struktur tubuh yang tidak memiliki tulang punggung, sehingga mampu menyerupai benda lain yang tidak diminati predator. Kamuflase model penyamaran (masquerade) juga memungkinkan gurita menyelinap di celah kecil untuk menghindari mangsa.
Selain bisa berubah warna, gurita memiliki kemampuan mengubah tekstur tonjolan kulitnya (papila) dengan menyerupai bebatuan, terumbu karang, dan benda di sekitarnya.
Cara ini dilakukan dengan mengatur ukuran papila mulai dari benjolan kecil hingga duri yang panjang. Dengan cara ini, gurita nyaris tidak terlihat bentuknya.
Rahasia di Balik Perubahan Warna dan Tekstur Kulit Gurita
Studi Mechanisms and Behavioural Functions of Structural Coloration in Cephalopods (2008) karya Lydia M Mathger yang dimujat laman National Library of Medicine, menemukan bahwa kromatofor dapat mengembang dan mengkerut sesuai sistem saraf dan perintah otak.
Ketika gurita berhadapan dengan predator, otak bakal mengirimkan sinyal ke kromatofor, sehingga kantung pigmen tertarik melebar dan menyebabkan banyak pigmen terlihat di kulit gurita. Sebaliknya, ketika otot mengendur, kantung pigmen bakal kembali ke ukuran semula. Sehingga pigmen yang terlihat menjadi lebih sedikit.
Ukuran kromatofor saat mengembang bisa berdiameter hingga 1,5 mm. Sementara kromatofor yang mengerut hanya berukuran sepersepuluh milimeter. Selain kromatofor, gurita memiliki iridofor dan leukofor.
Pada struktur tubuh gurita, iridofor terletak dalam lapisan khusus di bawah kromatofor yang berpigmen. Iridofor didefinisikan debagai sel tak berwarna dengan ukuran yang bervariasi, namun umumnya lebih kecil dari 1 mm. Sel-sel ini mengandung tumpukan lempengan tipis, yang memantulkan cahaya melalui interferensi lapisan tipis.
Iridofor memiliki tumpukan lempeng pemantul yang menciptakan warna berkilau seperti hijau, biru, perak, dan emas. Sementara leukofor memantulkan kembali warna lingkungan sekitar, sehingga hewan tersebut menjadi tidak terlalu mencolok. Penyesuaian intensitas cahaya yang dipantulkan oleh iridofor di sekitarnya, menjadi kunci mencapai kamuflase yang efektif.
Gurita juga punya sel pemantul putih bernama leucophores, yang mengandung kumpulan protein berbentuk bola. Sel ini berfungsi menyebarkan cahaya putih yang membantu menciptakan kontras tinggi.

Saat kromatofor, iridofor, dan leucophores bekerja bisa menghasilkan warna yang kaya untuk berkamuflase sesuai warna lingkungan. Dengan kemampuan ini gurita menjadi hewan yang piawai mengelabuhi pemangsa.
Gurita juga dapat mengubah tekstur kulit menggunakan papila, yakni struktur otot kecil (hidrostat otot) yang menonjol di bawah kulit.
Papila kulit dikendalikan oleh neuron motorik di otak. Saat otak memerintahkan mengubah tekstur, gurita berubah dari permukaan kulit halus menjadi bertekstur tajam, hanya dalam waktu kurang dari 1 detik.
Penelitian Neural Control of Cephalopod Camouflage (2023) karya Tessa G. Montague yang dimuat di Current Biology Magazine, menjelaskan mekanisme otak gurita ketika melakukan kamuflase.
Saraf yang ada di otak menjulur ke semua tentakel yang berfungsi untuk mencengkeram. Saraf gurita terhubung ke kulit, memerintahkan perubahan warna dan tekstur sesuai lingkungan.
Apa Saja Fungsi Kamuflase Gurita?
Kamuflase gurita sejatinya bukan hanya digunakan untuk bersembunyi. Hal ini juga berperan ketika mereka berburu, menghindari predator, serta berinteraksi dengan lingkungan. Saat menghadapi predator, gurita dengan cepat akan berubah warna menyerupai benda di sekitarnya, semacam karang, pasir, atau alga.
Selain menyerupai latar, gurita juga dapat berubah warna dan bentuk secara acak, menciptakan visual yang nyaris tidak dikenali atau bahkan menyerupai hewan lain.
Beberapa penyamaran gurita yang khas yaitu menyerupai ikan pipih hingga ular laut. Struktur tubuh yang tidak memiliki tulang punggung membuat gurita dapat berubah seperti benda mati yang tidak diminati predator.
Kemampuan mengubah warna kulit juga dimanfaatkan gurita untuk memperingatkan predator. Mereka bisa berubah warna menyerupai gurita bergaris biru (hapalochlaena lunulata) yang dikenal mematikan. Saat dimakan hewan laut, gurita cincin biru bisa menyebabkan kegagalan pernapasan.

Saat merasa terganggu, gurita kecil ini dapat memunculkan pola cincin berwarna biru berkilau yang mengelilingi bercak cokelat tua di sekujur tubuh. Dengan kamuflase tersebut gurita mengirimkan pesan berbahaya, sehingga predator enggan untuk memangsa.
Perubahan warna dan bentuk yang dilakukan secara cepat, memungkinkan gurita memanfaatkan celah batu, dasar berpasir, terumbu karang, dan habitat lain sebagai tempat berlindung. Dengan begitu, gurita bisa bertahan hidup dari ancaman predator.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Oryza Aditama
Masuk tirto.id







































