Menuju konten utama
GWS

Stres Justru Bikin Ingatan Semakin Kuat, Bagaimana Bisa?

Tidak semua stres merusak otak. Stres akut dapat mempertajam ingatan emosional, sementara stres kronis justru mengancam kesehatan kognitif.

Stres Justru Bikin Ingatan Semakin Kuat, Bagaimana Bisa?
Ilustrasi. FOTO/Istock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Life is only as good as the memories we make. Kebahagiaan hidup bergantung pada kenangan yang kita ciptakan. Kata-kata tersebut ditulis oleh Kris Roe, pentolan band rock The Ataris, dan termaktub dalam lagu berjudul "So Long, Astoria" yang terdapat di album berjudul sama. Roe sengaja mengajak para pendengarnya melangkah sepanjang jalan kenangan yang dilaluinya dulu di kampung halamannya di Anderson, Indiana.

Bermodalkan kenangan, Roe dan rekan-rekannya mampu menciptakan sebuah album penuh, yang sekaligus merupakan debut The Ataris di label mayor. Dan tentunya, mereka tidak sendirian. Daft Punk, lewat Random Access Memories (2013) pernah pula melakukannya. Lalu, ada pula film-film seperti This Is England (Shane Meadows, 2006), Persepolis (Marjane Satrapi, 2007), dan Belfast (Kenneth Branagh, 2021) yang dibuat juga berdasarkan memori para sutradara serta penulisnya.

Pendek kata, kenangan memang punya makna begitu besar bagi manusia. Dari sana kita bisa belajar, berkembang, mengenali ancaman, menjalin relasi, membuat keputusan-keputusan penting, dan tentu saja menghasilkan karya.

Dan ternyata, kenangan-kenangan itu, wabil khusus yang bersifat emosional, menurut sebuah penelitian Yale University yang hasilnya diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada Desember 2025, bisa melekat demikian kuat berkat peranan sebuah hormon yang selama ini identik dengan hal negatif. Di sini kita bicara soal kortisol, hormon yang bertanggung jawab atas stres pada manusia.

Stres Kronis Berisiko Memicu penyakit Alzheimer

Stres terbagi dua. Ada yang dinamakan stres akut, ada pula yang disebut stres kronis.

Stres kronis adalah stres yang berlangsung lama. Ini disebabkan, misalnya, oleh tekanan pekerjaan yang tak kunjung reda, konflik rumah tangga yang berlarut-larut, atau beban keuangan yang seakan-akan tak berujung. Dalam kondisi ini, tubuh terus-menerus memproduksi kortisol dalam kadar tinggi. Dari situ, otak mengalami kelelahan lantaran sumber dayanya habis untuk menghadapi ancaman terus-menerus. Akibatnya, ia tak lagi sanggup memproses atau menyimpan informasi baru.

Sebuah studi yang hasilnya diterbitkan di JAMA Network pada Maret 2023 menggambarkan betapa destruktifnya stres kronis bagi otak. Penelitian ini melibatkan 24.448 orang dewasa Amerika berusia 45 tahun ke atas yang dipantau dalam kurun waktu panjang.

 ilustrasi duka ambigu

ilustrasi duka ambigu. foto/istockphoto

Hasilnya, mereka yang memiliki kadar stres tinggi secara terus-menerus 1,37 kali lebih berisiko mengalami gangguan kognitif dibandingkan yang tidak stres, bahkan setelah para peneliti memperhitungkan variabel lain seperti usia, ras, jenis kelamin, dan penyakit kardiovaskular. Stres macam ini pulalah yang diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko penyakit Alzheimer.

Pada stres kronis, kadar kortisol yang terus tinggi mulai bersifat merusak bagi neuron di hipokampus, yakni wilayah otak yang berperan sentral dalam pembentukan memori. Selain itu, stres kronis juga mengubah cara otak memproses informasi. Menurut laporan dari Queensland Brain Institute, Australia, alih-alih berpikir secara fleksibel dan holistik, otak dalam kondisi stres kronis cenderung bekerja lebih kaku dan terfokus pada ancaman.

“Ketika seseorang mengalami stres berkepanjangan, tubuh terus bertindak seolah berada dalam kondisi fight-or-flight, dan otak yang terlalu banyak mendedikasikan energi untuk menghadapi ancaman yang dirasakan itu menjadi tidak mampu menyimpan memori di wilayah lain,” jelas Elizabeth Goldfarb, profesor psikiatri dari Yale University.

Goldfarb merupakan anggota tim penelitian Yale University yang menemukan efek positif stres terhadap ingatan tadi. Namun, tentu saja, stres yang dimaksud di sini bukanlah stres kronis, melainkan stres akut, yaitu stres yang terjadi dalam waktu terbatas. Stres macam ini muncul pada situasi-situasi seperti perdebatan yang tiba-tiba memanas, nyaris mengalami kecelakaan, atau peristiwa-peristiwa intens lain yang berlangsung singkat.

Sebelum terlibat dalam riset yang hasilnya terbit pada 2025 tadi, Goldfarb sempat meneliti hal serupa. Hasilnya adalah ulasan yang terbit di jurnal Brain and Cognition pada 2019. Dalam makalah tersebut, Goldfarb merangkum temuan dari berbagai penelitian pada manusia dan hewan. Dia mendapati bahwa stres akut dapat meningkatkan memori untuk informasi yang relevan secara emosional, dan mekanismenya melibatkan interaksi antara sistem adrenergik (adrenalin) dan glukokortikoid (kortisol).

