tirto.id - Banjir lahar Gunung Semeru menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Lumajang pada Minggu (1/11/2026) malam hingga Senin (2/11) pagi.
Fenomena yang disertai dengan getaran selama enam jam ini membawa material vulkanik yang cukup besar, material kayu, dan arus deras berwarna cokelat. Tercatat 1.100 warga di Kecamatan Jatiroto dan Tempursari dilaporkan terdampak.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) resmi mengeluarkan imbauan agar aktivitas masyarakat di dalam radius 13 kilometer dari puncak untuk dihentikan. Aktivitas di sekitar 500 meter dari tepi sejumlah sungai yang rawan, seperti Besuk Kobokan, juga diimbau untuk dihentikan.
Secara umum, banjir lahar merupakan bahaya sekunder gunung api yang membahayakan. Secara struktur, banjir lahar memiliki massa yang lebih berat dan kecepatan yang lebih tinggi dibanding air. Bencana tahunan ini dapat menimbulkan sejumlah dampak dan kerugian, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai.
Mengapa Lahar Dingin Semeru Tetap Mengancam Meski Tidak Erupsi?
Meski tidak mengalami erupsi, bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung gunung api tetap membahayakan masyarakat, apalagi ketika memasuki musim hujan. Bahaya sekunder gunung api dapat berupa lahar hujan atau banjir lahar dingin.
Melansir dokumen yang diterbitkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia dengan judul Pengenalan Gunung Api, lahar hujan terjadi ketikan endapan material erupsi di puncak dan lereng yang terbawa oleh hujan atau air permukaan.
Material erupsi yang terbawa terdiri dari abu gunung dan fragmen batuan berbagai macam ukuran, mulai dari kecil hingga bongkahan batu besar hingga lebih dari 5 meter. Material-material ini akan mengapung terbawa aliran air.
Jika hujan yang membawa material vulkanik sangat deras di wilayah hulu, akan menyebabkan banjir lahar. Situasi akan membahayakan bagi masyarakat terutama yang berada di aliran sungai di sekitar Gunung Semeru.
Banjir lahar membawa campuran material padat (piroklastika) dan air hujan yang kemudian menjadi lumpur yang mengalir menuruni lereng gunung. Bencana ini dapat terjadi tiba-tiba tanpa ada tanda-tanda mendung atau hujan terlebih dahulu di wilayah hilir karena material ini dibawa oleh hujan deras di area puncak.
Secara struktur, aliran lahar memiliki massa yang lebih berat dibandingkan air karena mengandung material padat berupa pasir hingga batu. Saat mengalir, lahar ini cenderung memiliki kecepatan yang tinggi.
Massa berat dan kecepatan tinggi ini akan menghasilkan energi yang besar dan membahayakan masyarakat sekitar yang tinggal di dekat bantaran sungai. Terutama jika aliran sungai atau tanggul tak lagi mampu membendung hujan lahar, maka material vulkanik ini berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Misalnya, menerjang pekarangan rumah, area persawahan, hingga wilayah yang padat penduduk. Peristiwa mengalirnya endapan material berupa lumpur dan bahkan batu besar ini dapat mengubah topografi sungai dan merusak infrastruktur yang dilewati.

Studi Analisis Kerawanan Banjir Lahar Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang Berbasis Sistem Informasi Geografis (2024) karya Luna Pranardia yang dimuat di Jurnal PANGEA menjelaskan sejumlah alasan banjir lahar Gunung Semeru kerap terjadi.
Pada analisis Luna Pranardia, Kabupaten Lumajang bagian Timur memiliki kemiringan lereng yang landai. Wilayah landai ini cenderung kerap terjadi banjir karena aliran air sulit mengalir. Sedangkan wilayah bagian Barat Kabupaten Lumajang, termasuk wilayah di sekitar Gunung Semeru memiliki lereng yang semakin terjal yang memungkinkan air mengalir lebih cepat ke daerah landai.
Bebebrapa wilayah yang sering terdampak bajir lahar Gung Semeru yaitu Kecamatan Pasrujambe, Kecamatan Pronojiwo, Kecamatan Candipuro, Kecamatan Pasirian, dan Kecamatan Tempusari dengan persentase kemiringan 0-8% dan 25-45%.
Dalam pergerakannya, banjir lahar akan mengikuti aliran sungai yang berada di sekitarnya. Dengan begitu, daerah aliran sungai yang terdekat menjadi wilayah paling rawan terdampak banjir lahar. Selain itu, tutupan lahan juga memengarubi laju banjir lahar yang ada di sekitar gunung. Sayangnya, kawasan di sekitar gunung Semeru justru justru didominasi hutan kering dengan persentase terbesar yang berdampak signifikan terhadap lahu aliran banjir lahar.
Berikutnya, curah hujan dengan intensitas yang beragam mulai dari intensitas sangat rendah hingga sangat tinggi terjadi di sekitar Gunung Semeru. Curah hujan akan semakin tinggi jika berada di daerah pegunungan. Dengan begitu jumlah hujan tauhan di sekitar Semeru cenderung lebih tinggi dibanding wilayah lain yang memicu terjadinya banjir lahar.
Dampak Banjir Lahar Dingin dan Bagaimana Mitigasinya?
Banjir lahar dingin di sekitar Gunung Semeru terjadi hampir setiap tahun dengan dampak yang beragam. Merujuk data bencana Indonesia 2023 yang diterbitkan BNPB, banjir lahar yang terjadi pada 7 Juli 2023 menyebakan longsor yang menutupi jalan jalan di Desa Ranupane Kecamatan Senduro setinggi satu setengah meter dan lebar lima meter.
Longsor juga menerjang Dusun Kamar Kajang Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro dan Desa Supiturang Kecamatan Pronojiwo. Selain longsor, banjir lahar juga Sementara itu, mengakibatkan luapan material dan kerusakan infrastruktur.
Tercatat 26 rumah mengalami kerusakan, ada enam ekor kambing dilaporkan hanyut terbawa aliran lahar dan sawah seluas 234,08 hektar dan pertanian tembakau seluas 158,15 hektar mengalami gagal panen.
Pada tahun 2024, banjir lahar dingin terdampak di 9 kecamatan akibat meluapnya tiga Daerah Aliran Sungai terdekat. Selain itu, 3 orang dilaporkan meninggal, 17 jembatan rusak berat, dan empat rumah warga rusak.

Selanjutnya, banjir lahar dingin Gunung Semeru pada tahun 2025 menyebabkan 1.211 KK terisolir. Banjir lahar yang terjadi pada Rabu (5/11) pukul 14.00 WIB ini mengarah hingga ke kawasan Gunung Sawur, sebuah perbukitan yang terletak di kaki Gunung Semeru.
Material vulkanik yang terbawa aliran banjir menyebabkan akses jalan penghubung dua desa terputus, dua unit dump truck terjebak, dan sekitar 30 hektare lahan pertanian warga terdampak, sebagaimana dikutip dari laporan BNPB.
Terbaru, banjir lahar yang terjadi pada Minggu (1/11/2026) malam hingga Senin (2/11) pagi menyebabkan tanggul milik Desa Purorejo, Tempursari, dilaporkan jebol karena tak mampu menahan debit air. Beberapa akses jalan juga tertimbun longsor dan beberapa desa tergenang banjir. Tercatat 1.100 warga dilaporkan terdampak dan 2 korban jiwa meninggal dunia hingga Selasa (3/11).
"Pada periode pengamatan Senin pukul 00.00-06.00 WIB tercatat satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 65 mm dan lama gempa 21.600 detik atau enam jam," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Agastya Rajendra, dalam laporan tertulis, mengutip ANTARA pada Senin (2/11).
Aktivitas kegempaan selama enam jam terakhir terekam satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 mm dan lama gempa 115 detik, kemudian 14 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-25 mm dan lama gempa 31-153 detik.Adapun mitigasi yang dilakukan oleh PVMBG yaitu memberikan informasi real time perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru serta cuaca yang ada di sekitarnya. Biasanya, visual gunung berkabut dan hujan di daerah puncak menjadi tanda awal terjadinya banjir lahar.
Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Lumajang turut melakukan asesmen dan penanganan. Apabila dampak yang ditimbulkan meluas dan signifikat, pemerintah setempat akan menetapkan banjir lahar sebagai Status Tanggap Darurat Bencana selama kurun waktu yang ditentukan.
Pemerintah setempat juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai terjadinya banjir lahar lanjutan yang terus mengancam, terutama masyarakat yang dekat dengan bantaran sungai dan penambang pasir yang berada di aliran sungai.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Yantina Debora
Masuk tirto.id







