Tikus yang belajar menavigasi labirin dengan terpapar stressor mampu mengingat jalur lebih baik dari tikus yang tidak terpapar. Manusia yang mempelajari kata-kata atau gambar dalam kondisi stres lebih mampu mengingatnya keesokan hari, khususnya jika materi tersebut mengandung muatan emosional. Semua ini mengisyaratkan satu hal. Yakni, otak yang sedang mengalami stres akut tidak sedang rusak, melainkan sedang dalam mode prioritas.

Stres Akut Berpotendi Memperkuat Ingatan

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dalam otak selama mode prioritas itu?

Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab dalam studi yang terbit pada 2025. Caranya, para peneliti meminta 27 partisipan melihat gambar-gambar yang dibagi dua jenis: yang dirancang memicu respons emosional dan yang bersifat netral. Selama proses ini, sebagian partisipan diberi 20 miligram hidrokortison (bentuk sintetis dari kortisol) secara oral, sementara sebagian lain diberi plasebo.

Keesokan harinya, para partisipan diuji kemampuan mengingat mereka, sementara aktivitas otak dipantau secara real-time menggunakan functional MRI (fMRI). Tim menggunakan pendekatan analisis inovatif yang disebut dynamic connectome-based predictive modeling (dCPM), yang mampu mengidentifikasi jaringan-jaringan otak dengan resolusi temporal tinggi.

Dari situ, ada dua hasil utama yang ditemukan. Pertama, kortisol secara signifikan memperkuat ingatan terhadap gambar-gambar emosional, alias yang lebih membangkitkan perasaan dibandingkan. Kortisol, dengan demikian, tidak memperkuat semua ingatan secara rata, tetapi secara selektif memprioritaskan informasi yang dianggap penting secara emosional.

Kedua, kortisol mengubah cara jaringan-jaringan otak bekerja bersama. Para peneliti menemukan dua jaringan berbeda yang aktif dalam proses ini. Yang pertama adalah jaringan pemrosesan arousal (kesiagaan emosional), yang mencakup insula anterior, amigdala, korteks cingular anterior, dan midbrain. Yang kedua adalah jaringan pembentukan memori, yang melibatkan korteks frontoparietal dan default mode network.

Pada partisipan yang diberi kortisol, jaringan arousal menjadi lebih stabil dan kuat keterlibatannya. Sementara itu, jaringan memori mengalami reorganisasi, menjadi lebih terfokus pada konten emosional. Kedua jaringan itu pun menjadi lebih terintegrasi satu sama lain dibandingkan pada mereka yang hanya mendapat plasebo. "Jika Anda sedang stres dan mencoba mempelajari sesuatu, otak Anda akan memilih informasi yang paling relevan," terang Goldfarb.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, faktor waktu sangat menentukan. Agar stres akut memperkuat ingatan, stres itu harus terjadi bersamaan dengan atau segera sebelum proses pengkodean informasi.

Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa hewan yang belajar segera setelah terpapar stressor mengingat dengan lebih baik, sementara yang belajar 30 menit kemudian tidak menunjukkan manfaat yang sama, bahkan dalam beberapa kasus ingatannya justru melemah.

Pada manusia, pola serupa ditemukan. Partisipan yang terpapar stres tepat sebelum belajar menunjukkan free recall (mengingat tanpa bantuan petunjuk) yang lebih baik, sedangkan mereka yang mengalami stres 30 menit sebelumnya justru lebih buruk performanya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dengan pengetahuan ini?

Yang pertama dan terpenting, berhenti memandang semua stres sebagai satu hal yang sama. Stres kronis adalah ancaman nyata bagi kesehatan otak dan harus dikelola serius, lewat olahraga teratur, tidur yang cukup, menjaga hubungan sosial yang bermakna, dan jika perlu, bantuan profesional. Temuan JAMA pada 2023 tadi adalah peringatan bahwa beban yang terus-menerus menghimpit, sedikit demi sedikit, bisa mengikis kemampuan berpikir dan mengingat kita tanpa kita sadari.

Di sisi lain, kita tidak perlu takut pada semua bentuk tekanan. Rasa gugup sebelum wawancara kerja, ketegangan saat mempresentasikan sesuatu yang penting, atau adrenalin yang memuncak dalam situasi yang menantang, bisa jadi bukan hambatan untuk berpikir jernih. Sebaliknya, ia mungkin adalah cara tubuh mempersiapkan otak untuk lebih tajam, lebih fokus, dan lebih mampu menyimpan apa yang terjadi sebagai pengalaman bermakna.

Para peneliti Yale sendiri mengakui masih banyak yang perlu dijawab. Misal, apakah manfaat kortisol ini berlaku untuk semua orang atau ada pengecualian-pengecualian. Kemudian, apakah ada komponen stres lain yang berkontribusi terhadap mekanisme penguatan memori tadi. Lalu, yang paling penting, mungkinkah ini semua diterapkan dalam konteks pendidikan atau terapi. Semua masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Akan tetapi, satu hal sudah jelas. Otak manusia tidak dirancang untuk hidup tanpa tekanan sama sekali. Justru, ia dirancang untuk menghadapi semua itu.

Baca juga artikel terkait STRES atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi